Jakarta dan Segala Cerita di Dalamnya

Ini ketiga kalinya aku ke Jakarta.
Kali pertama adalah ketika aku mengikuti suatu kegiatan yang diselenggarakan penyedia beasiswa.
Pada saat itu, satu hal yang paling aku ingat adalah saat aku menyaksikan Kopaja berkendara di atas fly over. Banyak sekali penumpangnya hingga aku merasa mungkin sekali mereka bisa jatuh tiba-tiba.
Sejak saat itu, aku merasa…
Ibukota ini kejam.
Salah memang apabila dengan melihat Kopaja dan desakan penumpangnya saat itu saja aku sudah menjustifikasi bahwa Ibukota ini kejam. Tapi juga tidak ada hal-hal sepengelihatanku yang menunjukkan bahwa Jakarta adalah kota yang menyenangkan untuk disinggahi. Terlepas dari temperaturnya yang tidak seterik Surabaya, aku bisa menyimpulkan satu hal, Aih, aku tidak mau tinggal di Jakarta.
Kali kedua mengunjungi kota ini adalah ketika aku bersama teman-teman kampus satu angkatan melaksanakan studi ekskursi. Kalau yang ini, menyisakan kesan yang cukup baik untuk Jakarta. Aku menemukan bakmi terenak yang tidak ada di Surabaya, bakmi GM.
Tapi lagi-lagi, Jakarta seakan tidak mau aku tidak memperhatikan sisi buruk kota ini. Menurut Google Maps, dari lokasi hotel menuju GI sekitar 30 menit. Dan kami sampai setelah 1 jam perjalanan. Lagi-lagi aku menggerutu, Aih, aku tidak mau tinggal di Jakarta.
Maka kali ini, adalah kali ketiga. Aku menuju Jakarta dengan membawa setumpuk dokumen persiapan pendaftaran S2 sekaligus membawa rindu. Untuk ia yang telah meninggalkan Surabaya lebih dulu.
2 minggu berselang dari kepergiannya, rasanya tidak sehampa yang aku kira. Tapi kalau ada yang bilang jarak tak berarti apa-apa ketika seseorang berarti segalanya, aku akan menyalahkan total. Karena bagiku, justru karena seseorang sangat berarti, jarak itu harus dilipat berkali-kali sampai tidak bisa diukur lagi. Dan aku tidak mau bohong, aku rindu, segalanya tentang dia, bukan mengenai Jakarta. Maka tak apa bagiku menyaksikan lagi sumpeknya ibukota, asalkan bisa bertemu dan bersua.
Sudah ku putuskan. Aku akan mengikuti seleksi masuk universitas pada tanggal 21 Mei. Dan tidak tanggung-tanggung​, aku memilih tanggal 11 Mei untuk menjadi tanggal keberangkatanku. Aku ingin membayar perpisahan yang tidak sebentar dengan pertemuan yang melegakan. Yang melunasi percakapan-percakapan yang tertangguhkan.
Berangkat seusai dhuhur dari rumah menuju Stasiun Gubeng aku diantar laki-laki nomor 1 di hidupku, Ayah. Sembari menunggu Kereta Jayabaya sampai, aku menceritakan teman-temanku, rencana studiku, bagaimana nanti aku di Jakarta, dan banyak hal lainnya. Tak lama setelah memasuki peron, aku berkata dalam hatiku sendiri, Jakarta, beberapa jam lagi akan ku pastikan bahwa membayar lunas rindu-rindu ini. Dan aku tidak keberatan untuk menggerutu sekali lagi bahwa aku tidak mau tinggal di Jakarta, bisa cepat tua!
Maka ketika aku melihat sekeliling, seorang anak kecil yang menggoda ibunya dengan terus menerus menarik gantungan kunci yang menggantung di tas sang ibu, dua orang bapak-bapak yang membicarakan bisnisnya, perempuan yang berangkat sendirian–seperti aku–sambil mendengarkan musik lewat earphone-nya, aku kemudian bertanya-tanya apakah yang membawa mereka harus menuju ibukota? Adakah yang juga membawa rindu yang berlebih seperti aku?
Perjalanan Surabaya-Jakarta lama sekali. Hampir 12 jam. Kebanyakan aku habiskan dengan tidur sambil mendengarkan playlist di hand phone-ku atau membaca buku yang tak lama kemudian aku merasa bosan.
Di samping dan depanku terdapat keluarga kecil yang berangkat dari Bojonegoro dan harus menuju Jakarta karena sang bapak dinas di daerah Tangerang. Bawaan mereka yang banyak membuat kedua kakiku tidak bisa diluruskan untuk waktu yang cukup lama. Tapi tak apa, mereka membawa makanan ringan buatan sendiri yang cukup enak rasanya.
Tak ada yang menarik sepanjang perjalanan. Sawah yang terhempas luas, langit yang biru, beberapa binatang ternak atau anak kecil yang saling berlarian, pemandangan yang umum sebagaimana orang berpergian semestinya. Untung saja ada yang menemaniku lewat beberapa kali chat. Ah, ini semakin membuktikan bahwa rindu memang tidak pernah bisa dibayar dengan rentetan kata dari aplikasi pada ponsel.
01.34 WIB, begitu jam kedatangan yang tertera di tiket keberangkatanku. Tetapi tidak sesuai dengan jam yang sesungguhnya, aku sampai di Stasiun Pasar Senen Jakarta pada pukul 01.45 WIB. Sebal, masinis itu harus membayar 11 menit pertemuanku yang disita olehnya 🙁

