Alhamdulillaah #57 Mewah Jalan Dakwah

Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin, atas izin Allah permintaanku beberapa hari ini yang terucap dalam doa seusai salat akhirnya terkabulkan jua. Aku meminta agar semakin didekatkan dengan teman-teman yang mengajak bersama dalam kebaikan. Aku memohon agar diperkenankan menjalin ukhuwah yang bermanfaat dan erat. Agar pertemananku nantinya semakin menambah faedah menabung amal untuk akhirat.
Setelah banyak berselancar dalam dunia sosial media, aku menemukan sebuah tawaran menjadi tim kreatif suatu komunitas dakwah yang sasarannya adalah pemuda. Tertarik untuk bergabung, aku kemudian memutuskan untuk mengirim pesan pada si empu akunnya. Singkat cerita aku diterima. Bismillah, semoga dapat memperbanyak saudara yang menarikku ke surga.
Hingga akhirnya diputuskanlah sebuah tanggal sebagai hari syura‘ pertama kami. Terbilang cukup jauh dan harus melewati daerah yang penuh dengan polusi. Tapi lokasi syura‘-nya berbeda. Bertempat di perumahan megah milik orang-orang kaya.
Sesampainya di sana, terpampang dimana-mana bangunan megah yang menjulang. Masuk ke perumahan jalanannya asri dan begitu lengang. Pepohonan besar mengangkasa. Tumbuhan hijau diwarnai bunga-bunga.
Beberapa dari rumah itu bermodelkan hunian minimalis kekinian. Warnanya didominasi hitam, putih, dan biru keabu-abuan. Ada pula yang di dalamnya sudah berjejer beberapa mobil keluaran terbaru. Beserta beberapa hewan piaraan yang terlihat akan diajak berkeliling komplek perumahan itu.
Sesampainya di lokasi yang dimaksud, aku segera memarkir sepeda. Dan rupanya sudah banyak kendaraan roda dua lainnya. Model rumah ini ala-ala hunian eropa yang didominasi warna cokelat muda. Pilar-pilar tinggi berdiri kokoh menopangnya.
Sementara saat masuk ke dalamnya, aku menyaksikan sofa-sofa empuk yang biasa aku lihat di televisi. Pernak-pernik rumah bermaterialkan kaca dan beberapa tumbuhan imitasi. Sedikit ke dalam kutemui tangga yang berhiaskan marmer cokelat tua. Sementara pada pegangannya dipenuhi ornamen bak di istana.
Karena penasaran, aku memutuskan untuk bertanya pada anggota komunitas yang sudah lebih lama ada di sana. “Mbak, ini rumahnya disewa untuk kita?” Ia menjawab, “Oh nggak, ini punya salah satu ikhwan-nya.” Karena merasa belum lega, aku kembali bertanya. “Oh ini rumah pribadi gitu?” Ia kemudian mengangguk dan tersenyum padaku.
“Jadi ini kan gedungnya dua. Sepertinya yang bagian sini nggak dipakai gitu sehari-harinya. Akhirnya dipinjamkan untuk kita. Kalau ada kajian di sini juga. Alhamdulillaah, jadi hemat biaya.” Dalam hati aku bicara, Masyaa Allah, bisa gitu ya. Orang ini kaya tapi sadar akhiratnya. Untuk setiap orang yang menuntut ilmu di sini kan dia pasti kena getahnya. Wah keren bisa jadi jalan alam jariyah.
Esoknya aku mendatangi kajian di salah satu perumahan elit dekat kampusku. Yang kali ini meski tak sebesar rumah kemarin tapi terbilang sudah sangat mewah bagiku. Selesai memarkir kendaraan dan masuk ke dalam aku disambut seorang ibu-ibu. Ia memberikan sekotak kue dan sebuah kalender hijriyah padaku. Sambil tersenyum ia seperti mengisyaratkan bahwa lokasi kajian ada di lantai dua. Tak berpikir lama aku langsung menaiki tangganya.
Hubian yang kali ini juga tak kalah megahnya. Area parkir yang luas dan kebun di depan teras saja sudah cukup jadi buktinya. Ditambah lagi dengan lampu gantung di ruang tamu yang tadi kulewatim juga tangga ini seakan menegaskan kemegahannya sekali lagi.
Di lantai dua sudah banyak ibu-ibu yang berjilbab lebar. Kusalami beberapa dan kupilih tempat duduk yang tak membuatku bisa bersandar. Ruangan ini atapnya tinggi dan gordennya rapi seperti di seterika setiap hari. Di depanku berdiri sebuah rak buku cantik yang sepertinya terbuat dari kayu jati.
Rupanya rak buku itu berisikan buku-buku pedoman agama. Terlihat di sana Riyadush Shalihin dan beberapa tafsir Alquran milik ulama ternama. Bagian atas beejejerkan beberapa Alquran yang disertai arti kata demi kata. Juga ada beberapa iqra mungkin untuk pembaca pemula.
Ah, rumah ini juga tak kalah besarnya. Ibu-ibu yang ada di sini juga tentu bukan orang tak berharta. Terkagum aku dibuat orang-orang seperti mereka. Rumah mereka pasti megah dan gaya hidupnya mewah. Tapi justru kenikmatannya dijadikan jalan dakwah.
Menarik. Sementara aku sering mengekuhkan keadaanku yang kurasa pelik. Coba aku lebih kaya pasti bisa sedekah di mana-mana. Padahal belum tentu aku bisa atau berniat sedikit saja. Bukankah dunia membutakan sebab dia fana belaka?
Bagaimana jika justru di hari hisabku malah kekayaan itu tak jelas juntrungannya. Tak menahu asalnya dari mana dan digunakan untuk apa. Mengapa untuk beramal kita membanding-bandingkan keadaan kita? Berkahnya bisa jadi beda bila rupiah yang kita sedekahkan adalah seluruh harta yang kita punya. Allah pasti tahu Allah pasti beda menghitungnya.