Matrikulasi #5 Belajar Menjadi Pembelajar, Agar Kemudian Tak Kesasar

Ternyata, menjadi salah satu anggota pembelajar di Institut Ibu Profesional tidak semerta-merta menjadikan kami orang yang lebih berilmu dibandingkan yang tidak berkesempatan untuk mengikuti kelas ini. Mengapa bisa saya katakan seperti ini? Karena ternyata, hingga minggu ke lima sekalipun, belajar dan segala tetek-bengeknya masih terus menerus dibahas dan bagi saya pribadi menjadi reminder bahwa “Almira, jalanmu untuk menjadi ibu yang hebat masihlah sangat panjang. Jangan banyak mengadahkan kepalamu ke atas, tapi menunduklah agar ilmu senantiasa datang dan memberikan berkah untukmu.
Minggu ke lima ini juga menjadi minggu yang berat karena saya harus mulai memikirkan topik tesis dari pendidikan pascasarjana yang sedang saya geluti. Ah, lengkap sudah rasanya. Tapi tak mengapa, bukankah saya dan ibu-ibu lainnya sedang menabung kebaikan? 🙂 Sabar dan ikhlas saja menjalani aktivitas kita, Insyaa Allah akan dipermudah oleh-Nya.
Pertama kali membaca materi yang diberikan di minggu ke lima ini, saya semakin mantap menanamkan pada diri saya bahwa menjadi ibu adalah menjadi murid pula. Saya tidak akan selamanya menunjukkan kepada anak saya bahwa apel itu merah, jeruk itu orens, anggur itu ungu. Justru anak saya nanti akan memberikan pembelaaran yang tidak ada dalam diktat kuliah manapun. Ia akan menunjukkan secara real dan practical sehingga secara tidak langsung akan menunjukkan “Begini lho bunda manajemen emosi itu. Coba bunda latihan dulu sama aku.” ketika ia merasa tantrum.
Dan menyambung dari materi-materi sebelumnya pula, zaman yang berkembang mengharuskan saya menjadi manusia yang berkembang baik sebagai individu, ibu, anak, istri, menantu, teman, tetangga, dan elemen masyrakat lainnya. Maka tidak bisa saya sekedar mendiidk anak saya yang akan menjadi investasi untuk zaman mendatang sekedar dengan pola asuh yang exactly sama dengan apa yang orang tua saya lakukan. Perlu ada pengembangan. Selalu perlu ada pembelajaran yang diambil agar kita senantiasa menjadi life-long learner.
Yuk kita simak materinya. Bismillaahirrahmaanirrahiim 🙂

BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? Kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.
Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang yang senang belajar dan ada yang tidak suka belajar. Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit. Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa.

Membuat bisa itu mudah, tapi membuatnya suka itu baru tantangan.

Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah. Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali. Anak kita sudah tentu akan hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kita. Maka teruslah meng-update diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari zamannya.
Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita? Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal.

Belajar Hal Berbeda

Apa saja yang perlu dipelajari? Yaitu dengan belajar apa saja yang bertujuan untuk

  • Menguatkan Iman, ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya
  • Menumbuhkan karakter yang baik
  • Menemukan passionnya (panggilan hatinya)

Cara Belajar Berbeda

Jika dulu kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya. Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreativitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.
Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya. Misalnya :

  • 👍Ibu jari : How
  • 👆Jari telunjuk : Where
  • ✋Jari tengah : What
  • ✋Jari manis : When
  • ✋Jari kelingking : Who
  • 👐Kedua telapak tangan dibuka : Why
  • 👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri dibuka : Which one

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya. Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja. Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik. Apa itu berpikir skeptik? Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa meng-crosscheck kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.

Semangat Belajar Berbeda

Semangat belajar yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya, tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu). Yang harus dipahami, menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita.
Bagaimanakah dengan strategi belajarnya? Yakni dengan menggunakan strategi meninggikan gunung bukan meratakan lembah.
Meninggikan gunung maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal-hal yang mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mendukungnya semaksimal mungkin. Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.
Sebaliknya jangan meratakan lembah, yaitu dengan menutupi kekurangannya, Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya). Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.
Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan/kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.
Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.
Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar?
Caranya adalah :

  1. Mengetahui apa yang anak-anak ingin/minati
  2. Mengetahui tujuannya, cita-citanya
  3. Mengetahui passion-nya

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.

Good is not enough anymore we have to be different.

Peran kita sebagai orang tua:

  1. Sebaga pemandu : usia 0-8 tahun
  2. Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun
    Kalau tidak, maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya
  3. Sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas

Cara mengetahui passion anak adalah:

  1. Observation (pengamatan)
  2. Engage (terlibat)
  3. Watch and listen (lihat dan dengarkan)

Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain. Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu. Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.
Cara mengolah kemampuan berfikir anak dengan:

  1. Melatih anak untuk belajar bertanya, yaitu dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek
  2. Belajar menuliskan hasil pengamatannya
  3. Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya
  4. Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari
  5. Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak

Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita.
Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi IIP

Sumber bacaan:
Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014
Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009

NICE HOMEWORK #5


Setelah malam ini kita mempelajari tentang “Learning How to Learn” maka kali ini kita akan praktek membuat Desain Pembelajaran ala kita. Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan learning how to learn dalam membuat NHW #5.
Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu desain pembelajaran. Bukan hasil sempurna yang kami harapkan, melainkan “proses” anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yang perlu anda bagikan ke teman-teman yg lain. Selamat berpikir dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar anda di NHW #5 ini.
Bagaimana? Menarik sekali ‘kan? Menarik sekaligus sangat berat bebannya. Mengapa? Yuk kita mulai ceritanya 😉