Belum sampai melihat bangunan kota ini, sudah ada hal lain yang membuatku harus menggerutu sekali lagi. Mengapa stasiun ini harus memiliki banyak tangga yang tidak memiliki akses untuk koper-koper penumpang?! Sambil tergesa-gesa menuju gerbang kedatangan, hatiku berdegup kencang. Seakan-akan ini adalah pertemuan pertama kami. Seakan-akan​ ini di Universitas Trunojoyo Madura saat aku pertama kali meminta tolong padanya untuk menjemputku. Seakan-akan kami dua orang yang akan mengulang peristiwa-peristiwa yang menjadikan kami saling jatuh hati. Aku tidak bohong. Degupnya tidak mampu aku kendalikan…
…apalagi ketika wajah itu benar-benar aku saksikan. Tepat di depan mataku. Menatapku lurus seakan-akan hanya aku yang melewati gerbang kedatangan dari Surabaya. Tatapan yang itu, yang seteduh itu yang selalu membuatku merindukannya. Aku meloncat kegirangan. Seperti anak kecil yang diperbolehkan membeli permen kesukaannya padahal baru pertama kali meminta.
“Mas, aku rindu!”
Dan dia menyambutku dengan tenang. Padahal aku tahu hatinya juga membuncah. Sambil tersenyum dia menatap mataku dan berkata,
Assalaamu’alaikum.”
Rasanya seratus kali lipat lebih menyenangkan dibandingkan hanya mendengar rentetan kalimat salam itu melalui telepon atau video call.
Wa’alaikum salaam wa rahmatullaah wa barakaatuh.”
“Selamat datang di Jakarta.”
“Aaa, ya terimakasih.”
“Senang?”
“Hiii ya dong.”
Kami berjalan menuju area parkir motor. Aku menyaksikan motor barunya untuk pertama kali.
“Bagus.” Ujarku singkat.
Melewati jalanan ibukota dini hari begini, membuatku berpikir mengenai banyak hal. Membuyarkan lamunanku, ia bertanya,
“Gimana Jakarta?”
“Gimana apanya?”
“Ya kelihatannya gimana?”
“Hmm nakutin.”
“Haha, kok nakutin?”
Nggatau kayak langsung kelihatan aja gitu. Hii Jakarta keras.”
“Hahaha, iya aku juga pas sampe mikir ibukota iki kejam cak.”

Hari-hari di Jakarta menyenangkan. Terlampau menyenangkan malah. Kalau rinduku bernilai 1 maka perjalanan selama di Jakarta mammpu melunasi 0.9/1-nya–Habis bagaimana lagi, rinduku tidak pernah habis!

