Alhamdulillaah #53 Meninggi Setinggi Prilangit


Kalau sebelumnya kita sudah bahas bagaimana seharusnya merendah serendah pribumi, ada baiknya kini kita melihat bagaimana cara meninggi setinggi prilangit. Bisa kubilang ini adalah salah satu pertarungan yang harusnya paling sengit. Cara memenangkannya pun tak asal saja tapi butuh pengorbanan dan perjuangan yang pahit.
Pribumi, berdasarkan arti katanya adalah orang atau penduduk asli–yang tinggal di bumi. Lantas apakah prilangit di sini menandakan orang-orang yang mendiami langit? Langit yang mana? Nyatakah adanya? Lantas siapa mereka? Bagaimana rupanya? Apa saja kebiasaannya?
Pertama-tama, kita harus mengetahui bahwa ‘Arsy milik Allah memang berada pada langit di atas sana. Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.”
– Itsbatu Shifatul ‘Uluw, hal. 123-124
Maka yang dimaksudkan dengan prilangit adalah mereka-mereka yang membersamai Tuhan-Nya. Meski tetap saja raganya berada di dunia. Prilangit adalah mereka-mereka yang senantiasa berdzikir menyebut asma-Nya sepenuh cinta. Meski kakinya jelas sedang berpijak di tanah yang bukan surga.
Meninggi setinggi prilangit artinya berdiri tegak memegang ketentuan Allah. Tak goyah dan tak tumbang mempertahankan akidah. Malah menjadi kekasih paling intim berinteraksi dengan Rabb-Nya. Sebab menahan rindu ia tak kuasa.
Meninggi setinggi prilangit artinya berserah. Allah mau memberikan skenario yang bagaimana saja terserah. Sebab mereka tahu Allah berada di setiap derap langkahnya. Allah menyertai dalam setiap deru nafasnya.
Meninggi setinggi prilangit artinya tidak menyimpan penyakit hati. Karena tahu yang begitu justru menjauhkannya dari Ilahi. Karena tahu hal itu justru mengeraskan kalbu. Memenuhi pikirannya dengan segala yang semu.
Meninggi setinggi prilangit bukan berarti merasa paling suci. Bukan berarti mengaku-ngaku sudah pantas mendiami alam surgawi. Tapi soal berlomba-lomba perihal kehidupan sesudah matinya. Sebab saling mendahului perihal dunia sudah biasa.
Tentang siapa yang bangun lebih dini untuk bersujud pada Ilahi. Tentang siapa yang lebih memastikan sedekahnya tersembunyi. Tentang bersikap sederhana dan tak tepengaruh hal-hal duniawi. Tentang meminta pertolongan pada-Nya karena tahu tak bisa mengatasi sendiri.
Tentang mereka yang bersedih mengingat Allah. Sehingga lidahnya tak kelu mengucap hamdalah. Tapi senang pun tak lupa Allah. Sehingga jabatan baru ia sambut dengan Innalillah. Tentang yang mengawali aktivitasnya dengan asma Allah. Sehingga tak luput ia mengucap basmalah. Bahkan mendoakan bagi orang lain berkah dari Allah. Baarakallaah.
Maka mereka makhluk-makhluk prilangit bisa jadi orang di sekitar kita. Atau bisa jadi pula mereka adalah kita. Tapi tengok saja dalam relung masing-masing. Apa benar terhadap Allah kita tak merasa asing?
Jangan meninggi hanya dalam hal dunia. Berlomba-lomba siapa yang lebih dulu miliki kuasa. Atau soal siapa jabatan yang paling tinggi. Apabila orang-orang menengok isi struktur organisasi.
Jangan meninggi hanya untuk kesombongan. Sebab sungguh tipis dan licin sekali godaan setan. Sudahi semakin memburukkan keadaan. Sebab rasanya sesak dan mengaduk-aduk perasaan.
Meninggilah setinggi prilangit. Agar selalu sadar tujuan kita memang harus disertai yang pahit. Sebab surga itu manis rasanya. Dan mencapainya tak bisa dengan berleha-leha.