Matrikulasi #4 Mendidik Sesuai Fitrah, Bertumbuh Dengan Alamiah

Kalau boleh berkata–sekaligus mengeluh–mengenai hari-hari yang terjadi setiap kali usai mengerjakan NHW, aduh rasanya amanah yang dipikul semakin berat. Sebab bila tak tahu ilmunya tak akan dihisab, kali ini jelas berbeda. Karena sudah tahu ilmu mengenai adab menuntut ilmu, bagaimana menjadi dan menentukan indikator perempuan profesional, serta bagaimana menemukan dan mulai menyusun sedikit demi sedikit peran dalam pembangunan peradaban, maka sudah menjadi tanggung jawab kepada diri sendiri untuk memenuhinya, melaksanakannya, dan sebisa mungkin tak melenceng dari apa yang sudah direncanakan. Heu.
Kelas di Institut Ibu Profesional dibuat sedemikian rupa hingga ibu dan calon ibu yang belajar di dalamnya tidak banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang fana. Apalagi kalau bukan agwai yang membelenggu kita beberapa dekade terakhir. Kelas dibuat sebentar, hanya satu jam. Begitu pula dengan pengerjaan NHW yang sebenarnya tak membutuhkan waktu lama–bila tak banyak merenung. Tapi karena pada dasarnya NHW ini perlu dikerjakan dengan perenungan, maka tidak bisa menjadi pembenaran bila seorang ibu atau calon ibu lebih banyak bermain dalam dunia daring dibandingkan segera menjalankan misinya, rencananya, dalam kehidupan luring atau kehidupan nyata.
Dan itu berat. Anamah itu berat. Sungguh 🙁
Tapi justru itulah yang kemudian menjadi hal yang menarik dan menantang bagi para peserta bahwa ternyata, dalam hidup di dunia ini, menjadi seorang “ibu profesional” tidak serta merta dapat secara instan kita wujudkan. Perlu proses dan pengorbanan baik berupa waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin uang. Ternyata untuk menjadi seorang “ibu profesional” kita justru harus be;lajar berpuluh-puluh–bahkan mungkin ratusan atau ribuan–sks dalam praktik nyata di kehidupan ini. Saya jadi malu sendiri, sebab gelar akadmeik boleh sarjana, tapi mengenali diri sendiri dan menentukan misi hidup rasanya disebut lulusan PAUD saja saya belum pantas. Tapi tak mengapa. Sebab kami sama-sama percaya bahwa semua akan terbayar. Mungkin tidak bisa sesegera mungkin tapi pasti suatu saat nanti akan terjadi. Dan Insyaa Allah ilmu ini tidak akan sia-sia. Aamiin.
Hal lain yang membuat saya terus-menerus “bertahan” pada kelas ini adalah karena keinginan yang kuat untuk menggali ilmu lagi-dan lagi. Dan materi minggu keempat ini sangatlah luar biasa. Sesuatu yang menjadi pertanyaan saya dalam beberapa waktu terakhir yaitu “kekuatan fitrah”. Bismillaahirrahmaanirrahiim.

MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan diri anda sendiri.
Apakah mudah? tidak. Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.
Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.
Checklist harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework #2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati di Nice Homework #3. Misi hidup dan misi keluarga sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasi”-lah yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.
Just do it, lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.
Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada “Apa yang harus dipelajari anak-anak kita”, bukan pada “Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut”. Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.
Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu,
PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH
Tahap yang harus anda jalankan adalah sebagai berikut.

  1. Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.
  2. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.
  3. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas, dan lain-lain.
  4. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunnatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.
  5. Selanjutnya tugas kita adalah menemani, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.
    Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dan sebagainya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.
  6. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara waktu bersama anak dan waktu dengan anak. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.
  7. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition“.

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi, dan sebagainya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri. Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.

Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi Ibu Profesional

Sumber Bacaan:
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014
Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016

Whoa, minggu ini rasanya menjadi satu dari sekian banyak minggu yang menjawab kegundahan hati saya selama ini. Dalam hati sendiri selalu bertanya-tanya Apakah semua orang tua selalu mengarahkan anaknya menjadi sesuatu? Apakah sang anak tidak punya kehendak apapun atas dirinya? Haruskah kami speenuhnya mengabdi? Membunuh ego kami sendiri sebagai seorang anak yang wajib patuh dan menurut? Bila kami tak memenuhi atau dengan kata yang lebih kasar, memberontak, lantas kami menjadi durhaka kah? Maka apa namanya orang tua yang memaksakan kehendak pribadinya? Tidak bisakah mereka disebut orang tua durhaka?
Ternyata Allah tak menciptakan otak kita untuk sesuatu yang sia-sia. Kita dikaruniai akal agar melihat, mengerti, menganalisis, mensintesis, dan menemukan apa yang salah dan apa yang benar. Allah mendatangkan ilmu-Nya. Allah limpahkan dengan Maha Baik Hati kepada kita. Semua ini adalah tentang fitrah. Tentang bagaimana belajar karena keharusan, keinginan, dan utamanya kebutuhan. Fitrah kita semua adalah pembelajar. Dan lingkaran tidak harus menjadi kotak. Justru semuanya akan berjalan indah dan alamiah melalui pendidikan ini, pendidikan berbasis fitrah. Masyaa Allah.
Usai membaca materi keempat kali ini, saya rasanya tak sabar segera ingin mengetahui NHW #4. Pasti yang kali ini akan butuh banyak sekali perenungan. Dugaan saya tidak meleset. Malah tepat 100%. Bismillaahirrahmaanirrahiim 🙂

NICE HOMEWORK #4


Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP, masih semangat belajar?
Kali ini kita akan masuk tahap #4 dari proses belajar kita. Setelah bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah , maka sekarang kita akan mulai mempraktikkan ilmu tersebut satu persatu.

  1. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
  2. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
  3. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
    Contoh : Seorang Ibu setiap kali beraktivitas selalu memberikan inspirasi banyak ibu-ibu yang lain. Bidang pelajaran yang paling membuatnya berbinar-binar adalah “Pendidikan Ibu dan Anak”. Lama kelamaan sang ibu ini memahami peran hidupnya di muka bumi ini adalah sebagai inspirator.
    Misi Hidup : Memberikan inspirasi ke orang lain
    Bidang : Pendidikan Ibu dan Anak
    Peran : Inspirator
  4. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
    Contoh : Untuk bisa menjadi ahli di bidang Pendidikan Ibu dan Anak maka Ibu tersebut menetapkan tahapan ilmu yang harus dikuasai oleh sebagai berikut
    * Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
    * Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
    * Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
    * Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang
  5. Tetapkan milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan misi hidup.
    Contoh : Ibu tersebut menetapkan KM 0 pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu) jam terbang di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari sang ibu mendedikasikan 8 jam waktunya untuk mencari ilmu, mempraktikkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
    Milestone yang ditetapkan oleh ibu tersebut adalah sebagai berikut.
    KM 0 – KM 1 (tahun 1) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
    KM 1 – KM 2 (tahun 2) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
    KM 2 – KM 3 (tahun 3) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
    KM 3 – KM 4 (tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha
  6. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.
  7. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Sang Ibu di contoh di atas adalah perjalanan sejarah hidup Ibu Septi Peni, sehingga menghadirkan kurikulum Institut Ibu Profesional, yang program awal matrikulasinya sedang kita jalankan bersama saat ini. Sekarang buatlah sejarah anda sendiri. Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.
Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi IIP

Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Sesuai apa yang telah saya tuliskan di sini, saya ingin menekuni jurusan ilmu istiqamah pada awalnya. Namun rasanya, kali ini harus saya perjelas kembali mengenai ilmu-ilmu dalam satu tahun ke depan yang benar-benar ingin saya tekuni secara mendalam–ya dengan ber-istiqamah itu tadi. Saya menentukan hal tersebut dengan mulai merenungi hal-hal yang menjadi hobi saya. Atau dengan kata lain hal-hal yang bisa menimbulkan kebahagiaan bagi diri saya. Saya tidak berkeinginan menekuni hal-hal yang sifatnya challenging semata karena sangat rawan tidak komitmen terhadap yang demikian. Begitu pula tidak berkeinginan menekuni hal-hal yang monoton dan hanya in di masa-masa sekarang ini.
Insyaa Allah, tahun ini saya ingin mulai belajar bisnis. Saya ingin mulai membuka toko online yang sejak dulu saya ingin mulai untuk lakukan. Saya bermaksud untuk menjual artwork buatan saya sendiri karena pada dasarnya saya seorang pecinta seni menggambar. Saya ingin menekuni kembali dunia lettering. Ingin pula menjual produk dengan beragam media lukis sepert kertas, kayu, dan kaca. Bahkan saya juga sudah membuat akun Instagram jauh-jauh hari. Hanya saja belum berani memulai karena ketakutan akan gagal–saya paham ini salah.
Namun, bukan hanya sekedar berbisnis, saya ingin menerapkan berbisnis dengan cara Rasulullah. Saya tidak ingin menerima pesanan untuk keperluan yang masih “abu-abu” batasannya seperti kado ulang tahun. Bahkan akan menolak pesanan untuk yang hukumnya sudah jelas seperti kado untuk pacar. Ingin pula isi dari produk yang saya jual adalah kalimat-kalimat yang baik dan bisa menjadi pemberat amalan saya di akhirat. Saya ingin bisnis ini jadi ladang dakwah. Bismillaah.
Semoga Allah meridhai niat saya dalam berbisnis soal hobi yang saya suka. Semoga saya dimudahkan pula dalam segala urusan. Saya ingin sekali bisa mandiri secara finansial dan bisa menjadi pribadi yang tangguh seperti Ibunda Khadija, ingin bisa menghidup banyak jiwa lewat bisnis saya, ingin tidak terikat, dan mampu menyaksikan betapa ajaibnya jalan-jalan rezeki yang Allah tunjukkan kepada umat manusia.

Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Sejak tanggal 5 Februari 2018, saya secara rutin melakukan penilaian terhadap diri saya sebagai seorang individu–karena sebagai istri dan ummi belum ditakdirkan. Teman-teman bisa mengaksesnya pada tautan ini.
Capture
Untuk setiap indikator, saya menuliskan realisasi harian dan menghitung modusnya (nilai yang paling banyak muncul). Mengapa tidak menggunakan rata-rata? Karena akan besar kemungkinan standar deviasi yang diberikan sangatlah besar. Dan terlebih karena ini lebih kepada pengukuran konsistensi, maka saya rasa “modus” lebih cocok digunakan.
Capture2.PNG
Perihal yang paling susah saya lakukan dengan konsisten adalah mengkhususkan waktu untuk melakukan hobi (A.2.1) serta membaca buku (A.2.4). Padahal, kedua indikator itulah yang akan mempermudah saya menekuni bidang bisnis dan lettering. Insyaa Allah di masa mendatang hal ini akan saya perbaiki.
Alhamdulilaah meski belum bisa sepenuhnya istiqamah dengan target yang saya tuliskan, tapi setidaknya saya sudah berusaha yang terbaik hingga pada akhirnya mencapai nilai 68 (lihat pada kolom berwarna merah) untuk apa yang sudah saya lakukan selama 14 hari ke belakang. Saya rasa nilai ini sudah sepadan dengan usaha yang saya lakukan. Setidaknya, saya bisa melakukan evaluasi dan belajar kembali membenahi hal-hal yang kurang efisien dalam mencapai target saya.

Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Aktivitas yang saya suka lakukan beberapa bulan terakhir adalah menebarkan ilmu-ilmu dan kebaikan kecil yang saya ketahui melalui fitur Instagram Story agar mudah diakses oleh teman-teman terutama yang sebaya. Misalnya ilmu mengenai KPR Syariah, Lisan Seorang Ibu, Pentingnya Memilih Resto dengan Sertifikasi Halal, dan banyak hal lainnya. Teman-teman saya cenderung menerima hal ini dengan positif dan pada kahirnya saya menganggap bahwa cara ini sangatlah efektif untuk menjangkau geenrasi zaman sekarang.
Maka, bidang yang membuat saya bersemangat adalah dakwah. Meski substansinya masih berupa hal-hal sederhana, namun banyak orang yang mengaku belum mengetahui ilmu-ilmu yang pernah saya sebarkan. Ini peluang dunia akhirat yang sangat besar bagi saya. Saya rasa inilah peran hidup saya di muka bumi ini. Singkatnya, saya hobi lettering dan menyebarkan ilmu lewat media sosial, saya bisa membuka bisnis dan menyebarkan ilmu serta kebaikan melalui produk yang saya buat. Pasarnya ada. Teman-teman saya sendiri. Bila nanti bisnis saya sudah berkembang, saya bisa mulai merekrut beberapa orang sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat di sekitar lingkungan saya.

Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Misi Hidup : Berdakwah kreatif
Bidang : Agama dan bisnis
Peran : Penebar ilmu dan wirausaha

Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Untuk bisa menjadi orang yang melaksanakan dakwah kreatif melalui jalan wirausaha, maka ilmu-ilmu yang perlu dipelajari adalah sebagai berikut.

  • Agama, segala seluk-beluknya. Ibarat peribahasa sambil menyelam minum air. Semakin banyak ilmu agama yang dipelajari maka akan semakin banyak pula konten dakwah yang relatable dengan kehidupan banyak orang. Dengan menimba ilmu agama pula akan semakin “menundukkan hati dan kepala” agar senantiasa menjaga dan menjadi pribadi yang rendah hati.
  • Bisnis. Bergabung bersama komunitas bisnis, mencari mentor yang sesuai, belajar marketing, belajar jatuh dan bangkit kembali. Terutama juga mengenai berbisnis sesuai syariat Islam.

Tetapkan milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan misi hidup.

Alhamdulillaah, di bulan ini Allah mengizinkan saya untuk menikmati–sekaligus mengevaluasi diri saya pada–usia 21 tahun. Maka ini akan menjadi titik balik hidup saya. Saya akan memula misi hidup saya pada tahun ini. Insyaa Allah.
KM 0 – Selamanya : Mempelajari ilmu agama
KM 0 – KM 1 (tahun 1) : Menguasai ilmu dasar berbisnis sesuai syariat Islam
KM 1 – KM 2 (tahun 2) : Menguasai ilmu berbisnis dan sudah memiliki mentor
KM 2 – KM 3 (tahun 3) : Menguasai ilmu pengembangan bisnis
KM 3 – KM 4 (tahun 4) : Menguasai ilmu pemberdayaan masyarakat

Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Insyaa Allah untuk bidang agama, saya melakukan penambahan indikator A.1.4 yaitu jumlah ilmu agama yang dipelajari dalam satu hari. Ilmu yang dimaksudkan bisa berupa ilmu yang didapatkan dari manapun seperti majelis ilmu, orang lain, internet, maupun media lainnya.
Capture3
Sedangkan untuk bidang bisnis, sudah ter-cover di A.2.1 dan A.2.4. Untuk indikator A.2.1 akan saya khususkan untuk masa produksi. Sedangkan untuk A.2.4 akan memfokuskan pada bacaan-bacaan mengenai dunia bisnis.

Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan!

