Alhamdulillaah #59 Mengantri Digenapi

 

Percakapan yang akhir-akhir ini selalu terngiang di kepalaku adalah percakapan seorang dua orang sejoli. Mereka telah mengarungi bahtera rumah tangga dengan suka beserta duka beberapa kali. Dikaruniai empat orang putri membuat mereka ini menjadi banyak pertimbangan. Soal kepada siapa urusan pertanggung jawaban hidup putri-putrinya nanti akan dialihkan.

Suatu sore keduanya duduk berdua. Membicarakan mengenai kelanjutan putri yang tertua. Pasalnya buah hati saudara mereka yang lebih tua sudah mulai menjalankan dan merancang janji mulia. Sedangkan pasangan ini masing-masing adalah anak ketiga dari urutan sanak saudaranya. Itu artinya sebentar lagi adalah giliran mereka. Maknanya tak lama lagi mereka akan menyerahkan seorang permata hatinya.

Niat awal pembicaraan sore itu sebenarnya tak begitu. Awalnya mereka hanya membicarakan persiapan pernikahan keponakannya yang baru lulus S1. Dilanjutkan dengan membicarakan tentang bagaimana calon istri keponakan lainnya yang berasal dari pulau seberang. Hingga akhirnya mereka menyadari bahwa giliran mereka segera datang.

Sang istri mengungkakannya dengan sedih. Seakan-akan hatinya tak sanggup menerima fakta bahwa putrinya sebentar lagi pergi. Ia mengucapkannya dengan lirih. “Benar juga ya mas, antrian kita sudah sampai sebentar lagi.”

Sementara sang suami berusaha menyadarkan. “Tidak ada yang harus kita takutkan.” Sebab ia merasa memang sudah saatnya. Hari-hari mereka sebentar lagi hanya akan menikmati senja berdua.

Sementara putri tertuanya merasa was-was. Beberapa bulan kebelakang ia merasa amat cemas. Soal siapa yang akan menjadi pendampingnya. Soal bagaimana nanti ia akan mendidik buah hatinya.

Pun ketika ia sudah mantap kepada satu pria, hatinya masih tak cukup lega. Sebab ia inginnya segera, namun seakan-akan semesta tak mendukungnya. “Ah padahal kan ini sesuai tuntunan nabi kita. Lantas mengapa tak boleh saat ini juga?”

Wajar saja sebenarnya. Begitulah bila seorang yang baru mengaji mengalami problematika. Ilmu baru ala kadarnya. Namun merasa sudah siap menjadi wakil nahkoda sebuah samudera.

Apalagi kajian yang didatangi lebih banyak soal menikah. Teman-teman yang ia kenal sudah banyak yang di-khitbah. Lengkap sudah penyebab kekhawatirannya. “Ayah, mama, maunya sekarang saja.”

Tapi Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin akhirnya dia mengerti. Bahwa dia cukup bersabar mengantri digenapi. Sebab Allah tak akan salah memilih tanggal. Dan tak akan luput menentukan kepada siapa hatinya harus tinggal.

Mengapa harus mengantri digenapi? Karena kita harus lebih sabar terhadap ketentuan Ilahi. Melatih diri lebih ikhlas dengan apa yang sudah dituliskan. Dan tak terburu-buru memaksakan apa yang jadi keinginan.

Kalau si sulung kedua sejoli ini saja sudah paham, kalian pasti juga ‘kan?