Matrikulasi #3 Menentukan Peran Dalam Pembangunan Peradaban

Setelah mendalami dan mulai hari demi hari mempraktikkan pelaksanaan indikator pengukuran perempuan profesional, materi yang diberikan makin ke sini makin menohok. Saya tidak bisa menemukan kata yang paling tepat selain “menohok” karena memang itulah yang saya rasakan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam materi kali ini sangatlah menjadi refleksi bagi diri saya pribadi bahwa ternyata masih banyak hal yang belum saya selesaikan sebagai individu.
Berikut adalah materi 3 kelas matrikulasi IIP 🙂

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya.

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendak-Nya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifiknya”, tugas kita memahami kehendak-Nya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?

Pra Nikah

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

  1. Bagaimana proses anda dididik oleh orang tua anda dulu?
  2. Adakah yang membuat anda bahagia?
  3. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam” sampai sekarang?
  4. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orang tua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan, dan tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.

Karena, orang yang belum selesai dengan masa lalunya , akan menyisakan banyak luka ketika mendidik anaknya kelak.

Nikah

Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sebagai berikut.

  1. Temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
  2. Lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?
  3. Lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
  4. Lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

Orang tua Tunggal (Single Parent)

Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

  1. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
  2. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
  3. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.

Karena, it takes a village to raise a child. Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak.

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalan-Nya. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.
Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