Bismillaahirrahmaanirrahiim, saya siap! 🙂

REVIEW

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

MEMBUAT KURIKULUM YANG “GUE BANGET”
Bunda, membaca satu demi satu NHW #4 kali ini, membuat kami makin yakin bahwa akan makin banyak anak-anak Indonesia yang memiliki ibu-ibu tangguh, yang
paham akan dirinya dan mampu “Memberi Teladan” kepada anak-anaknya, bahwa seperti inilah cara belajar di Universitas Kehidupan.
Tantangan dalam mengerjakan NHW #4 ini bukan di urusan hasil pencapaian, tetapi justru di urusan “kesungguhan” bunda untuk menemukan diri. Proses ini memang tidak mudah, tetapi kalau kita tidak memulainya maka kita tidak akan pernah tahu. Maka efek berikutnya kita tidak bisa memandu anak-anak kita dalam menemukan peran hidupnya. Ketika merasa tidak bisa dan tidak mau belajar, efek berikutnya adalah kita “sub kontrakkan” pendidikan anak kita ke orang lain, yang belum tentu paham akan sisi keunikan anak kita. Inilah yang menjadi sumber awal munculnya penyakit “kemandulan” dalam mendidik anak-anak. Menggerus kekuatan fitrah kita dalam mendidik anak-anak sehingga menyatakan dirinya “tidak mampu lagi”.
Untuk itu kami akan membantu bunda dan calon bunda semuanya menemukan misi hidup ini setahap demi setahap. Bagi anda yang belum menemukan “jurusan” ilmu apa yang harus ditekuni dengan fokus, maka bersabarlah, tuliskan apa adanya di NHW #4 ini bahwa anda memang belum ketemu sama sekali. Kemudian silakan lihat kembali ke belakang, faktor-faktor apa saja yang membuat anda sampai usia sekarang belum bisa menemukannya. Tulislah dengan jujur, kemudian lihatlah kondisi sekarang, bagaimana anda mengenal diri anda?
Aktivitas apa saja yang membuat anda suka dan bisa, tulis semuanya.
Apa sisi kekuatan diri anda? Silakan tulis semuanya.
Pernyataan-pernyataan ini sudah SAH untuk menggugurkan NHW #4 anda. Semoga dengan melihat hal ini, bunda semuanya menjadi lebih SABAR, ketika melihat anak-anak
kita yang masih galau tidak paham arah hidupnya. Jangankan mereka, kita yang sudah puluhan tahun hidup saja ternyata juga belum paham. Bisa jadi anak-anak kita memang punya pengalaman yang sama dengan kita dulu, dan sekarang kita didik mereka dengan pola yang sama dengan cara orangtua kita mendidik kita dulu. Maka kembalilah kita ke fase titik nol, tetapi lebih baik kembali ke fase titik nol dan segera bergerak. Dibandingkan dengan yang tidak tahu ini benar atau salah.
Sehingga,

Jangan pernah berdiam di ruang rasa, sehingga titik nol membekukan hidup anda.

Bagi anda yang sudah menemukan “jurusan”ilmu apa yang harus ditekuni dengan fokus, maka silakan ikuti simulasi secara setahap demi setahap di bawah ini :

