Ayah, hari ini aku bingung. Sebab aku tak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku. Tapi aku merasa hal ini terlalu tabu untuk kita perbincangkan. Ayah pernah bilang kalau ini memang sudah masanya. Tapi aku sendiri tidak sampai hati menyadari bahwa sebentar lagi laki-laki yang kutemui pagi hari bukan hanya Ayah.
Ayah, tidak kah Ayah mengingat pertama kali ayah merasakan gemetar karena timbul mahabbah ketika melihat Mama? Ayah sendiri yang bilang, bahwa Mama begitu menarik. Kecil dan lincah. Persis seperti aku ya?
Ayah, aku ingin tahu bagaimana awal mula kalian berkenalan. Kata Mama, teman Mama pernah naksir Ayah. Apa saat itu Mama juga sudah memiliki ketertarikan pada sosok Ayah? Apakah kalian saling mengatupkan tangan di depan dada dan bertukar nama? Atau kah tidak pernah ada perkenalan? Skenario Allah yang indah membuat kalian mengetahui nama masing-masing tanpa perlu bertanya. Begitu kah?
Ayah, apakah Ayah mengingat bagaimana perjuangan mendapatkan Mama? Bukan kah dahulu Mama banyak yang naksir. Anak juragan minyak, anak teman Buya, belum yang lain lagi. Tapi bagaimana bisa Ayah begitu percaya bahwa Ayah adalah yang terbaik untuk Mama, begitupun sebaliknya.
Ayah, bukan kah banyak pula perempuan yang mengajukan dirinya kepada Ayah? Kata Mama, mereka cantik-cantik (Aku tersenyum kecil saat mendengar mama bercerita soal ini. Sebab, bagaimanapun Mama pasti sebal ada perempuan cantik menyukai Ayah) Lalu, tidak kah Ayah bimbang memilih mereka? Atau kah Ayah pernah menentukan pilihan hingga akhirnya pilihan itu jatuh kepada Mama?
Ayah, apa kata Bapak dan Ibuk saat pertama kali Ayah membuka perbincangan soal munakahat? Apakah beliau sepenuhnya memberikan kewenangan pada Ayah untuk memutuskan segala sesuatunya? Atau kah Ayah mengantongi “Ya, ini sudah saatnya. Kamu hendak melamar siapa?” setelah melewati berkali-kali perbincangan?
Ayah, bagaimana perasaan Ayah saat pertama kali menghadap Buya? Takut kah? Apakah badan Ayah gemetar? Apakah jantung Ayah berdegup kencang? Adakah salah tingkah yang ayah perbuat? Bukan kah Ayah dan Mama merupakan orang terpandang dari masing-masing prinsip? Bapak sangat kental dengan dunia Muhammadiyah. Begitu pula Buya dan dunia Nahdatul Ulama. Tidak kah kalian berpikir hal itu hambatan? Atau kah kalian berpikir selama bersama dan saling mengerti, maka semua akan baik-baik saja? Apa yang Ayah katakan pada Buya hingga pada akhirnya merestui? Lama kah proses itu berlangsung?
Dan…
Ayah, tidak kah Ayah rindu ingin mengulangi peristiwa itu? Tidak kah Ayah ingin berada pada sudut pandang Buya? Melihat laki-laki di hadapan Ayah gemetar, takut, tapi tetap berusaha mengucap kalimat terbata-bata. Akan kah nanti pintu hati Ayah terketuk dan terbuka baginya?
Semoga Allah senantiasa mendampingi raga, mendinginkan kepala, dan melembutkan hati kita kala menentukan keputusan ya, Yah. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.