Matrikulasi #1 Adab Selalu Diutamakan, Ilmu Kian Mudah Diamalkan

Pertama kali mendengar bahwa Institut Ibu Profesional telah membuka kelas Matrikulasi Batch 5, rasanya memang ingin segera mendaftar. Segera yang memang ya saat itu juga. Ingin langsung mengisi form-nya, ingin langsung transfer biayanya (yang super murah dibandingkan ilmu yang bisa didapatkan–ah, tim inti IIP ini Insyaa Allah diberi imbalan pahala yang setimpal), ingin cepat masuk kelas dan menimba banyak ilmu dari bunda-bunda hebat (yang mau meluangkan waktu serta menurunkan egonya untuk bersemangat belajar dan belajar terus).
Setelah mengikuti semua tahapan pendaftaran, Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin, sah sudah saya menjadi pembelajar di kelas ini. Dan benar saja, suasana kelas yang dibangun adalah suasana yang berbeda dengan kelas kuliah daring di Whatsapp lainnya. Diciptakan perasaan nyaman dan terayomi saat mengikuti kelas. Ada tutorial pengumpulan tugas, ada pemilihan perangkat kelas, semuanya jelas dan sistematis. Meski begitu, sistem yang dibuat tidak menyusahkan ibu-ibu yang tidak setiap saat bisa menyaksikan layar ponselnya.
Sebab latar belakang bunda-bunda hebat ini beragam. Ada yang bekerja, ada yang fulltime menjadi ibu rumah tangga. Ada yang sudah memiliki empat buah hati, ada yang masih belum menikah–ya saya ini wkwk. Tapi niat kami semua Insyaa Allah sama: menjadi bunda yang terus-menerus belajar demi diri sendiri, keluarga, dan peradaban. Insyaa Allah, Allah akan mudahkan jalan kami, Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.
Kelas pertama yang kami ikuti adalah mengenai Adab Menuntut Ilmu. Meski pernah mendapat materi ini sebelumnya di suatu kajian, isi materinya sendiri langsung menampar saya. Bagaimana tidak, di dalamnya dibahas pula mengenai mengosongkan diri sebelum menerima ilmu agar tak angkuh dan merasa sudah ‘bisa’. Sebab kita memang harus tak berhenti mencari ilmu. Dan pencarian ilmu haruslah dalam rangka mengamalkan ilmu yang didapatkan. Adab menjadi penting untuk diperhatikan agar kita mampu menerima ilmu dengan sebaik mungkin.
Di bawah ini dalah resume materi Adab Menuntut Ilmu yang saya dapatkan.

ADAB MENUNTUT ILMU

Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ilmu itu adalah prasyarat untuk sebuah amal, maka adab adalah hal yang paling didahulukan sebelum ilmu.
Adab adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya.

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena adab tidak bisa diajarkan, adab hanya bisa ditularkan.

Para ibu lah nanti yang harus mengamalkan adab menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh adab baik dari Ibunya.

Adab Pada Diri Sendiri

  • Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk. Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati. Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
  • Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
  • Menghindari sikap yang “merasa” sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.
  • Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
  • Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

Adab Terhadap Guru (Penyampai Sebuah Ilmu)

  • Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada Dia Yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.
  • Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula menyamai guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.
  • Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

Adab Terhadap Sumber Ilmu

  • Tidak meletakkan atau memperlakukan sembarangan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.
  • Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
  • Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
  • Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
  • Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. Jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, sehingga mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat.

Referensi:
Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm. 5
Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Setelah menerima materi tersebut, datanglah bagian paling menarik dari kelas ini, yaitu Nice Homework. Dan menjadi sangat menantang saat pertama kali membaca pertanyaan-pertanyaan yang terlontar.
Waktu mengerjakan NHW ini adalah ± 6 hari. Namun sungguh, untuk menemukan jawaban yang pas membutuhkan waktu berpikir yang cukup lama dan pergulatan batin yang cukup sengit.
Maka Bismillaahirrahmaanirrahiim, berikut merupakan NHW saya 🙂

NICE HOMEWORK #1

Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini!

