Izinkan Aku Juga Mencemburuimu, Ukhti.

Aku cemburu padanya yang memiliki kualitas ibadah yang baik. Ibadah wajib selalu dimaksimalkan. Ibadah sunnahnya tak pernah ketinggalan.
Aku cemburu padanya yang setiap kali nama Allah disebut, hatinya bergetar. Adzan berkumandang ia segera bersiap ke masjid. Lafadz Quran tak henti-henti keluar dari mulutnya.
Aku cemburu padanya yang selalu menjaga kesuciannya. Air wudhu selalu menempel pada tubuhnya. Khimar dan Hijab selalu menutup rapi badannya. Pandangannya selalu ia jaga. Begitu pula lisannya.
Aku cemburu padanya yang selalu mengasihi orang tuanya. Mengikuti mereka pada jalan yang benar, meluruskan dengan penuh kelembutan apabila ada kekurangan. Berbakti dengan cinta. Dan enggan berkata “ah”.
Aku cemburu padanya yang kehadirannya mampu menghadirkan banyak kebaikan disekelilingnya. Yang dimana ada majelis ta’lim disitulah dia ada. Yang ada atau tiadanya dia membawa pengaruh bagi lingkungannya.
Aku cemburu padanya yang selalu bersyukur atas nikmat Allah dan tidak menyia-nyiakannya. Dimana Alhamdulillah adalah ucapan sehari-harinya. Dan ia begitu peka melihat tanda-tanda kebesaran Allah.
Aku cemburu padanya yang senantiasa beistighfar. Mengingat semua dosanya, bertaubat, dan menjadi lebih baik disetiap harinya.
Aku cemburu padanya yang sudah mempersiapkan pertemuannya dengan Allah menjadi pertemuan yang Agung. Sehingga amalnya dapat menjadi tabungan paling menjanjikan. Hingga Allah ridho kepadanya.
Ya Allah,
apabila bidadari-bidadari surga saja cemburu pada wanita yang seperti ini,
bagaimana bisa aku tidak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.