Alhamdulillaah #55 Duka Berujung Doa

Entah apa yang sedang terjadi di negeriku. Rasanya menyedihkan sekali sampai-sampai mengumpat aku tak mampu. Selain itu juga tentu karena aku tak mau. Tapi lebih kepada toh tak akan membawa hasil seperti idamku.
Aku tak mengerti kepada siapa penguasa berpihak. Rakyat kah atau justru penyandang dana yang teriak. Aku tak cukup paham regulasi apa yang mereka coba tambah lagi. Dan tersenyum sinis saat sebagian rakyatnya malah suudzon pada pimpinannya sendiri.
Mungkin aku tak cukup cerdas memahami bapak ibu parlemen sedang apa saat ini. Mengapa kemungkaran dibela sementara kebaikan harus rapat tersembunyi. Mengapa menyampai aspirasi ditahan dengan memandang bulunya. Kalau bela penguasa mereka dibiarkan begitu saja. Tidak peduli seberapa besar kerusakannya. Tapi bela saya kan? Ya sudah tak apa-apa.
Belum lagi agama yang tak boleh dibawa ke ranah politik. Ah yang ini sungguh menggelitik. Ke toilet saja aku punya aturan yang diatur dalam Islam. Apalagi urusan negara yang harus dipikir mendalam.
Ada juga yang bilang tak nyambung membolehkan ada jalur penghafal Alquran masuk perguruan tinggi. Nanti orientasi menghafal malah dunia bukan akhirat lagi. Hadeuh sok atuh kang dicoba aja niat hafalannya mulai dari hal-hal duniawi. Kalau beneran bisa nanti saya yang kasih acungan jempol dua jari.
Padahal kita bisa hafalan itu jelas atas pertolongan Allah. Tanpa itu mah seumur hidup hafalan ada-hilang-ada-hilang sepertinya. Pasalnya hafalan itu berbanding terbalik dengan dosa. Makin banyak maksiat ya makin hilang hafalannya.
Sedih sekali menyaksikan berita di televisi masa kini. Di media elektronik pun kebohongan yang tersebar mudah dicari. Kalau kita buka mata keberpihakan kentara sekali. Media itu dukung yang ini. Media yang lain dukung partai oposisi.
Belum lagi soal ayyat Alquran yang dipakai mainan. Dipasang sebagai backsound lagu rap malah aduh tega nian. Tapi yang paling membuat lara adalah sikap muslim saudara kita. Bapak, ibu, mas, mbak, sudah cukup dilaporkan saja. Tidak perlu mengumpat macam-macam di sana. Jangan lupa, ucapan kita juga ada perhitungannya. Baik di dunia nyata ataupun maya.
Tunjukkanlah akhlak seorang muslim yang taat. Sehingga mereka melihat betapa indah islam melekat. Jangan hina mereka yang keliru. Cukup ingatkan saja bagaimana yang seharusnya itu. Adabnya pun harus diam-diam. Bukan malah menghina dan mengumpat jadi perlombaan.
Allah mau dibantu dan dibela. Tapi tak begitu caranya. Tanpa kita pun Allah bisa menyelesaikannya sendiri. Tapi Allah baik hati membuat ladang pahala kita semakin asri. Dengan catatan kalau kita benar memakainya. Bukan menjadikannya ajang menambah dosa.
Tapi berita yang paling terkini adalah soal dibubarkannya kajian. Ya Allah mas itu ustaznya sama mas-mas semua masih satu iman. Kita kan junjung juga bhinneka. Berbeda katanya wajar dan biasa. Ini kok ustaznya dilarang-larang. Padahal sudah jauh-jauh datang.
Kecuali kalau landasan dakwahnya bukan Alquran. Kecuali kalau dia bikin teori sendiri nggak karuan. Jangan ibadah umat lain dijagain. Tapi kajian agama sendiri dibubarin. Kalau ada yang salah ingatkan. Baik-baik tapinya jangan pakai umpatan. Kalau ada pendapat lain sampaikan. Bikin kajian sendiri bisa ‘kan?
Atau duduklah bersama. Pakailah cara Rasulullah baiknya. Diskusilah bersama. Berdakwahlah lewat jalan masing-masingnya. Imam Syafi’i nggak pernah benci Imam Ahmad. Padahal pendapatnya juga nggak sama-sama amat.
Sedih yang kali ini sedih tidak terkira. Sedih yang sampai bingung bisa bantu apa. Satu-satunya jalan terbaik ya lewat doa. Semoga Allah menjaga umat dari perkara. Semoga Allah baikkan generasi seusai kita.
Pastikan sedihnya menjadikan kita makin takwa. Makin mengerti seharusnya bagaimana islam dibawa. Pastikan duka kita berujung doa. Bukan umpatan dan kebencian pada sesama.