Alhamdulillaah #54 Hati-hati Dihisab

 

Untuk setiap tugas sekolah yang engkau kerjakan, sementara software laptopmu masih bajakan, hati-hati dihisab.
Untuk setiap foto yang engkau bagikan sementara di sana tampak aurat seorang kawan, hati-hati dihisab.
Untuk setiap kue untuk peserta suatu acara dan kau memakannya selaku panitia–tanpa izin mereka dan menganggap itu sah-sah saja, hati-hati dihisab.
Untuk setiap tanggung jawab yang engkau emban dan kecurangan yang dilakukan bawahan, hati-hati dihisab.
Untuk setiap kedudukan dan segala bentuk pujian yang engkau dapatkan, hati-hati dihisab.
Untuk setiap perkataan yang engkau utarakan di sosial media sementara sebenarnya itu tak perlu dan sia-sia, hati-hati dihisab.
Untuk setiap pos orang yang engkau dukung dengan cinta buta sementara sebenarnya kau tak terlalu mengenalnya, hati-hati dihisab.
Untuk setiap makian dan hinaan yang engkau ucapkan maupun yang engkau simpan, hati-hati dihisab.
Untuk setiap tap dua kali yang kau beri kepada mereka yang kau tahu bermaksiat pada Ilahi, hati-hati dihisab.
Untuk setiap kebenaran yang engkau tahu tapi membiarkannya tersembunyi melulu, hati-hati dihisab.


Berita yang sedang banyak melintas di layar televisi adalah larangan yang diberikan kepada penduduk negeri. Mengenai bagaimana seharusnya rakyat bersikap bijaksana dan menghormati penguasa. Ujaran kebencian dicari keberadaannya. Kalau sampai ketemu siap-siap jadi tersangka.
Berujung pada pemikiran mendalam sungguh tak tertahankan. Soal bagaimana penguasa kita sedang baik hati mengingatkan dalam kebaikan. Kurang-kurangilah mencaci orang. Kemudian diberi pelajaran saja agar kemudian tak bertindak asal serang.
Sebab sungguh kalau kita mau menyadari, hal-hal macam itulah yang nanti akan memudahkan jalan kita tergelincir di shiratal mustaqim. Pasalnya itu semua adalah dosa jariyah. Meski hanya satu saja komentar penuh dengan cela dana makian kita bermukim. Bisa jadi itu adalah jalan memprovokasi untuk membenci berjamaah.
Lantas bagaimana dengan mereka? Apa tidak bisa bercermin itu si penguasa? Untuk apa mengurusi hal-hal sederhana? Mengapa tak diciduk saja penjahat yang sebenarnya? Toh rakyat juga tak bodoh soal siapa yang sedang duduk di singgasana.
Sadarilah bahwa semua akan ada dalam hitungan. Sadarilah bahwa hal sekecil apapun pasti disaksikan. Dan bisa jadi kesemuanya itu dipertontonkan. Sementara layarnya terlampau besar dan kita tak bisa menyembunyikan.
Maka sebaik-baiknya kebencian adalah yang dibalut dengan doa. Bukan dengan prasangka. Agar mereka kembali ke jalan-Nya. Agar kita sama-sama menyadari bahwa pasti nanti ada waktu penghitungan-Nya.
Sebab kalau sudah tertanam rasa takut dalam hati mereka, tiada yang mampu menjadi sebaik-baiknya benteng kemaksiatan selain keimanan. Pasalnya mereka sudah sadar bahwa malaikat mencatat tanpa keluputan, dan Allah menyaksikan yang tersembunyi maupun yang bukan.
Bukan cuma soal ujaran di akun-akun Instagram. Tapi juga soal bagaimana kita beradab dan berkelakuan. Untuk setiap hak orang lain yang kita makan. Bahkan dari kasus sekecil apapun yang tidak pernah kita pikirkan.
Contoh-contoh di awal tulisan ini misalnya. Sadarkah kita sedang memakam hak siapa? Tahukah kita hal yang demikian berujung pada timbangan yang mana? Menambah pahala atau justru memberatkan bagian dosa?
Ah, aku juga tahu kita memang manusia. Potensi tergelincir tentu besar peluangnya. Tapi asal kita berniat untuk menjaga, Allah pasti membantu para hamba.
Maka dari itu perhatikan. Jangan mudah jadi orang ikut-ikutan. Jangan sampai kita jatuh kedalam kesesatan. Sebab sungguh bukankah dunia ini dipenuhi dengan tipuan?