  1. Tulislah Jurusan Ilmu secara Global, misal : Pendidikan Anak dan Keluarga
  2. Tentukan KM 0 nya mau anda tempuh mulai kapan? Atau apakah saat ini sudah dalam proses berjalan di tahap 1? Maka tulislah kapan anda memulai KM 0.
  3. Kita ambil satu hasil penelitian Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul Outliers (2008) pernah mengemukakan sebuah teori yang menarik, 10.000 hours of practice. Menurutnya, jika seseorang melatih sebuah skill tertentu selama minimal 10.000 jam, maka hampir bisa dipastikan orang itu akan “jago” dalam bidang tersebut. “They will master the skill,” kata Gladwell. Darimana ia bisa yakin? Konon Gladwell mengembangkan teori ini dari hasil penelitian terhadap para pemain biola selama puluhan tahun. Dari penelitian itu, para pemain biola yang berlatih minimal 2 jam sehari selama 12 tahun (kurang lebih 10.000 jam) semuanya menjadi para maestro biola. Orang yang di pertengahan berlatih di antara 5.000 hingga 8.000 jam, sementara pemain biola yang gagal berlatih di bawah 3000 jam.
    Silakan ukur kemampuan teman-teman, dalam sehari kira-kira sanggup
    menginvestasikan waktu nya berapa jam, untuk menekuni jurusan ilmu tersebut. Katakanlah kita ambil yang paling pendek hanya 2 jam per hari. Mari kita berhitung: 10.000 jam/2 jam = 5000 hari. Apabila setahun katakanlah hanya kita ambil 250 hari efektif saja, maka 5000 hari/250 = 20 tahun. Inilah periode waktu yang harus anda tempuh untuk bisa menjadi master di bidang anda.
  4. Silakan bagi 20 tahun tersebut dalam KM perjalanan yang akan anda tempuh, misal
    KM 0 – KM 1 = Bunda Sayang ( 5 tahun)
    KM 1 – KM 2 = Bunda Cekatan (5 tahun)
    KM 3 – KM 4 = Bunda Produktif ( 5 tahun)
    KM 4 – KM 5 = Bunda Shaleha ( 5 tahun)
    Tidak ada patokan khusus dalam menentukan rentang waktu, silakan anda buat sendiri sesuai dengan kemampuan kita.
  5. Uraikan kira-kira mata pelajaran apa saja yang harus kita pelajari satu-satu di mata kuliah pokok Bunda Sayang, Bunda Cekatan, dsb.
  6. Cari sumber belajarnya ada dimana saja dan konsisten menjalankannya.
    Apabila ternyata dalam belajar di jurusan ini mata anda makin berbinar, semangat anda tak pernah pudar, bisa jadi yang harusnya hanya investasi 2 jam/hari secara alamiah akan menjadi lebih dari 2 jam. Maka pilihlah aktivitas harian, waktu yang paling banyak menghabiskan hari-hari anda, adalah aktivitas yang memperbanyak “jam terbang”. Kalau sudah seperti ini Allah sedang menghendaki anda untuk masuk program akselerasi.
    Ada dua cara akselerasi yaitu :
    * Menambah jam terbang harian
    * Membeli jam terbang
    Bagaimana caranya membeli? Dengan mendatangi para ahli yang sesuai dengan bidang kita, belajar banyak dari beliau. Pelajari jatuh bangunnya seperti apa, sehingga kita bisa “jump starting” dengan tidak perlu mengulang kesalahan yang pernah dilakukan oleh para ahli tersebut. Sejatinya dengan mengikuti program matrikulasi ini, anda sedang membeli jamterbang.
  7. Carilah mentor hidup anda yang bersedia memandu dengan konsisten agar anda mencapai sukses dengan lebih cepat lagi.

Dengan belajar bersungguh-sungguh di NHW #4 ini, teman-teman akan dengan mudah
menyusun “customized curriculum” untuk anak-anak kita masing-masing. Silahkan mulai dari diri bunda dulu untuk bisa merasakannya. Karena kalau bundanya sudah bisa, maka kita akan mendapatkan bonus kemampuan menyusun kurikulum bagi anak-anak kita.
Kuncinya hanya dua: FOKUS dan KONSISTEN.
Jadilah yang terhebat di bidang Anda masing-masing. Jangan pernah menyerah.

If today is a bad day, tomorrow maybe worst, but the day after tomorrow is the best day in your life. You know what? Most people die tomorrow evening!
–Jack Ma

Selamat menempuh 10.000 jam terbang anda.
Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi Ibu Profesional

Sumber Bacaan :
Materi Matrikulasi IIP Sesi #4, Mendidik dengan Kekuatan Fitrah, 2018
Hasil NHW#4, Peserta Matrikulasi IIP, 2018
Malcolm Galdwell, Outliers, Jakarta, 2008

One thought on “Matrikulasi #4 Mendidik Sesuai Fitrah, Bertumbuh Dengan Alamiah

Comments are closed.