Sumber Bacaan
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

Materi ketiga ini memiliki kata kunci yakni rumah, peran, dan peradaban. Tak main-main, tim matrikulasi IIP memilih kata peradaban yang sangat berat secara makna. Mengapa “peradaban”? Mengapa tak “dunia” atau “negara”? Peradaban menurut KBBI sendiri adalah kemajuan (kecerdasan, kebudayaan). Hal ini menandakan bahwa pemilihan topik “peran untuk peradaban” memikul tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan hanya sekedar “peran untuk negeri” atau “peran untuk dunia”.
Whoa, ternyata peran ibu-ibu dan calon ibu-ibu macam saya ini sangatlah signifikan untuk pembangunan sebuah peradaban. Bagaimana bisa? Sebab dari rahim seorang ibu lah lahir seorang anak yang akan menjadi pemimpin yang baik setidaknya bagi dirinya sendiri. Sebab dari didikan seorang ibu lah tumbuh generasi-generasi pembangun bangsa. Dengan catatan, jika dan hanya jika, ibu-ibu semakin tersadarkan akan peran pentingnya ini. Semakin memahami pula bahwa amanah seorang buah hati saja akan menjadi ladang pahala (atau bisa sebaliknya) yang amat melimpah. Keputusan ada di tangan perempuan-perempuan yang memulai peran untuk peradabannya, dari rumahnya sendiri.
Tapi rumah yang mana? Terjawab pula pertanyaan tersebut dari materi di atas bahwa dalam kondisi apapun (belum menikah, sudah menikah, bercerai dan menjadi single parent) akan tetap menjadikan seorang perempuan memiliki “rumah” untuk melaksanakan perannya. Kondisi belum menikah, sudah sepatutnya memanfaatkan momen yang ada untuk melaksanakan hal-hal produktif yang Alhamdulillah masih bisa dilakukan sebelum berurusan dengan popok, susu, dan perlengkapan bayi lainnya. Pelaksanaan hal-hal produktif ini tentu berawal dari rumah yang berisikan keluarga inti yaitu Ayah, Ibu, dan dirinya sendiri sebagai anak (juga mungkin kakak atau adik). Dan untuk kondisi sudah menikah (baik bercerai maupun tidak), rumah yang dimaksudkan tentu lebih spesifik lagi yakni rumah di mana suami dan anak-anak bernaung. Peran yang dilaksanakan bukan lagi hanya sebagai individu dan anak saja. Tetapi juga peran sebagai istri, ibu, menantu, dan ipar bagi orang lain.
Namun sesuai kondisi saat ini, saya merasa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan (ya meski hanya untuk dijawab di dalam hati saja) sangatlah membuat saya hmmm kalau bahasa sekarangtercyduk”. Dan untuk membagi kisah saya, saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut namun tentu akan ada beberapa area yang hanya menjadi privasi saya seorang 🙂 Markimul, mari kita mulai.
Bagaimana proses anda dididik oleh orang tua anda dulu?
Kalau teman-teman pernah membaca post ini pada blog saya, maka teman-teman akan mendapatkan sedikit gambaran mengenai bagaimana proses mendidik ala orang tua saya. Beliau, keduanya, cenderung memberikan ekspektasi yang tinggi terhadap pencapaian hidup saya. Semua harus berjalan (nyaris) sempurna dan sebisa mungkin melampaui orang lain. Harus ada bahan yang bisa diceritakan ke khalayak ramai. “Anak saya lho begini, anak saya lho begitu.” Dan sebisa mungkin pencapaian tersebut di segala aspek.
Seperti orang tua kebanyakan, terutama Mama saya, mengharapkan saya menjadi seorang dokter. Pemikiran yang bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa “dokter adalah pekerjaan orang sukses” atau bahkan “belum sukses kalau belum jadi dokter”. Dan keputusan saya untuk tidak mengambil jurusan kedokteran (karena tahu kapasitas saya pribadi) menjadikan harapan itu lantas jatuh kepada adik-adik saya.
Adakah yang membuat anda bahagia?
Sisi baiknya, pola asuh kedua orang tua saya juga merupakan pola asuh yang struggle terhadap kehidupan. Beliau, keduanya, tidak mudah menyerah terhadap keadaan. Saya dan keempat adik saya juga diajarkan pola hidup hemat dan teratur. Dan yang paling utama sekaligus saya syukuri hingga saat ini adalah dasaran yang kuat dalam menjalankan kehidupan beragama. Ayah dan Mama saya sangat menjaga salat, puasa, tilawah, dan amalan lainnya. Hal itu tentu menjadi motivasi saya dalam menerapkan pola didik serupa kepada anak-anak saya nanti. Sebab pola asuh yang demikian membuktikan adanya keteladanan dari orang tua. Sehingga tidak asal bicara “Ayo salat salat!” “Anak kok nggak pernah ngaji!” padahal orang tuanya sendiri juga belum salat dan jarang mengaji. Naudzubillaah.
Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam” sampai sekarang?
Satu hal yang menjadikan hati saya sakit (bahkan mungkin hingga sekarang) adalah tidak adanya apresiasi nyata dari setiap usaha yang saya lakukan. Saya selalu berusaha menjadi anak terbaik yang mencapai bahkan melampaui ekspektasi keduanya. Namun terkadang hal itu hanya menjadi “Tuh kan Almira bisa.” dan jarang sekali ada ucapan selamat atau terima kasih karena saya sudah berjuang dan mengorbankan banyak keinginan saya pribadi.
Misalnya saat dahulu saya ingin menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMAN 16 Surabaya semata-mata karena banyak dari teman-teman saya yang melanjutkan pendidikannya ke sana. Namun hal itu harus terkubur karena kedua orang tua mengharapkan saya masuk ke SMAN 5 Surabaya karena merupakan sekolah favorit pada masa itu. Setelah berupaya agar bisa masuk SMAN 5 Surabaya, tibalah masa pendaftaran ulang. Saya sudah mengharapkan bahwa saya akan mendapat pujian atau bahkan sekedar ucapan terima kasih karena telah memenuhi ekspektasi keduanya, namun yang terjadi justru kesedihan. Pasalnya, saya melakukan daftar ulang sendirian. Literally sendiri. Mama harus bekerja sementara Ayah sedang di luar kota. Saya tentu terheran-heran, “Saya ini lho sudah memasuki SMA favorit yang beliau minta, sudah berusaha dan berjuang demi keduanya. Masa untuk urusan daftar ulang saya harus datang sendiri sementara calon siswa lainnya diantar (dengan tatapan penuh kebanggaan) oleh kedua orang tuanya?” Hari itu saya marah dan benar-benar kecewa.
Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orang tua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
Pertanyaan yang satu inilah yang membuat saya hampir menangis. Saya sadar betul bahwa saya sakit hati. Saya tahu bahwa pola asuh yang demikian salah. Saya bahkan mengungkapkan kekecewaan saya saat itu (meski tidak dengan cara yang semestinya). Tapi saya harus menyadari bahwa Ayah dan Mama saya adalah manusia biasa yang juga penuh dengan kesalahan. Sampai kapan saya akan mengubur rasa kecewa saya terhadap didikan beliau? Sampai kapan saya akan menyimpannya? Apakah ini tidak akan menjadikan bumerang bagi saya sendiri dalam mendidikan anak saya nanti?
Pertanyaan itu terngiang-ngiang dalam pikiran saya. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Saya bukan keledai dan tidak berminat memiliki sifat seperti keledai. Saya tak mau menjadi bodoh dan buta akan ilmu. Saya sadar, saya harus mengikhlaskan. Sebab bagaimanapun juga saya tidak akan bisa sampai di titik yang sekarang tanpa kedua orang tua saya. Saya tidak akan mudah diterima di perguruan tinggi negeri apabila saya tidak bersekolah di SMAN 5 Surabaya. Begitu pula dengan pencapaian hidup saya yang lain yang mengantarkan saya pada kemudahan-kemudahan di tahap selanjutnya.
Selain itu, bagaimana pun juga bakti kepada orang tua adalah ladang jihad terbaik bagi saya. Bila mereka bahagia, dan bila saya mencintai Allah serta memahami perintah-Nya, maka saya akan turut bahagia. Saya paham bahwa keinginan seorang anak dan orang tua sebenarnya sangat bisa dikompromikan. Tapi toh nasi sudah menjadi bubur. Daripada menyesali apa yang sudah terjadi, lebih baik saya mengikhlaskan dan menikmati bubur tersebut. Saya hanya perlu mewarnainya. Menambahkan telur, ayam suwir, sedikit daun bawang dan bawang goreng, serta kecap asin di atasnya. Dengan begitu saya akan lebih bahagia. Saya tidak ingin menyimpan dendam ini. Meski ketika pola asuh tersebut kembali terulang saya mungkin masih mengeluh, saya ingin mengikhlaskannya meski harus perlahan-lahan. Bismillaah, Insyaa Allah, Allah akan menolong niat baik saya. Aamiin.

