Alhamdulillaah #51 Bahan Dongeng Masa Depan

Aku memiliki beberapa teman yang baik hatinya. Kalian pasti begitu juga ‘kan ya? Mereka-mereka yang mau berbagi makanannya. Pun begitu pula dengan cerita hidupnya.
Aku memiliki beberapa teman yang jahil sifatnya. Sampai sudah hafal bagaimana ia akan berulah. Sebab usilnya tak satu atau dua kali saja. Tapi sampai membuat orang menangis pun pernah.
Aku memiliki beberapa teman yang tak kentara hebatnya. Tersembunyi di antara peringainya yang biasa. Bahkan cenderung suka bercanda dan tertawa. Tapi terhadap bangsa rasa khawatirnya tiada terkira.
Aku memiliki beberapa teman yang kuat raganya. Seakan-akan dierjang ombak ia tak akan gentar. Sudah mereka daki gunung-gunung terbaik Indonesia. Mendekati alam dan berburu bermacam pendar.
Aku memiliki beberapa teman yang berbeda pemikirannya. Mereka kekeuh pilih B dan aku berjuang pertahankan A. Tapi kemudian atas hasil diskusi kami oke-oke saja. Tak ada percekcokan berarti yang dibawa-bawa nantinya.
Aku memiliki beberapa teman yang meragukan. Apa benar nantinya bersama mereka aku bisa bekerja bersama? Pasalnya mereka semua orang mengagumkan. Apa yang dikatakan menjadi kiblat bagi masing-masing lingkungannya.
Aku memiliki beberapa teman yang bercandaannya tak lucu. Tapi entah mengapa kami tertawa melulu. Dan bahan guyonan itu justru abadi. Diulang-ulang terus berhari-hari.
Aku memiliki beberapa teman yang suka mengejar gratisan. Berhemat adalah alasan nomor satu. Dan yang begitu itu kami suka ikut-ikutan. Sampai-sampai ada yang seakan jadi ambasador merek tertentu.
Aku memiliki beberapa teman yang jago menulis. Kalau memuji membuatmu teriris. Kalau menyindir tak kalah sadis. Tapi mereka konsisten menulis kebaikan. Hal-hal macam ini diam-diam seakan menjadi perlombaan.
Aku memiliki beberapa teman yang curahan hatinya tak berakhir di website pribadi. Suatu kebanggaan memang keresahannya justru jadi karya tulis untuk negeri. Aku turut senang karena dengan itulah aku dibayari. Kami semua pernah ditraktir karena–katanya–ia pernah janji. Padahal sungguh, aku sudah lupa jauh-jauh hari.
Aku memiliki beberapa teman yang master sekali mengutak-atik ornamen. Aku mah yang cuma bisa beberapa tools Photoshop merasa super cemen. Baru diminta tolong lima menit yang lalu. Hasilnya dia bilang “Maaf ya jadinya sederhana gitu.” Padahal nyatanya tak begitu. Haaa itu gimana cara buatnya, batinku.
Aku memiliki beberapa teman yang kisah hidupnya mengejutkan. Sebab tak terpikirkan masalahnya hingga pada tahap demikian. Somehow sebenarnya cukup terlihat sih dari bagaimana ia berkelakuan. Tapi tetap menarik soal bagaimana Allah ingin memberi mereka masing-masing pelajaran.
Aku memiliki beberapa teman yang–menurut pengakuannya–selalu dijadikan objek bully. Aku juga pernah ikut-ikutan beberapa kali. Untuk itu aku minta maaf dengan sepenuh hati. Habisnya dia memang lucu dan bully kami tak ada niat menyakiti. Tapi aku tahu itu tetap suatu kesalahan. Jadi aku memang sudah berniat menghentikan.
Aku memiliki beberapa teman yang totalitas dalam berteman. Seakan-akan masalah orang adalah prioritas meski ia  juga punya kepentingan. Cuaca apapun mereka akan mendatangi yang kesusahan. Sementara balasannya kadang segelas es teh beserta sepiring makanan. Bukan berarti ia tak tulus memberi pertolongan. Yang ditolong juga baik hatinya keterlaluan.
Aku memiliki beberapa teman yang berat bacaannya. Aku tak mengerti bagaimana pikiran mereka kuat menampungnya. Sementara aku suka yang ringan-ringan saja. Pasalnya menyelesaikan buku–yang hingga kini tertumpuk–saja aku sudah bersyukur luar biasa. Mengetahui hutangku terlunasi satu per satu aku merasa lega.
Aku memiliki beberapa teman yang kurang kerjaan. Di tahun terakhirnya masih sempat-sempatnya memikirkan kondisi banyak orang. Soal bagaimana nanti keluarga mahasiswa ini akan bertahan. Soal bagaimana orang-orang baik yang tersisa tetap mau berjuang.
Aku memiliki beberapa teman yang ceritanya tak akan basi. Kisah-kisah kami tak akan lekang digerogoti zaman. Mereka teman-teman yang membagi dan menebarkan ekspresi. Terima kasih sudah memberiku bahan dongeng untuk masa depan.
Sehingga kalau nanti buah hatiku bosan kuceritakan tentang panglima perang atau sahabat-sahabat nabi, aku tak harus memaksakan diri menceritakan kebohongan seperti kancil yang mencuri. Akan lebih indah bila aku bercerita soal kalian. Agar pada saatnya kalian bertamu ke rumahku aku bisa mengatakan, “Ini lho sayang, orang-orang hebat yang kemarin bunda ceritakan.”

Ditulis untuk Pemandu Ekspresi.
Kalian bebas memilih menjadi orang-orang pada bait yang mana.
Terima kasih sudah hadir ya.
Terima kasih sudah ada.
Terima kasih sudah menerimaku apa adanya.
Beserta seluruh hasratku terhadap jajanan milik kita–yang selalu kunikmati seakan-akan milikku saja.

One thought on “Alhamdulillaah #51 Bahan Dongeng Masa Depan

Comments are closed.