Alhamdulillaah #52 Merendah Serendah Pribumi

Istilah pribumi adalah julukan yang disematkan pada mereka-mereka penduduk asli. Pasalnya, dahulu ada orang-orang dari negara lain yang datang ke negeri kami. Tapi lambat laun kata ini seakan bukan hanya elemen KBBI. Tapi juga soal bagaimana menjadi “pribumi” kami merasa menjiwai.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa rakyat Indonesia adalah yang paling ramah peringainya. Dahulu seorang guruku pernah dengan sarkas berkata, “Mental kita memang masih dibawah. Lihat bule kita langsung kerdil rasanya,” Tak sampai di situ saja, beliau melanjutkan kalimatnya, “Makanya kita suka menunduk malu. Suka menolong seakan kita pembantu. Jelas ada baik dan buruknya. Soal mindset rakyat ke depan harus dipikirkan jua.”
Lama sekali aku mencerna perkataan beliau. Pasalnya aku jarang mendengar begitu dalam dalam meracau. Kupikir-pikir ada benarnya juga. Pasalnya bertemu orang-orang kulit putih lima menit saja aku sering tak tahu lagi mau bicara apa. Bukan karena tak ada kompetensi. Lebih kepada sengaja merendah diri.
Bicara soal pribumi sebenarnya tak sebegitu buruknya. Aku tidak akan bilang kami tak ada nilainya. Apalagi bicara bahwa kami lebih rendah dalam kasta. Sebab tingkatan itu tak pernah ada. Di mata Yang Maha Menilai kami semua adalah sama.
Membahas penduduk asli justru malah banyak pelajaran yang diberi. Pribumi adalah mereka yang adanya saling mencintai. Terhadap manusia maupun alam di ibu pertiwi. Pribumi adalah yang mentanya bukan ditempa satu dua kali. Sebab menjadi pribumi adalah soal hati dan berkelakukan yang manusiawi.
Bukan pribumi namanya jika menodai undang-undang sendiri. Bukan pribumi namanya jika mengeruk habis kekayaan alam ini. Bukan pribumi namanya bila serakah memakan rakyat yang menderita sehari-hari. Tapi apakah “bukan pribumi” hanya tentang hal-hal yang dilakukan oleh penguasa negeri?
Ternyata tak juga. Ternyata label “bukan pribumi” bisa tersemat lewat hal paling sederhana. Bukan pribumi namanya bila sampah masih dibuang sembarangan. Bukan pribumi namanya bila lampu merah masih diterobos tidak karuan. Bukan pribumi namanya bila antri tak bisa. Bukan pribumi namanya bila merokok tak tahu tempatnya. Atau kalau bisa, sungguh, aku minta tolong, tak usah merokok saja.
Sebab semuanya itu bukan tentang diri sendiri. Menjadi pribumi artinya menjadi elemen rakyat seantero negeri. Menjadikan ramah sebagai ciri. Bersilaturahmi tak berhenti. Budaya menghormati tak cuma jadi prasasti.
Merendah serendah pribumi artinya tahu bahwa kita ini saling melengkapi. Menyadari pula bahwa ada hak dan kewajiban yang wajib kita penuhi. Bukan acuh dan merasa paling benar tak terbantahkan. Sementara kalau susah baru mencari orang untuk meminta bantuan.
Merendah serendah pribumi artinya menyapa tetangga. Meski bentuk rumah kentara betul bedanya. Tapi itu tak jadi acuan untuk tak saling bersua. Pagar kita bukan yang tertutupi paling tinggi hingga mereka tak tahu apa kita ada. Pasalnya kalau sedang sendiri lalu mati bagaimana? Menunggu bau busuk bangkai kita tercium kemana-mana?
Merendah serendah pribumi tidak mengisyaratkan bahwa kaum kami adalah yang terbelakang. Bukan juga menunjukkan bahwa hidup kami tidak berkembang. Bukan berarti kami rela senantiasa dijajah. Melainkan kami punya hati yang senantiasa merendah.
Meski kami tinggi di dunia. Meski kami punya segalanya. Tapi kami tahu bahwa merendah serendah pribumi–dalam perihal hati–adalah pilihan paling tepat. Karena hanya dengan itu hidup kami tenteram sebagai bagian dari masyarakat.