NICE HOMEWORK #3

IIP3-B.png
Bunda, setelah kita belajar tentang “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah” maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.
Pra Nikah
Bagi anda yang sedang memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh yang baik.

  1. Tulislah suara hati anda dengan tema “Untukmu Calon Imamku”.
  2. Lihatlah diri anda, tuliskan kekuatan potensi yang ada pada diri anda.
  3. Lihatlah orang tua dan keluarga anda. Silakan belajar membaca kehendak-Nya, mengapa anda dilahirkan di tengah-tengah keluarga anda saat ini dengan bekal/senjata potensi diri anda. Misi rahasia hidup apa yang Dia titipkan ke diri kita. Tulis apa yang anda rasakan selama ini.
  4. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda?adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa anda dihadirkan di lingkungan ini?

Nikah
Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

  1. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
  2. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
  3. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
  4. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Orang tua Tunggal (Single Parent)
Bagi anda yang saat ini sedang mendidik anak-anak anda sendirian tanpa kehadiran pasangan hidup kita.

  1. Buatlah “Tanda Penghormatan”, dengan satu dua kalimat tentang sisi baik “ayah dari anak-anak kita” sehingga dia layak dipilih Allah menjadi ayah bagi anak kita, meskipun saat ini kita tidak lagi bersamanya.
  2. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
  3. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak anda, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan dengan tantangan keluarga yang luar biasa seperti ini. Apa misi hidup rahasia-Nya sehingga kita diberi ujian tetapi diberikan bekal kekuatan potensi yang kita miliki.
  4. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?
  5. Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” anda di muka bumi ini.

Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga kata demi kata di nice homework #3 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan hati yang membacanya.
Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi IIP

Tulislah suara hati anda dengan tema “Untukmu Calon Imamku”.

