Menjalani Kehidupan yang Tenteram

Aku berusaha mencari kata akhir yang pas pada judul untuk benar-benar menggambarkan apa yang aku inginkan saat ini. Tenang? Menyenangkan? Melegakan? Dan terpilih lah kata itu. Tenteram. Aku mendamba kehidupan yang tenteram. Yang tak banyak bising lalu lalang saat temaram. Mereka lah penyebab segala kegelisahan. Membuatku tak nyaman. Sungguh aku seperti... ....bagaimana menyebutnya? Lelah? Dengan … Continue reading Menjalani Kehidupan yang Tenteram

Jangan, ibu. Jangan berteriak kepadaku. Bukannya malah aku mau. Diriku mendengus justru. Jangan, ibu. Jangan nodai kesabaranmu. Sekali-kali pujilah aku. Kalau aku sedang menurut padamu. Jangan, ibu. Aku tak mau melihatmu begitu. Lembutkan suaramu. Dan bubuhkan 'tolong' dalam perintahmu.

Sebab mungkin mereka adalah pencuri yang ulung. Mengambil paksa percakapanmu yang tanggung. Kemudian mereka sengaja menikmatinya. Memperhatikan kamu yang sengsara. Tiada maksud tertentu. Cuma ingin mencuri rindumu.

Kalau memang kamu sedang rindu Aku tidak mau lari dipikiranmu Capek – Aku sendiri sudah merasa Waktu kamu yang lari di pikiranku – Aku mau ditelepon saja Kalau kamu sempat Dan kalau kamu mau Ya sudah Gitu saja – Salam rindu, Aku.

Demi menyadarkanmu, Almira.

Demi menyadarkanmu, Almira. Seorang wanita harus banyak mengelus dadanya saat kamu tidak menuruti perintah–yang sebenarnya cukup​ ringan untuk dilakukan. Semata agar kamu paham dan kelak menyadari bahwa ia tidak minta materi, tidak minta kekayaan, ia tidak minta hal-hal paripurna seperti yang kamu kira. Ia hanya minta kamu tumbuh menjadi putri yang sesabar dan setangguh dirinya. … Continue reading Demi menyadarkanmu, Almira.

Menggenggam Sang Adam (2)

Genap setahun beberapa hari aku menikmati diriku yang banyak menyelami tentangnya. Memahami cara berpikirnya tidak serta merta bisa ku khatamkan dalam waktu satu atau dua hari. Malahan, hingga kini aku belum memiliki gambaran kapan misi penyelaman ini akan selesai. Karakternya terlalu misterius, sebab ia selalu menunjukkan hal-hal baru yang tidak pernah kusadari bahwa aku belum … Continue reading Menggenggam Sang Adam (2)

Menggenggam Sang Adam

Kalau orang-orang bilang wanita adalah makhluk yang lebih mudah jatuh cinta daripada pria, mungkin yang sedang mereka bicarakan adalah aku. Tapi kita tidak pernah menyebutnya demikian–sebab kita lebih mengenal frasa "jatuh hati". Sejatinya, semua wanita menyukai pengulangan. Mengulangi momen-momen berharga dalam hidupnya, mengulangi memuji atau mendengarkan pujian, mengulangi cerita-cerita menyenangkan walaupun yang mendengar sampai bosan, … Continue reading Menggenggam Sang Adam