Ceracau #5 Pria Fana

Aku mendamba pria yang senantiasa mengingatkanku Mencari aku yang tersesat di hutan abu-abu Kemudian ia meraihku dengan iman Mengajakku bersama-sama menuju kebaikan Membenarkan perilakuku yang salah Mewarnai hari-hariku yang lelah Tanpa perlu membuatku sakit hati Tanpa perlu memaki Tanpa perlu mencaci Tanpa membuatku merasa tak punya harga diri Yang tuturnya lembut Yang ekspresinya tak mudah … Continue reading Ceracau #5 Pria Fana

Ceracau #4 Mencipta Bahagia

Kemarin, aku harus menjalani sebuah ujian mata kuliah–yang sedari dulu sesungguhnya aku tak cukup memahami ilmunya dan belum ada niatan memperdalamnya. Materinya tak banyak, tapi cukup susah untuk aku mengerti. Tapi malam sebelumnya ketika aku memutuskan untuk mulai membuka buku catatan, aduhai rasanya tak kuat mataku seakan-akan keinginannya untuk terpejam kuat sekali. Akhirnya aku menyerah … Continue reading Ceracau #4 Mencipta Bahagia

Ceracau #3 Izin Bersedih

Ibu, hari ini aku minta izin bersedih. Sebentar saja, aku ingin benar-benar menikmati pedih. Meski aku tahu kau tak kan serta-merta mempersilahkanku, tak apa bu, aku akan tetap melakukannya. Membiarkan diriku hanyut dibawa sungai penuh memoar tentang mereka. Aku ingin sekali bu, diam-diam pergi entah kemana. Duduk sendirian sambil menatap entah apa. Yang jelas pikiranku … Continue reading Ceracau #3 Izin Bersedih

Ceracau #2 Berbicara Bahasa Langit

Pagi ini–lagi-lagi dan untuk kesekian kalinya–ada hal-hal tak biasa yang muncul pada linimasaku. Cukup menarik sebab itu hanya sebuah gambar bertuliskan kalimat satu, tapi maknanya menusuk sampai ke ulu. Tertulis di sana "Belum benar-benar menginginkan sesuatu, seseorang yang tidak menyebutkan keinginannya di sepertiga malam sendu." Meski tak sama persis, kalau kuingat-ingat kurang lebih begitu. Hal … Continue reading Ceracau #2 Berbicara Bahasa Langit

Ceracau #1 Hari yang Indah Usai Patah Hati

Hari ini, adalah hari pertama aku kembali menjadi manusia biasa. Namun bukan berarti aku tidak lagi bersyukur seperti sebelumnya. Aku hanya ingin mengganti suasana. Mengisi platform ini dengan ihwal-ihwal kecil–tapi banyak–yang makin lama kukuasai makin tak bisa. Oleh karena itu, sembari menunggu tantangan tiga puluh hari menulis selanjutnya–sekaligus ketika aku buntu tak tahu menulis apa–aku … Continue reading Ceracau #1 Hari yang Indah Usai Patah Hati

Alhamdulillaah #30 Dijemput Allah

Bagaimana? Sudah cukup ngeri membaca judulnya? Sama. Saat menuliskan ini, aku bergidik membaca ulang kalimat awal tulisanku sendiri. Dijemput Allah? Bukankah itu tandanya seperti sedang menunggu dijemput kematian? Bukankah Allah menjemput kita apabila waktu kita sudah habis? Maka apa artinya dijemput oleh Allah? – Beberapa waktu kebelakang, aku merasa jauh sekali dengan Allah. Jauh dari … Continue reading Alhamdulillaah #30 Dijemput Allah

​If we need to separate, it's because we have to make sure we are going to be better for ourselves. To recheck our intention, our dua, our salah, our quantity and quality of fast, and our closeness to Allah. Both of us need to do that.

Alhamdulillaah #29 Para Pengingat Tingkat Keimanan

Beberapa waktu ini beberapa orang secara misterius menghubungiku. Bertanya mengenai hal-hal yang sebenarnya aku juga belum cukup tahu. Soal Allah, soal hijrah, dan beberapa soal majelis ilmu. Mereka datang dari penjuru yang tidak aku duga. Ada yang merupakan teman dari temanku. Mengetahuiku sejak aku di wisuda. Kemudian merasa takjub karena ternyata wisuda tak berkebaya–aku menggunakan … Continue reading Alhamdulillaah #29 Para Pengingat Tingkat Keimanan

Alhamdulillaah #28 Memilih Menjadi Manusia Terbaik

Kalau dulu saat dilahirkan kita tahu akan jadi seperti apa kita saat ini, kira-kira apa yang akan kita upayakan? Menjalaninya sama saja dan bersantai-santai, atau justru berusaha dengan maksimal agar kita selalu berada dalam jalan kebaikan? Kalau dulu sebelum mengenal banyak orang kita tahu dengan siapa kita memilih berteman, kira-kira siapa yang akan kita jadikan … Continue reading Alhamdulillaah #28 Memilih Menjadi Manusia Terbaik