Untuk pada akhirnya memutuskan menekuni bidang ini, saya melewati banyak jalanan berliku mengenai bidang-bidang lain yang juga ingin saya ikuti di universitas kehidupan.
Pertama-tama, saya ingin menuliskan bahwa saya ingin menekuni ilmu agama. Tapi saya rasa itu adalah suatu kebutuhan dan kewajiban. Kedua, saya ingin menekuni banyak keterampilan yang produktif seperti memasak, menjahit, menyulam, dan lain sebagainya. Tapi kemudian saya berpikir bahwa sepertinya keterampilan macam itu tanpa diimbangi dengan urusan akhirat hanya akan menjadi perihal yang terbatas pada duniawi saja. Di lain waktu saat berpikir saya ingin menulis bahwa saya ingin ilmu agar merasa bahagia saja. Tapi rasanya ‘menjadi bahagia’ terlalu abstrak untuk dibahas.
Maka satu ilmu yang ingin saya pelajari selama menjalani universitas kehidupan ini adalah istiqamah. Yang dimaksud istiqamah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Hal ini berlaku dalam urusan akhirat maupun dunia. Dan tentunya, ilmu dunia yang ditempuh juga dalam rangka mencapai ridha Allah.

Apa alasan terkuat yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?

Saya pribadi menyadari bahwa saya adalah orang yang sulit menemukan satu hobi secara spesifik. Saya suka mencoba hal-hal baru dan karena mudah memulai tantangan baru maka mudah pula meninggalkan yang lama.
Hal itulah yang menjadikan saya kemudian menjadi pribadi yang setengah-setengah dalam belajar. Belum tuntas yang ini saya merasa agak bosan dan ingin berlanjut ke ilmu lainnya. Aturan semacam ini berlaku baik ketika saya mempelajari ilmu untuk akhirat maupun ilmu untuk dunia.
Akibatnya, tentu saja sangat berdampak. Belum tuntas belajar fikih taharah saya sudah ingin berganti ke fikih salat. Dan akan sangat bahaya apabila ketidak istiqamahan ini juga terjadi saat saya mempelajari tauhid.
Firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.”
–QS. Fushilat: 30
Begitu pula dengan urusan dunia. Belum tuntas belajar memasak–atau at least mengerti bedanya kunyit, kencur, dan lengkuas–saya ingin belajar menyulam. Saya bukan malah ahli segala bidang, justru malah tak menguasai apapun. Dan ini tentu tak baik bagi saya sendiri maupun dalam pengamalan ilmu yang saya miliki.

Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

1. Menuliskan daftar ilmu
Saya tidak akan membatasi keingin tahuan saya terhadap suatu ilmu. Saya pikir itu adalah salah satu aspek positif dan harus terus dipupuk. Maka alih-alih mengurangi jumlah ilmu yang ingin dipelajari, saya justru memilih untuk mengelolanya. Maka langkah pertama adalah menuliskan daftar ilmu yang ingin saya pelajari dalam satu tahun ke depan. Misalnya saya ingin menuntaskan mempelajari buku fikih, belajar menjahit tingkat dasar, dan lain sebagainya. Penulisan daftar ini harus spesifik diiringi target kapan saya mulai dan kapan saya harus selesai.
2. Menentukan indikator
Indikator berguna agar saya memiliki penggaris yang selalu sama dalam mengukur pencapaian saya. Dalam kata lain, perihal apa yang menunjukkan bahwa saya telah tuntas mempelajari suatu ilmu. Misalnya menuntaskan ilmu fikih artinya saya harus menyelesaikan minimal 1 buku fikih umum karangan 1 orang. Maka saya tidak akan mudah beralih ingin belajar fikih harta halal haram, fikih khusus wanita, dan lain sebagainya. Mempelajari teknik paling dasar menjahit indikatornya mampu membuat semua pola dasar dan setidaknya membuat 1 kemeja dan 1 celana.
3. Membuat timeline
Selanjutnya, saya akan membuat timeline mengenai ilmu apa yang akan saya pelajari dan dalam rentang waktu yang bagaimana.
Misalnya, apabila saya ingin belajar menjahit tingkat dasar, sedari awal saya harus memperkirakan berapa lama saya akan mampu menjadi seperti yang saya inginkan beserta tahap apa saja yang perlu saya tempuh sampai meraih indikator yang saya buat. Dengan begitu, saya tidak mudah beralih ke ilmu lain sebelum menuntaskan yang sudah dijadwalkan sejak awal.
4. Mencari ahli ilmu
Untuk mengatasi sifat saya yang sering beralih kesukaan, maka saya perlu mencari ahli ilmu yang mampu senantiasa mengingatkan saya untuk tetap di jalan yang benar. Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin Allah memberi saya kemudahan dalam menyerap ilmu dengan cepat sehingga saya membutuhkan guru yang tegas dan stick to the plan agar saya tak malas-malasan dalam mempelajari ilmu tersebut.
5. Menemukan teman-teman seperjuangan
Agar bisa tetap istiqamah, saya perlu mencari teman-teman yang bisa mengingatkan saya. Dengan adanya orang-orang ini, saya akan mudah merasa nyaman dan ingin terus-menerus menimba ilmu tersebut. Akan lain hal apabila saya hanya menimba ilmu sendirian. Apabila mendapati suatu kesulitan, tentu saya akan mudah menyerah dan beralih ke ilmu lainnya.
6. Memohon pertolongan Allah
Apabila segala daya dan upaya telah kita coba, lantas apalagi yang harus dilakukan selain bertawakkal kepada-Nya?