Selama di Jakarta aku beberapa kali melakukan rutinitas yang kini amat kurindukan.
Aku merindukan kamar–yang aku akuisisi menjadi milik–ku. Aku rindu membereskannya. Aku rindu menempatkan tubuhku se”sesuai” mungkin di kasur mungilnya. Aku rindu memanaskan kaktus setiap pagi. Aku rindu menghirup udara pagi Jakarta. Aku rindu pemandangan pagiku.
Aku rindu Pejaten Village. Aku rindu kebodohanku menggunakan sandal hotel saat pergi ke sana 🙁 Aku rindu ada yang tidak peduli aku menggunakan apa dan membuktikannya dengan tetap menggandengku.
Aku rindu jalanan Jati Murni. Aku rindu harus berpura-pura menoleh ke kanan saat melewati suatu gedung besar. Aku rindu ia yang melewati gedung besar itu bersamaku.
Aku rindu belajar untuk tes UI–yang ternyata super susah 🙁 Aku merindukannya yang menyemangatiku, yang selalu bilang “Gagal itu nggak apa-apa banget, Miw.”
Aku rindu makanan mahal Jakarta yang tidak sesuai seleraku. Aku rindu terheran-heran karena nasi, telor dadar, dan sop harus dibeli seharga sebelas ribu. Aku rindu sereal Moru-moru saat membelinya di Sweet Spot. Tapi aku merindukan Sweet Spot. Aku rindu seseorang mengambil fotoku saat di sana.
Aku rindu Masjid Istiqlal. Aku rindu mengomentari interiornya. Aku rindu menoleh ke kanan dan mendapati ada seseorang di sana. Aku rindu menyimpan sepatuku di dalam tas ransel. Aku rindu tempat wudhunya. Aku rindu mengitarinya dua kali untuk menuju Mangga Dua.
Aku juga merindukan Mangga Dua. Meskipun super lelah. Aku rindu melihatnya bahagia. Aku senang menatapnya saat dia menatap rentetan barang-barang yang tidak murah itu. Aku sedikit sebal, tapi aku senang aku bisa sedikit mengontrol dan bersabar akan kebiasannya. Tapi bagaimanapun harus tetap diubah ya!
Aku rindu menonton One Piece–meskipun ini bisa kulakukan di Surabaya. Aku rindu berbagi kabel earphone. Aku rindu bertanya kalau aku lupa nama salah satu karakternya.
Aku rindu sore di Jakarta. Aku teramat merindukannya. Aku rindu tatapan lelah yang membutuhkan tempat berteduh. Dan aku, cuma aku yang menyediakannya.
Aku merindukan UI (padahal aku bukan mahasiswanya heu). Aku rindu Depok. Aku rindu ada yang bercerita padakh bahwa ia membuat kaki seekor kucing tercepit di pintu kamar mandi :))
Aku rindu mencoba bersabar dan memendam segala bentuk kode-kode yang siap kuluncurkan, atau jurus ngambek agar dikejar (?) Aku rindu memahami dan mengerti. Memahami betapa berat pekerjaannya.
Aku rindu Taman Mini Indonesia Indah. Aku rindu bus kelilingnya. Aku rindu otak-otak Singapura-nya. Aku rindu maaf dari seseorang yang begitu sabar menertawaiku ketika aku salah memberi petunjuk jalan. “You had one job, Miw.” Begitu katanya.
Aku rindu menatap dalam mata seseorang. Atau tentang merasakan kehangatan sebuah pelukan. Juga tangisan-tangisan menjelang kepulangan. Penyesalan-penyesalan soal hadirnya rasa tidak nyaman.
Aku rindu segalanya. Tentang Jakarta. Yang mencipta banyak kisah tentangnya.
Tapi aku tidak merindukan macetnya, tidak merindukan betapa aku membenci Jakarta–kota ini membuat kami jauh. Tidak pula merindukan keharusannya untuk tinggal di sana, sementara aku harus kembali ke Surabaya.

Sampai di Surabaya, kota kelahiran, tempat tumbuh dan berkembang, tidak pernah kutemukan alasan untuk mengeluhkan eksistensiku di sana.
Aku telah menyampaikan banyak hal ketika sampai di stasiunnya.
Menyampaikan salammu pada hawa dingin malamnya.
Menyampaikan rinduku pada kerlip lampu jalan raya.
Telah kutuntaskan juga memahami detailnya.
Sudut demi sudut kota.
Dan telah kurampungkan urusan hutang pertemuan pada keluarga.
Kubayar lunas dengan kebahagiaan sahur pertama.
Tetapi aku hampa.
Sebab ratusan kilometer jarak tercipta.
Kata yang sama pada alamat rumah kita telah tiada.
Tidak kah itu membuatmu khawatir?
Karena rinduku tak pernah habis diwarnai senyum getir.
Ia tidak akan pernah lunas.
Tidak akan pernah.

Tapi kamu jangan takut. Kelak ketika kita benar-benar bersama, aku tidak akan pernah bosan menatapmu. Sebab rindu ini akan aku ingat baik-baik. Akan aku nikmati agar aku menyimpan dengan rapi setiap detailnya.
Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan melirik laki-laki lain. Atau membayangkan bagaimana bila aku bersama yang selain kamu setiap kali kita bertikai. Karena lewat rindu yang kali ini aku merasa yakin saja. Yakin saja kalau aku tidak akan pernah merasakan rindu yang begini dengan lainnya. Yakin saja kalau aku benar-benar menginginkan kita saja. Kamu, aku, dan rasa saling tercukupi antara kita berdua.
Wkwk, i know it sounds so cheesy but that is okay, right? We do love cheese 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.