Matrikulasi #2 Allah, Kehendaki Aku Menjadi Pribadi, Istri, dan Ummi Seperti Ini

Hal lain yang menarik dari mengikuti Kelas Matrikulasi di Institut Ibu Profesional ini adalah penyamarataan peserta tanpa pandang bulu. Pernah suatu ketika ketika saya membaca di suatu blog salah satu member Ibu Profesional, disebutkan bahwa ilmu parenting adalah jenis keilmuan yang berat. Pasalnya, untuk bisa sampai pada tahap dimana ilmu parenting itu bisa dibagikan ke orang lain, orang itu harus sudah terlebih dahulu mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi nggak cuma omong doang tapi benar-benar menerapkan dan menganalisis hasil teorinya. Masyaa Allah, betapa menantangnya menjadi orang tua ya.
Alih-alih dikucilkan karena “belum menikah” yang mungkin akan menandakan “lebih sedikitnya ilmu dan pengalaman”, saya justru merasa ibu-ibu dalam kelas ini saling menebar aura positif yang menambah semangat untuk semakin lagi dan lagi mencari ilmu demi menciptakan peradaban yang lebih baik. Semua peserta terasa setara. Meski beberapa kali kentara perbedaan isi “curhat” seperti ibu-ibu bersuami cenderung curhat reaksi suaminya, sedangkan saya masih bisa elus dada sambil berkata dalam hati, “Sabar, nanti Almira juga ada waktunya” 😀
Tapi perbedaan status tidak menjadikan kesempatan kami dalam mencari ilmu berbeda. Semua punya kesempatan yang sama untuk bertanya, berdiskusi, bermimpi, bahkan mendukung satu sama lain. Dan untuk nikmat Allah yang satu ini, agaknya saya tak bisa berhenti bersyukur telah dipertemukan dengan ibu-ibu hebat. Alhamdulillaah.
Setelah kemarin mengerti, memahami, dan mulai mempraktikkan adab mencari ilmu, materi kedua yaitu Overview Ibu Profesional, yang artinya akan dikupas tuntas mengenai hal-hal yang terkait dengan komunitas yang saya kagumi ini. Di bawah ini dalah resume materi Overview Ibu Profesional yang saya dapatkan.

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional
IIP2-A
Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #5? Pekan ini kita akan belajar bersama:

  • Apa itu Ibu Profesional?
  • Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
  • Bagaimana tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
  • Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

Apa Itu Ibu Profesional?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata “Ibu” ya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna;

  1. perempuan yang telah melahirkan seseorang;
  2. sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
  3. panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
  4. bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
  5. yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota;

Sedangkan kata “Profesional“, memiliki makna;

  1. bersangkutan dengan profesi;
  2. memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak –;

Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka “Ibu Profesional” adalah seorang perempuan yang:

  1. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  2. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Apa Itu Komunitas Ibu Profesional?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.
VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.
MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

  1. Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
    guru utama dan pertama bagi anaknya.
  2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
    sehingga menjadi keluarga yang unggul.
  3. Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
  4. Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

Bagaimana Tahapan Menjadi Ibu Profesional?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu:

  1. Bunda Sayang
    Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya
  2. Bunda Cekatan
    Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
  3. Bunda Produktif
    Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
  4. Bunda Shaleha
    Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

Apa Indikator Keberhasilan Ibu Profesional?

MENJADI KEBANGGAAN KELUARGA

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.
Maka yang perlu ditanyakan adalah sebagai berikut:
BUNDA SAYANG

  1. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
  2. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
  3. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
  4. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN

  1. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
  2. Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
  3. Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
  4. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF

  1. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
  2. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
  3. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
  4. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA

  1. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
  2. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
  3. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
  4. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan.
Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sebagai berikut:

“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik”
–Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional
Tim Matrikulasi Ibu Profesional

Sumber Bacaan:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

Dan seperti materi sebelumnya, selalu ada tantangan yang menambah semangat para calon ibu profesional yaitu Nice Homework. Ketika membaca tantangan yang diberikan, saya mulai berpikir bahwa semakin lama tentu NHW yang diberikan akan semakin naik level. Hal ini membuat saya was-was dengan kemampuan saya sendiri. Namun sekaligus bersemangat karena itu artinya saya sedang keluar dari zona nyaman dan mempersilahkan diri sendiri untuk mencapai tingkatan manusia yang memperbaiki dirinya, Insyaa Allah 🙂
Saya ucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim, berikut merupakan NHW saya 🙂

NICE HOMEWORK #2

IIP2-B
Buatlah checklist indikator profesionalisme perempuan yang kita sendiri bisa menjalankannya.