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, apa saja perubahan sikap yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Perubahan yang pertama tentu pada diri-sendiri. Awalnya saya harus niat menuntut ilmu untuk meraih ridha Allah. Niat ini harus kokoh. Harus dihayati dan diresapi. Harus menghilangkan keinginan mendapatkan pujian orang lain atau hal-hal lainnya. Semata-mata untuk Allah dan semoga semua aktivitas akibat ilmu tersebut mampu mendatangkan jalan dakwah setidaknya bagi saya pribadi.
Kemudian mengosongkan gelas. Meski sudah tahu, tak merasa paling tahu. Harus merasa haus akan ilmu. Harus selalu memupuk rasa penasaran dan semangat dalam mencari ilmu. Meski sedikit, setidaknya konsisten dan konsekuen akan ilmu yang dipelajari. Sebab yang sedikit tapi terus-menerus tentulah lebih utama.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.”
–HR. Muslim 783
Tidak mudah tergesa-gesa dan senantiasa bersabar adalah menjadi kunci selanjutnya. Keinginan untuk segera menjadi “ahli” atau mempelajari ilmu baru harus ditahan. Sebab memang ilmu yang baik tidak masuk dan keluar dengan instan, tapi melalui proses sedikit demi sedikit agar bisa mengena keseluruhan.
Untuk adab kepada penyampai ilmu atau guru, haruslah merasa rendah hati meski gurunya nanti adalah orang yang lebih muda atau minim ilmu dalam keilmuan yang lain. Misalnya mencari guru menjahit, meski ia bukanlah seorang muslim yang sangat taat, tidak boleh merasa lebih tinggi atau lebih beriman dibanding sang guru karena konteksnya memang mempelajari ilmu menjahit. Justru, kondisi semacam ini dijadikan jalan dakwah.
Selanjutnya perlu untuk menjaga silaturahim dengan sang guru. Menghormati, menghargai, dan senantiasa memuliakannya. Dengan begini, Insyaa Allah ilmu yang didapatkan akan lebih mudah tinggal dalam diri sendiri. Akibatnya, pengamalan ilmu pun akan lebih mudah.
Adab terhadap sumber ilmu harus menjadi perhatian pula. Pastikan segala hal yang terkait ilmu diperoleh dengan jalan yang halal dan diberkahi Allah. Jangan korupsi meski sehelai benang pun. Jangan melakukan plagiarisme. Senantiasa berdoa agar semua ilmu yang didapatkan diridhai Allah dengan cara melakukan hal-hal baik terhadap sumber ilmu itu sendiri. Tidak meletakkan catatan sembarangan, tidak bermudah-mudahan menyebarkan informasi tanpa proses tabayyun, dan lain sebagainya.
Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin, Insyaa Allah saya siap menuntut ilmu 🙂

Sumber: https://rumaysho.com/731-kiat-agar-tetap-istiqomah-seri-1.html

Setelah mengerjakan NHW #1, peserta akan diberikan review mengenai materi pertama. Berikut adalah review dari Adab Menuntut Ilmu 🙂

REVIEW

Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta Matrikulasi IIP Batch #5?
Tidak terasa sudah 1 pekan kita bersama dalam forum belajar ini. Terima kasih untuk seluruh peserta yang sudah “berjibaku” dengan berbagai cara agar dapat memenuhi “Nice Homework” kita. Mulai dari yang bingung mau ditulis dimana, belum tahu caranya posting sampai dengan hebohnya dikejar deadline 🙂 Insya Allah kehebohan di tahap awal ini, akan membuat kita semua banyak belajar hal baru, dan terus semangat sampai akhir program.
Di NHW#1 ini, tidak ada jawaban yang benar dan salah, karena kita hanya diminta untuk fokus pada ilmu-ilmu yang memang akan kita tekuni di Universitas Kehidupan ini. Yang diperlukan hanya dua yaitu fokus dan percaya diri. Jangan sampai saat kuliah dulu kita salah jurusan, bekerja salah profesi, sekarang mengulang cara yang sama saat menapaki kuliah di universitas kehidupan, tapi mengharapkan hasil yang berbeda. Kalau pak Einstein menamakan hal ini sebagai Insanity.

