Alhamdulillaah #56 Menjadi Khadijah karena Memang Begitu Seharusnya

Beberapa saat yang lalu aku melihat status seorang teman yang bertuliskan, “In a world full of Kadarshians, be a Khadija.” Seketika itu pula aku berpikir dan merasa hmm ada benarnya juga. Tapi tak lama kemudian aku segera ber-istighfar perlahan-lahan. Siapa aku bisa menentukan keburukan seseorang atau suatu golongan.
Memangnya sudah pasti Kadarshians buruk perilakunya? Bukankah tiada yang membedakan manusia selain amalnya?
Aku rasa kita harus mendiskusikan kalimat ini. Sebab nanti malah menjatuhkan saudara sendiri. Benar lho, mereka itu saudara kita sesama makhluk Allah. Dan semua tata cara kita berperilaku padanya sudah diatur dalam kitabullah.
Rasanya tak pantas kita menilai lain insan. Sebab bukan kapasitas kita menentukan yang demikian. Kalau itu tugas kita aduhai kita pasti kewalahan. Toh sudah ada Kiraman Katibin yang mencatat segala amalan.
Fokus pada kebaikan. Jangan merasa berhak memberi penilaian. Namun bukan berarti kita dilarang menjadi Khadijah. Ah siapa yang tak mau disamakan dengan wanita yang indah. Yang cinta nabi diberikan seluruhnya. Tak dimadu selama hidup berdua.
Tapi menjadi Khadijah karena memang begitu seharusnya. Bukan karena yang lain kita anggap lebih rendah dan menganalogikannya dengan sebuah nama. Kita menjadi Khadijah karena memang ibunya umat islam itu pantas dijadikan teladan. Bagaimana beliau membalut dirinya dengan tangguh namun penuh kesantunan.
Meneladani Khadijah artinya mengerti bahwa kita harus berdiri sebagai wanita yang menjunjung kehormatan jiwa dan raga. Sebab meski telah dua kali menjanda tak menjadikan orang lain meremehkan keberadaannya. Pedagang yang mahsyur di jazirah Arab dan mandiri secara finansial. Menjaga lisannya dan tak mudah merasa kesal.
Menjadi Khadijah artinya siap menahan fitrah wanita. Beliau seharusnya bisa menanyai Muhammad dan mengucap dua ribu kata. Tapi tertahan nafsunya dan ia selimuti suami tercinta. Tak bertanya mengapa dan tak mencemooh sikap Rasulnya.
Menjadi Khadijah artinya menyerahkan segala yang sudah diupaya. Seluruh harta dan kekuasaan diberikan hingga tiada tersisa. Beliau mencintai Rasul sejak yang lain ingkar. Beliau menemani Rasul dan memberikan contoh sikap tegar.
Menjadi Khadijah artinya tak gentar berdakwah. Dan tak malu menemani pasangan hidupnya. Meski tahu jalannya terjal dan berat. Meski tahu hidupnya akan jadi melarat.
Sementara bicara soal Kadarshians, sepertinya tak layak kita sekedar memberi penilaian. Seakan-akan kita paling tahu apa saja yang mereka jadikan kebiasaan. Seakan-akan kita paling mengerti isi hati mereka yang terdalam. Padahal kalau Allah menghendaki pada mereka sebuah kebaikan, maka “kun” saja bisa meriuhkan dunia hiburan.
Menjadilah Khadijah karena memang begitu seharusnya. Bukan karena harus terlihat lebih tinggi di mata lain manusia. Mengangkasa tanpa perlu mentanahkan sesama saudara. Seakan-akan kita benar sendiri saja tak peduli umat mau bagaimana.
Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin kita dapat satu ilmu lagi. Jangan sampai kita rendahkan lain hamba. Sebab kita semua ini sebenarnya sama. Yang bisa membedakan hanya Allah semata. Jangan menilai manusia. Sebab bisa jadi Allah sentuh relung hatinya. Kemudian berubahlah ia seperti hidayah yang didatangkan pada Umar. Jadilah ia pembela islam tanpa gentar.