Alhamdulillaah #58 Mengejar Allah Dikejar Allah

Aku rasa sudah fitrahnya bila manusia mengejar sesuatu yang fana. Namanya juga memiliki nafsu untuk terus-menerus mengagungkan dunia. Ada beberapa yang dalam perjalanannya tersadar. Ah, sudah melenceng nih maka haluannya harus diputar. Tapi ada pula yang harus jadi roda bagian bawah dahulu. Semata-mata agar tahu dan paham bahwa kita tak bisa mengatur sendiri segala sesuatu.
Sebenarnya sudah jelas akan lebih tenteram berada pada jalan pertama. Meminta pertolongan-Nya agar kita dilindungi senantiasa. Menggenggam komitmen untuk taat di jalan yang sebenarnya. Dengan terus menerus melakukan amalan setiap kali berbuat dosa. Yang begini tentu tak mudah dilakukan begitu saja. Tapi sudah pasti balasannya adalah surga.
Entah ini sebuah ironi atau apa, tapi bisa dibilang aku termasuk dalam tipe kedua. Aku merasa seakan-akan memang memiliki kecenderungan menikmati perasaan berdosa. Susah sekali bagiku menahan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang. Nanti kalau sudah jatuh dan terpuruk barulah aku menyadari sudah saatnya aku pulang. Menuju rumah tempat bersimpuh. Mengadu pada Rabb soal isi hati yang penuh.
Berat memang terdengarnya. Tapi aih tak terkira nikmatnya. Bagaimana tangisan salat malam mewarnai hari-hari. Dan tentang kemudahan mengambil hikmah dari setiap apa yang terjadi. Sesenggukan terhadap cobaan. Syukur terhadap segala kenikmatan. Terenyuh oleh kebaikan Allah. Merasa rindu mengumandangkan kalamullah.
Kalau sudah pada kondisi begitu aku merasa sangat bahagia. Sebab saat itu juga mengejar Allah aku sedang semangat empat lima. Kulakoni semua peringai yang baik. Tak kuabaikan amalan barang sedetik. Dan aku sadar betul saat itu perasaanku bungah. Seperti dalam dadaku ada banyak hal yang ingin membuncah.

… Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berlari.

– HR Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675

Ah, jadi begitu rupanya. Aku berjalan saja, Allah sudah berlari mengejar hamba-Nya. Cinta lain yang semurni ini dicari-cari mana ada. Romantisme-Nya pada seorang hamba melebihi yang bisa kita pikir dan kira. Allah Yang Maha Memberi apa yang kita butuhkan. Kita yang maha meminta segala yang kita inginkan. Tapi Yang Maha Memiliki malah mengejar. Disaat yang maha mencari masih berjalan dengan tatapan nanar.

Maka penting bagiku untuk senantiasa berpikir baik mengenai ketentuan dari-Nya. Meski tak sesuai dengan anganku tapi kucoba menelaah hikmahnya. Mungkin ada yang Allah ingin aku tahu. Mungkin ada beberapa ilmu baru. Meskipun aku tahu nafsu akan kembali berdatangan. Meskipun aku paham hasrat duniawi akan susah aku tahan. Tak mengapa, akan aku coba istiqamah-kan. Agar Allah juga tahu bahwa dalam diriku masih ada kebaikan.

Sebab betapa baik hati-Nya beserta segala ketentuan. Bila ada setitik kebaikan maka akan dijadikan-Nya selautan. Sungguh siapa tak ingin dikejar Allah. Menikmati rahmat-Nya dan mengacu pada kehidupan Rasulullah.