Insanity is doing the same things over and over again, and expecting different result.
–Albert Einstein

Setelah kami cermati , ada beberapa peserta yang langsung menemukan jawabannya karena memang sehari-hari sudah menggeluti hal tersebut. Ada juga yang masih mencari-cari, karena menganggap semua ilmu itu penting.
Banyak diantara kita menganggap semua ilmu itu penting tapi lupa menentukan prioritas. Hal inilah yang menyebabkan hidup kita tidak fokus, semua ilmu ingin dipelajari, dan berhenti pada sebuah “kegalauan” karena terkena “tsunami informasi”. Yang lebih parah lagi adalah munculnya penyakit FOMO (Fear of Missing Out), yaitu penyakit ketakutan ketinggalan informasi. Penyakit ini juga membuat penderitanya merasa ingin terus mengetahui apa yang dilakukan orang lain di media sosial. FOMO ini biasanya menimbulkan penyakit berikutnya yaitu NOMOFOBIA, rasa takut berlebihan apabila kehilangan atau hidup tanpa telepon seluler pintar kita.
Matrikulasi IIP batch#5 ini akan mengajak para bunda untuk kembali sehat menanggapi sebuah informasi online. Karena sebenarnya sebagai peserta kita hanya perlu komitmen waktu 2-4 jam per minggu saja, yaitu saat diskusi materi dan pembahasan review, setelah itu segera kerjakan NHW anda, posting dan selesai, cepatlah beralih ke kegiatan offline lagi tanpa ponsel atau kembali ke kegiatan online dimana kita fokus pada informasi seputar jurusan ilmu yang kita ambil. Hal tersebut harus diniatkan sebagai investasi waktu dan ilmu dalam rangka menambah jam terbang kita.
Katakan pada godaan ilmu atau informasi yang lain yang tidak selaras dengan jurusan yang kita ambil, dengan kalimat sakti ini:

MENARIK, TAPI TIDAK TERTARIK

Apa pentingnya menentukan jurusan ilmu dalam universitas kehidupan ini?

Jurusan ilmu yang kita tentukan dengan sebuah kesadaran tinggi di universitas kehidupan ini, akan mendorong kita untuk menemukan peran hidup di muka bumi ini.

Sebuah alasan kuat yang sudah kita tuliskan kepada pilihan ilmu tersebut, jadikanlah sebagai bahan bakar semangat kita dalam menyelesaikan proses pembelajaran kita di kehidupan ini.
Sedangkan strategi yang sudah kita susun untuk mencapai ilmu tersebut adalah cara/kendaraan yang akan kita gunakan untuk mempermudah kita sampai pada tujuan pencapaian hidup dengan ilmu tersebut.
Sejatinya, semakin kita giat menuntut ilmu, semakin dekat kita kepada sumber dari segala sumber ilmu, yaitu “Dia” Yang Maha Memiliki Ilmu.
Indikator orang yang menuntut ilmu dengan benar adalah terjadi perubahan dalam dirinya menuju ke arah yang lebih baik.
Tetapi di Institut Ibu Profesional ini, kita bisa memulai perubahan justru sebelum proses menuntut ilmu. Kita yang dulu sekedar menuntut ilmu, bahkan menggunakan berbagai cara kurang tepat, maka sekarang berubah ke Adab menuntut ilmu yang baik dan benar, agar keberkahan ilmu tersebut mewarnai perjalanan hidup kita.

Menuntut ilmu adalah proses kita untuk meningkatkan kemuliaan hidup, maka carilah dengan cara-cara yang mulia.

Salam Ibu Profesional,
Septi Peni Wulandani

Sumber Bacaan:
Hasil Penelitian “the stress and wellbeing” secure Envoy, Kompas, Jakarta, 2015
Materi “ADAB MENUNTUT ILMU” program Matrikulasi IIP, batch #5, 2018
Hasil Nice Home Work #1, peserta program Matrikulasi IIP batch #5, 2018