H-9

Bagaimana rasanya menurutmu?Sedih kah?
Khawatir?
Gelisah kah?
Atau kamu justru merasa senang?
Setiap hari. Setiap satu malam terlewati. Aku merasa,
nelangsa.
Aku tidak cukup pandai untuk membuatmu mengerti bagaimana rasanya.
Aku tidak suka mendengarmu membicarakan hal itu dengan mata berbinar
Aku tidak suka melihatmu memesan tiket
Aku tidak suka berdiskusi mengenai apakah kamu akan membeli mesin cuci atau tidak, berapa uang yang akan kamu butuhkan dalam sebulan
Aku tidak suka menyadari bahwa kamu akan jauh
Tapi bukan kah aku harus?
Aku harus menerima fakta bahwa nanti aku tidak akan bisa serta merta ingin bertemu atau nekat menemuimu.
Aku sangat membenci diriku yang begini. Yang cengeng. Yang ‘terlalu’ kepadamu.
Aku membenci diriku yang sibuk, sampai aku masih selalu merasa kekurangan waktu denganmu.
Aku membenci diriku yang pemarah, padahal alasan marahku cuma karna aku ingin bertemu.
Aku membenci diriku yang penuh penyesalan. Mengacuhkanmu saat malam, tapi berburu maafmu di pagi hari.
Aku membenci diriku yang menyakiti hatiku sendiri, sekaligus menyakitimu.
Aku membenci diriku yang ketakutan bahwa sikapku membuatmu tak nyaman.
Aku membenci diriku yang sensitif dan banyak mau. Yang membuatmu harus menerka apa keinginanku.
Aku membenci diriku yang selalu berpikir bahwa kamu yang jauh artinya kamu semakin bisa kapanpun meninggalkanku.
Aku membenci diriku yang berada pada peringkat paling akhir dalam daftar perempuan baik yang pantas memilikimu.
Aku membenci diriku yang bodoh karena aku membenci diriku sendiri.
Kalau nanti kamu sudah baca tulisan ini. Aku tidak mau ditenangkan. Aku tidak mau kamu berkata “It’s okay. Kita kan selalu belajar lebih baik. Ya kan?”
Karena aku 100% mengetahui ini semua untuk kebaikan.
Karena aku 100% memahami ini akan menjadi pembelajaran super penting dalam hidup kita masing-masing.
Aku cuma ingin kamu tahu.
Sayang, aku nelangsa.
Aku menjalani hari-hariku dengan rasa sedih dan cemas yang menjadi-jadi.
Jangan minta maaf.
“Terimakasih miw sudah sangat menyayangi dan sedih kita mau jauh. Aku juga kok. Sungguh. Miw semangat nanti kan sebulan sekali aku pulang. Kalau aku pulang kita jalan-jalan, nonton film, masak scrambled egg, terus ngobrol di rumah yang lama ya. Pokoknya kalau aku di Surabaya kita harus ketemu yang high quantity and quality. Meskipun kita jauh nanti tiap hari aku telepon. Jangan ketiduran lho ya. Miw nanti kalau aku nanya lagi cara cuci baju boleh ya? Aku sudah lupa lagi. Miw jangan bosen nanti kalau aku cerita soal kerjaan. Miw juga ceritakan kuliahnya gimana. Kalau miw sekali-kali mau main ke Jakarta boleh lho. Tapi jangan sering-sering. Kasian miw perjalanan jauh. Aku aja yang ke Surabaya. Miw jangan nangis. Kita pasti bisa. Banyak berdoanya, biar cepat barengan kitanya. Cup cup cup, aih Miw kok tetap lucu ya meskipun nangis gini.”
Aku ingin banyak disadarkan bahwa keadaan ini benar-benar okay untuk kita berdua. Ingin dipahamkan bahwa jarak jauh pun tetap bisa membuat kita tetap menyenangkan bagi satu sama lain.
*Kamu seharusnya tahu, apa yang saat ini paling kurasakan. Perasaan yang tumben sekali tidak kutuliskan satu kata pun di sini.
Ngomong-ngomong, terima kasih banyak ya. Terimakasih sudah lelah setiap hari untuk memberikan usaha yang paling baik untuk kita.
Aku merasa malu. Capekku cuma capek hati. Tapi kamu? Badan, otak, hati, capek semua.
I always can’t thank you enough.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.