Matrikulasi #1 Adab Selalu Diutamakan, Ilmu Kian Mudah Diamalkan

Pertama kali mendengar bahwa Institut Ibu Profesional telah membuka kelas Matrikulasi Batch 5, rasanya memang ingin segera mendaftar. Segera yang memang ya saat itu juga. Ingin langsung mengisi form-nya, ingin langsung transfer biayanya (yang super murah dibandingkan ilmu yang bisa didapatkan–ah, tim inti IIP ini Insyaa Allah diberi imbalan pahala yang setimpal), ingin cepat masuk … Continue reading Matrikulasi #1 Adab Selalu Diutamakan, Ilmu Kian Mudah Diamalkan

Kamu selalu punya pilihan untuk memilih atau tidak memilih, Almira. Kamu selalu punya. Begitu pula dengan perpindahan. Kamu selalu punya pilihan untuk menetap atau berpindah, Almira. Kamu pun selalu memilikinya. Jangan kalah kontrol terhadap dirimu sendiri ya.

Ceracau #20 Calon Ibu Tak Banyak Memilu

Akhir-akhir ini hatiku sempit diiringi dengan dada yang terasa sesak tidak terkira. Isi pikiranku kacau oleh pekerjaan yang tak ada habisnya–tipikal urusan duniawi pada umumnya. Belum lagi mengenai mimpi-mimpi yang sering dengan sengaja kutunda. Dan mengenai ilmu-ilmu baru yang ingin kucoba, ah tapi seperti tak ada waktunya. Aku ingin menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku … Continue reading Ceracau #20 Calon Ibu Tak Banyak Memilu

Ceracau #19 Si Sulung yang Murung

Si sulung menangis. Tangannya yang gemetar memegang pensil itu dengan kuat, takut melakukan suatu kesalahan lagi yang berujung pada teriakan sang ayah apabila pensilnya jatuh barang sedetik saja. Sementara dadanya begitu sesak. Andai saja ia adalah tipikal anak yang mudah mengumpat, maka sudah ia lontarkan semua umpatan yang pernah ia tahu. Sayangnya ia bukan jenis … Continue reading Ceracau #19 Si Sulung yang Murung

Bahagia itu sederhana. Sesederhana dipakaikan helm di depan Ibu dan Adik-adiknya. Malu, tapi senang. ><

Kaum Tersembunyi #5 Kita Tak Mau Lembur Mereka Tak Bisa Libur

Tahukah kita orang-orang yang seringkali kita lihat di jalan raya, di taman, di atas tiang listrik, atau bahkan di area pemakaman, harus menghabiskan berapa jam dari waktunya untuk bekerja? Atau setidaknya, pernahkah kita sekali saja ingin mencari tahu jawabannya? Tahukah kita bahwa tak semua pekerjaan di dunia ini mendapatkan jatah libur seperti yang seharusnya? Atau … Continue reading Kaum Tersembunyi #5 Kita Tak Mau Lembur Mereka Tak Bisa Libur

Kaum Tersembunyi #4 Melihat Lebih Dekat

Kemarin adalah hari yang bersejarah buat saya. Salah satu dari sekian hari yang akan saya ingat sampai mataku sayu. Termasuk pula jenis hari yang pasti akan kuceritakan pada si kecil nanti. Semata-mata agar mereka mengerti, bundanya ini tipe wanita yang bekerja–setidaknya–untuk dirinya sendiri. Seperti hari-hari sebelumnya, saya berangkat pagi sekali menuju Kantor DKRTH Surabaya. Kali … Continue reading Kaum Tersembunyi #4 Melihat Lebih Dekat

Kaum Tersembunyi #3 Tahunnya Baru Tapi Moralnya Begitu Melulu

Masih belum hilang dari ingatan kita mengenai perayaan malam tahun baru yang digelar di seantero kota-kota sedunia. Pasalnya, perayaan semacam ini sudah menjadi perihal biasa atau bahkan seperti kewajiban bagi beberapa orang yang meyakininya. Model perayaannya juga begitu melulu. Kembang api, terompet, dan ungkapan-ungkapan resolusi tahun baru. Dan satu lagi yang tak pernah ketinggalan. Tumpukan … Continue reading Kaum Tersembunyi #3 Tahunnya Baru Tapi Moralnya Begitu Melulu

Kaum Tersembunyi #2 Kita Letih Bekerja Lantas Mereka Disebut Apa

Ah memang ya kita ini sebagai manusia sudah fitrahnya selalu merasa mudah mengutarakan apa yang kita rasa melalui keluhan. Padahal hal itu juga belum tentu setara dengan peluh yang kita hasilkan. Belum bekerja maka sibuk mencari lowongan setengah mati. Eh yang sudah punya profesi malah bekerja setengah hati. Macam-macam bentuk keluhannya. Rata-rata jam kerja yang … Continue reading Kaum Tersembunyi #2 Kita Letih Bekerja Lantas Mereka Disebut Apa