  • Sebagai individu
  • Sebagai istri
  • Sebagai ibu

Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.
Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan
“andaikata” aku menjadi istri, apa yang harus aku lakukan, “andaikata: kelak aku menjadi ibu, apa yang harus aku takukan. Kita belajar membuat indikator untuk diri
sendiri.
Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:

  • Specific (unik/detail)
  • Measurable (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
  • Achievable (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
  • Realistic (berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
  • Timebound (berikan batas waktu)

Buatlah checklist indikator profesionalisme perempuan!

Berat ya? Usia saya ini usia dimana beberapa perempuan mungkin sedang menikmati indahnya pertemanan dan minum kopi di kafe sudut-sudut kota. Beberapa sedang memperjuangkan idealismenya pada forum-forum di dinginnya lantai malam kampus. Beberapa ada yang sudah menyematkan cincin mungil pada jari manisnya. Beberapa sibuk mencari beasiswa di luar negeri sembari meningkatkan skor tes kemampuan berbahasa asing. Eh saya di sini, di pojokan kamar tidur, sendirian, memikirkan kira-kira indikator apa yang menjadikan saya sebagai pribadi, istri, dan ibu yang saya sendiri inginkan. Ya Allah, kebaikan macam apa yang Engkau berikan ini? :’)
Awalnya saya jelas bingung. Meraba-raba dalam nurani saya sendiri sebenarnya Almira yang seperti apa yang membuat saya merasa berhasil dan bahagia. Apalagi saya seringkali merasa bahwa I am never good enough for everyone–bahkan untuk diri saya sendiri. Tapi Alhamdulillaah-nya, saya termasuk barisan yang menyadari bahwa hal itu tidak baik untuk dibiarkan terus-menerus. Jadi mungkin dengan adanya checklist ini saya bisa mulai menata hati dan mengikhlaskan kenyataan bahwa:

Almira, kamu memang bukan manusia yang sempurna. Dan itu sah-sah saja.

Malahan ada kisah lucu yang dilontarkan salah seorang ibu yang bertanya kepada suaminya, “Istri seperti apa yang membuat Mas bahagia?” lantas sang suami menjawab, “Ya seperti kamu.” Saya mah yang belum bisa nanya siapa-siapa hanya mampu menarik nafas panjang dan berbisik lirih “Ok.” 🙂
Tapi bicara soal indikator, Alhamdulillaah saya merasa tidak terlalu buta mengenai teknis cara membuatnya. Di bangku perkuliahan, saya belajar mengenai Manajemen Kinerja yang juga diterapkan saat menjadi pengurus organisasi kampus. Sehingga ilmu yang saya dapatkan saat itu cukup menjadi pegangan yang bermanfaat dalam mengembangkan indikator perempuan profesional ini. Saya lebih familiar dengan sebutan Key Performance Indicator dibandingkan checklist 🙂 Teman-teman bisa mengaksesnya di tautan ini atau melihat pada gambar di bawah ini.
NHW2
Selain memastikan bahwa aspek SMART telah saya terapkan, saya juga menambahkan aspek lain seperti bobot pada setiap elemen. Penentuan bobot ini juga bukan merupakan hasil “asal tulis angka” saja. Misalnya pada penentuan bobot setiap perspektif. Saya memberikan nilai bobot 0,4 pada perspektif Individu namun hanya memberikan 0,3 untuk masing-masing perspektif Istri dan Ibu. Hal ini disebabkan karena dalam perspektif individu juga mencakup aspek spiritual saya yakni menjadi hamba terbaik Allah.
Tapi, sejak keilmuan ini ditemukan hingga dikembangkan di zaman serba canggih ini (seperti kemudahan yang saya nikmati dalam melakukan update realisasi KPI menggunakan Google Sheets), kesulitan yang dialami justru bukanlah dalam hal pembuatan saja tetapi lebih terhadap penerapannya nanti. Akankah saya konsisten, mampukah saya menjadi perempuan profesional sesuai indikator yang saya tulis sendiri, justru akan menjadi hal-hal yang lebih menantang dan teramat membutuhkan pertolongan Yang Maha Mengatur segala urusan.
Bismillaahirrahmaanirrahiim Ya Allah, ridhailah niat baik hamba, mudahkanlah urusan hamba, dan kehendakilah hamba menjadi pribadi, istri, dan ummi seperti ini.