Saya rasa tidak ada dua kata yang paling menggambarkan bagaimana IIP menentukan NHW bagi para peserta selain “menarik” dan “menantang”. Saat membaca perintah yang satu ini. Saya senyum-senyum sendiri karena saya memang pernah menuliskan hal serupa, hanya saja belum saya tuntaskan. Dan dengan adanya NHW ini maka menjadi kewajiban, tanggung jawab, sekaligus hal menyenangkan bagi saya untuk menuntaskan surat tersebut. Alih-alih menuliskannya di sini, saya membuatnya di akun Steller pribadi saya. Teman-teman bisa mengaksesnya di sini 🙂
Miw
Di dalamnya, saya menuliskan banyak hal. Mengenai harapan, kondisi saya saat ini, apa yang saya ingin kami perjuangkan, dan doa-doa untuknya. Semoga yang akan menjadi pasangan hidup saya kelak bisa berkesempatan untuk membaca dan menceritakan kembali ekspresinya saat kami berjumpa. Aamiin.

Lihatlah diri anda, tuliskan kekuatan potensi yang ada pada diri anda.

Pertanyaan ini justru menjadi pertanyaan yang membuat saya berpikir cukup lama. Padahal ini salah satu pertanyaan sederhana yang seringkali ditanyakan ektika saya mendaftar suatu organisasi atau kepanitiaan yang hendak saya ikuti. Tetapi saya rasa yang kali ini berbeda. Atau mungkin yang dulu itu saya terlalu banyak “menjilat” sehingga saat ini, ketika saya dituntut untuk jujur dan menerawang kembali ke dalam diri saya, saya justru have no clue.
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Saya bisa bilang bahwa diri saya adalah orang yang suka melihat segala sesuatu berjalan sempurna. Hal ini menjadikan saya menjadi seorang pembelajar yang ulung. Saya mudah mengerti suatu topik dan mengembangkan pengetahuan yang saya miliki. Jika ada kesempatan, saya suka diperkenankan langsung belajar hal-hal praktikal dibandingkan teoritis. Anugerah berupa kecerdasan yang diberikan Allah ini saya rasa dimiliki semua orang namun pada tingkatan yang berbeda. Dan Allah memberi saya tingkat yang cukup tinggi. Alhamdulillaah.
Selain itu, saya adalah penyayang yang tak perhitungan dengan rasa sayang yang saya keluarkan untuk orang lain. Bahkan untuk beberapa kondisi, saya menjadi orang yang rela mengorbankan banyak hal demi kebahagiaan orang lain. Saya mudah meminta maaf, saya berusaha menempatkan diri pada posisi di mana saya harus selalu berbenah, saya tidak sungkan berkata tolong, dan terima kasih.

Lihatlah orang tua dan keluarga anda. Silakan belajar membaca kehendak-Nya, mengapa anda dilahirkan di tengah-tengah keluarga anda saat ini dengan bekal/senjata potensi diri anda. Misi rahasia hidup apa yang Dia titipkan ke diri kita. Tulis apa yang anda rasakan selama ini.

Hidup menjadi anak pertama dari empat bersaudara dimana adik kedua saya memiliki kondisi khusus tentu menjadikan saya, seharusnya, menjadi seseorang yang “dewasa lebih cepat”. Saya harus menjadi role model paling nyata bagi adik-adik saya. Saya dilarang mengecewakan mereka dengan cara berusaha sebaik mungkin. Selama ini saya pasti merasa hal itu adalah tanggung jawab yang besar dan berat. Beberapa kali saya juga mengeluhkannya. Namun saya menyadari bahwa mungkin itulah misi hidup yang ingin Allah sampaikan kepada saya bahwa sayalah kebanggan keluarga yang membuat orang tua saya, terutama Mama, tidak terus-menerus bersedih mengenai kondisi adik saya yang istimewa. Saya ada karena sayalah yang mampu menjadi topik kebanggaan Mama ketika berbicara di depan teman-teman beliau. Saya harus mempertahankan keadaan ini agar saya dapat memastikan bahwa peran saya dalam keluarga perlahan-lahan mendapatkan celah.
Sehingga, keluarga saya kemudian dapat menjadi ladang dakwah terbesar saya. Misalnya mengenai pola asuh yang diberikan kedua orang tua. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya di mana orang tua saya cenderung meletakkan ekspektasi tinggi (dan itu membuat pola pikir beliau, keduanya, cenderung merendahkan orang lain pada hal-hal duniawi) menjadikan saya adalah anak yang harus menyadarkan beliau. Sayalah yang suka belajar dan mengasah terus ilmu saya (mengenai banyak hal termasuk parenting) yang harus menunjukkan kepada beliau bahwa pencapaian dunia bukanlah segalanya dan tidak menjadi indikator apapun. Dengan begitu hal ini tentu akan berdampak kepada adik-adik saya yang diberi ekspektasi tinggi pula, namun kapasitas berpikirnya tidak anugerahi oleh Allah berada pada tingkatan setinggi saya. Dan itu wajar. Itu tak mengapa. Semua anak tentu memiliki kelebihan masing-masing dan indikator sukses bukanlah memiliki anak yang menjadi seorang dokter.

Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa anda dihadirkan di lingkungan ini?

Saat ini, saya tinggal bersama dengan orang tua dan ketiga adik saya di sebuah rumah yang terletak di perkampungan kecil di salah satu sudut kota Surabaya. Saya baru saja pindah ke daerah ini sekitar 8 bulan lamanya. Berbeda dengan keadaan pada rumah yang sebelumnya kami tempati, tetangga pada daerah di rumah baru keluarga saya cenderung tidak terlalu ramah. Mereka cenderung individualis dan canggung ketika Mama saya memberi hadiah berupaka kue atau makanan lain yang diberikan ke tetangga. Hal ini membuka mata saya bahwa mungkin, saya dihadirkan di lingkungan ini untuk mendekatkan hubungan antar tetangga menjadi lebih ramah. Saya ingin kembali bergabung menjadi anggota karang taruna atau remaja masjid sekitar agar mampu mempererat hubungan dengan tetangga saya lainnya. Atau bila tidak memungkinkan, saya bisa memulai gerakan saya dengan menyapa setiap tetangga saya meski saya belum mengenal semua orang. Hal ini akan cukup sulit mengingat saya tidak terlalu supel dan mudah merasa awkward. Tapi Insyaa Allah akan saya coba.
Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah mushalla di dekat rumah yang kurang memperhatikan syariat-syariat islam. Banyak ketentuan yang berjalan di sini hanya berjalan sesuai budaya. Misalnya dalam memilih imam untuk mushalla. Masih tersebar anggapan bahwa imam haruslah yang paling tua. Padahal tidak. Ketentuan memilih imam masjid tentu ada aturannya. Yang pertama dipilih adalah orang dengan hafalan surat pada Alquran paling banyak. Kemudian yang tajwid, makhrijulk hurf, dan cara membacanya paling benar, dan seterusnya. Selain itu, posisi salat perempuan dan laki-laki sejajar dan hanya terhalang hijab (penutup). Saya menyadari bahwa mendakwahkan hal-hal semacam ini tentu akan sangat sulit mengingat saya merupakan warga pendatang dan ini adalah hal yang sudah membudaya sejak dahulu. Namun dengan pendekatan secara perlahan dan masif, Insyaa Allah, Allah akan memudahkan jalan saya.
Jadi, bila dirangkum, sebenarnya peran saya baik dalam keluarga maupun lingkungan, tentu adalah untuk berdakwah mengenai hal-hal yang sudah saya pelajari dan terus-menerus meningkatkan keilmuan yang saya miliki. Bismillaah. Semoga orang-orang di sekitar saya bisa saling bersinergi dan menguatkan satu sama lain. Aamiin 🙂
Berikut ini adalah review dari materi Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah.