Referensi: Jurnal Ammi

Setelah mengerjakan NHW #2, peserta akan diberikan review mengenai materi pertama. Berikut adalah review dari Overview Ibu Profesional 🙂

REVIEW

Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Review Nice Homework #2 Pertama yang akan kami katakan adalah salut untuk para bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional yang berhasil mengalahkan “rasa” berat untuk mengerjakan NHW #2 ini.
Kalau di Jawa ada pepatah yang mengatakan “Ojo kalah karo wegah” (Jangan mau kalah dengan rasa malas). Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan mampu atau tidak mampu melainkan mau atau tidak mau.
Terbukti teman-teman bisa melakukannya di tengah kesibukan yang luar biasa. Kami sangat menghargai proses teman-teman membuat checklist profesionalisme ini. Mulai dari menanti-nanti jawaban dari suami dan anak bagi yang sudah berkeluarga, maupun melakukan kesungguhan bermain “andaikata aku menjadi istri dan ibu” bagi yang sedang dalam proses memantaskan diri membangun keluarga.
Ada yang terkaget-kaget dengan banyaknya list jawaban dari suami dan anak-anak, ada juga yang bingung dengan jawaban dari para suami dan anak, karena terlalu sederhananya keinginan mereka terhadap kita, demi sebuah kebahagiaan.

Komitmen dan Konsisten

Dua kata itulah yang akan menjadi kunci keberhasilan kita dalam membuat checklist profesionalisme ini. Buatlah komitmen setahap demi setahap, sesuai dengan kemampuan kita, kemudian belajar istiqomah, konsisten menjalankannya. Konsistensi kita terhadap sebuah komitmen yang indikatornya kita susun sendiri, akan menjadi pondasi kita dalam menyusun “ deep habit” yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berpikir dan benar-benar krusial untuk hidup kita.
Selama ini disadari atau tidak banyak diantara kita memaknai aktivitas sehari-hari mendidik anak dan mengelola keluarga sebagai aktivitas “shallow work”, yaitu aktivitas yang dangkal, tidak fokus, penuh distraksi (gangguan-gangguan) sehingga tidak memunculkan perubahan besar dalam hidup kita, bahkan banyak yang cenderung bosan dengan kesehariannya.
Selama ini status-status dangkal yang terus mengalir di sosial media seperti Facebook (FB) ditambah puluhan notifikasi Whatsapp (WA) sering membuat kita terjebak dalam “shallow activities”, kelihatan sibuk menghabiskan waktu, tetapi sebenarnya tidak memberikan hasil nyata bagi perubahan hidup kita.
Harapan kami dengan adanya Checklist Profesionalisme Perempuan ini, teman-teman akan lebih fokus dalam proses “peningkatan kualitas diri” kita sebagai perempuan, istri dan ibu. Meski kita menggunakan media WA dan FB sebagai kendaraan belajar kita, tetapi kita bisa mengubah aktivitas yang dulunya masuk kategori shallow work menjadi deep work (aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita).
Untuk itu mari kita lihat kembali checklist kita :

  1. Apakah kalimat-kalimat di checklist itu sudah spesifik? Misal kalimat “akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah” akan lebih baik anda ganti dengan “Setiap hari akan menentukan gadget hours selama 2 jam”.
  2. Apakah kalimat-kalimat di checklist sudah terukur? Misal “Menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga”, akan lebih baik kalau diganti dengan “Sehari minimal menyelenggarakan 1 x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga”.
  3. Apakah checklist yang kita tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan? Ukur diri kita apakah mungkin? Karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau anda ganti dengan “Membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya”.
    Sesuatu yang terlalu susah diraih itu akan membuat kita stres dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan. Kembali ke istilah jawa ini namanya “gayuk…gayuk tuna” (contoh kasus, kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan aja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai proses)
  4. Apakah tantangan yang kita tulis di checklist ini merupakan tantangan-tantangan yang kita hadapi sehari-hari? Misal anda adalah orang yang susah disiplin selama ini. maka sangat pas kalau di checklist anda tulis, akan berusaha tepat waktu di setiap mendatangi acara IIP baik offline maupun online.
    Jadi jelas memang akan menyelesaikan tantangan yang ada selama ini.
  5. Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama bulan November. Akan belajar tepat waktu selama 1 bulan pertama mulai bulan depan. Kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi nantinya. Silakan teman-teman lihat kembali checklist masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri kita.

Silakan di print out, dan ditempel di tempat yang kita lihat setiap hari. Izinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang kita tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri andalah yang paling berhak menilai perkembangan kita.

Berusahalah jujur kepada diri sendiri.

Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi IIP

Sumber Bacaan :
Deep Work, Cal Newport, E book, akses 30 Oktober 2016.
Materi “Menjadi Ibu Profesional” program Matrikulasi IIP, batch #5, 2018
Hasil Nice Home Work #2, peserta program Matrikulasi IIP batch #5, 2018

One thought on “Matrikulasi #2 Allah, Kehendaki Aku Menjadi Pribadi, Istri, dan Ummi Seperti Ini

Comments are closed.