REVIEW

Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Kalau kamu ingin berbincang-bincang dengan Dia, maka temuilah Diadengan caramu, Tetapi apabila kamu ingin mendengar Dia berbicara, memahami apa kehendak-Nya padamu, maka Iqra’, bacalah semua tanda cinta-Nya untuk kita, mulai dari surat cinta-Nya sampai dengan orang-orang dan lingkungan di sekeliling kita.
Apa yang sudah teman-teman lakukan di proses Nice Homework #3 ini adalah proses Iqra’ (membaca).
Dimulai dari membuat surat cinta. Mengapa harus membuat surat cinta? Karena bagaimana anda bisa merasakan surat cinta-Nya, kalau anda sendiri tidak pernah menghargai betapa beratnya menuliskan sebait demi sebait surat cinta untuk kekasih anda.
Dan kita semua belajar bagaimana melihat respon, surat cinta yang disampaikan dengan hati, kadang tidak pernah berharap apapun, mulai dari dicuekin, meski tanda centang sudah berubah warna biru 😀 Sampai dengan surat cinta balasan suami yang ditulis di wall Facebook yang membuat hati makin mengharu biru.

Demikianlah Sang Maha Pemberi Cinta, kadang memberi tanpa meminta. Surat cinta sudah dikirim, waktu pertemuan sudah ditentukan, candle light dengan hidangan istimewa di sepertiga malam terakhir sudah disiapkan, tapi kita kekasihnya tetap dingin dengan seribu satu alasan. Tetapi Diatetap mencintai kita, tanpa pamrih.

Menyitir puisi Sapadi Djoko Damono,
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada
Maka tetaplah alirkan cinta kepada pasangan anda, anak-anak anda, jangan pernah berhenti, seberapapun menyakitkannya balasan yang anda terima. Terima kasih untuk kebesaran hati teman-teman mempercayakan grup ini untuk menerima aliran rasa anda.
Setelah mengalirkan rasa, sekarang mulailah melihat dua kalimat yang sangat penting ini untuk memaknai apa makna sebuah Misi Kehidupan.

Dua hari yang paling penting dalam hidupmu adalah hari pada saat kamu dilahirkan dan hari di saat kamu menemukan jawaban mengapa kamu dilahirkan.

Setiap dari kita memiliki misi spesifik hidup yang sangat penting digunakan dalam membangun peradaban. Langkah berikutnya adalah kita akan dipertemukan dengan partner hidup kita, anak-anak kita dimana mereka membawa misi hidupnya sendiri-sendiri, dan bersama kita dalam sebuah keluarga. Beberapa gabungan misi spesifik hidup setiap anggota keluarga tersebut akan bersinergi membentuk sebuah misi spesifik keluarga. Inilah yang akan menjadi amunisi kekuatan kita untuk mengarungi samudera di atas bahtera rumah tangga, baik di saat ombak tenang, maupun saat badai menghadang.
Maka ada satu kalimat lagi yang bisa lebih membantu kita untuk memaknai apa arti sebuah misi keluarga.

Dua fase yang paling penting dalam hidupmu adalah fase di saat kamu bertemu dengan jodohmu dan fase di saat kamu menemukan jawaban mengapa kamu berdua dipertemukan.

Dengan demikian makin paham kita bahwa semua menginginkan ‘keberadaan’ kita dan keluarga kita, Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Maka bersungguh-sungguhlah dalam menjaga “amanah” yang sudah diberikan dengan sepenuh cinta untuk kita.
Semua keluarga berjalan menuju sebuah Visi Hidup. Kesamaan visi hidup inilah yang membuat kita bisa bersama-sama dalam satu gerakan dengan saling menguatkan peran masing-masing sesuai dengan misi spesifik hidup dan keluarga masing-masing. Inilah visi hidup kita semua dalam membangun peradaban, terlalu berat apabila dikerjakan sendiri-sendiri, maka kerjakanlah dengan misi spesifik kita masing-masing.
Jangan pernah bandingkan diri anda/anak anda/keluarga anda dengan diri/anak/keluarga lain. Tapi bandingkanlah dengan diri/anak/keluarga anda sendiri. Apa perbedaan anda hari ini dengan perbedaan anda satu tahun yang lalu.

Kuncinya bukan pada seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan seberapa bersungguh-sungguhnya kita dalam menjalankan misi hidup kita.

Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi IIP

Sumber Bacaan :
Materi matrikulasi membangun peradaban dari dalam rumah, IIP, 2018
Tulisan-tulisan Nice Homework #3 dari para peserta matrikulasi IIP, 2018
Hasil diskusi penajaman misi hidup dengan bapak Dodik Mariyanto dan Abah Rama Royani