Desain Pembelajaran Untuk Calon Buah Hatiku

Dalam menentukan desain pembelajaran untuk anak, saya banyak mencari referensi dari pendidikan yang berbasis fitrah serta homeschooling. Saya menggunakan materi ke 4 pada kelas matrikulasi IIP serta Preparing a Home Education Learning Plan Guidelines for Parents dari lembaga Koinonia. Sebab saya pribadi merasa bahwa metode yang diterapkan pada sistem pendidikan homeschooling sangatlah beragam dan mengacu pada sistem pendidikan berbasis fitrah itu sendiri. Sangat menarik bagaimana tiap-tiap keluarga mendesain pembelajarannya dan menyesuaikan dengan kemampuan si anak. Sistem ini sangat menuntut kreativitas dan imajinasi orang tua itu sendiri agar sang anak tumbuh rasa ingin belajarnya. Akibatnya, kita tidak perlu terus-menerus mengajari si anak, justru ialah sendiri yang akan mencari tahu dan memuaskan hasrat ingin tahunya.
Adapun karena belum memiliki anak, saya membuatnya dengan lebih general, sehingga ketika teraplikasikan nantinya, akan lebih fleksibel untuk direvisi kembali. Hal-hal yang belum dapat ditentukan adalah jenis cara belajar anak di mana hal ini tentu akan mempengaruhi media yang akan memudahkan anak dalam belajar dan menyerap ilmu. Selain itu, belum ditentukan pula minat anak serta kemampuan awalnya. Padahal menganalisis objek yang melakukan proses belajar sangatlah penting dalam membuat suatu desain pembelajaran. Konsep ini saya dapatkan dari Tesis milik salah seorang mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang berjudul Konsep Pembelajaran Berbasis Potensi Fitrah (Studi Pengembangan Kecerdasan Anak Dalam Pendidikan Islam). Teman-teman bisa melihat hasil perancangan desain pembelajaran ala saya di sini.
Capture2
Capture
Desain pembelajaran yang saya buat dimulai dari penggalian fitrah keimanan. Sebab saya ingin anak saya nanti mengerti mengapa harus shalat karena tumbuh kecintaan terhadap Rabb-Nya. Bukan hanya sekedar karena diberi perintah oleh ayah dan bundanya semata. Setelah itu dilakukan pengembangan ke fitrah belajar yakni mulai mengenal pengetahuan umum di sekitarnya. Hingga sampai pada fitrah bakat dimana pada bagian inilah konsep desain pembelajaran saya masih sangat memungkinkan untuk direvisi.
Untuk indikator serta sistem evaluasi, akan dibuat fleksibel dengan kemampuan anak dalam belajar itu sendiri. Rencananya, sistem evaluasi akan dibuat bulanan dengan bentuk diskusi keluarga di jam tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya. Selain itu, kana dibentuk sistem reward and punishment dalam mendukung pola belajar anak.

REVIEW

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, bagaimana rasanya mengerjakan NHW #5 ini? Melihat reaksi para peserta matrikulasi ini yang rata ada di semua grup adalah

  • Bingung, ini maksudnya apa?
  • Bertanya-tanya pada diri sendiri dan mendiskusikannya ke pihak lain, entah itu suami atau teman satu grup
  • Mencari berbagai referensi yang mendukung hasil pemikiran kita semua
  • Masih ada yang merasakan hal lain?

Maka kalau teman-teman merasakan semua hal tersebut di atas, kami ucapkan selamat, karena teman-teman sudah memasuki tahap belajar cara belajar.
NHW #5 ini adalah tugas yang paling sederhana, tidak banyak panduan dan ketentuan. Prinsip dari tugas kali ini adalah,

Semua boleh, kecuali yang tidak boleh. Yang tidak boleh hanya satu, yaitu diam tidak bergerak dan tidak berusaha apapun.

Selama ini sebagian besar dari kita hampir memiliki pengalaman belajar yang sama, yaitu OUTSIDE IN informasi yang masuk bukan karena proses “rasa ingin tahu” dari dalam diri kita melainkan karena keperluan sebuah kurikulum yang harus tuntas disampaikan dalam kurun waktu tertentu. Sehingga belajar menjadi proses penjejalan sebuah informasi. Sehingga wajar kalau banyak diantara kita menjadi tidak suka “belajar”, akibat dari pengalaman tersebut.
Di Institut Ibu Profesional ini kita belajar bagaimana membuat desain pembelajaran yang ala kita sendiri, diukur dari rasa ingin tahu kita terhadap sesuatu, membuat road map perjalanannya, mencari support system untuk hal tersebut, dan menentukan exit procedure andaikata di tengah perjalanan ternyata kita mau ganti haluan.
Ketika ada salah seorang peserta matrikulasi yang bertanya, apakah NHW #5 kali ini ada hubungannya dengan materi-materi sebelumnya? Tentu saja. Tetapi kami memang tidak memberikan panduan apapun. Kalau teman-teman amati, bagaimana cara fasilitator memandu NHW #5 kali ini?

  • Ketika peserta bertanya, tidak buru-buru menjawab, justru kadang balik bertanya.
  • Ketika peserta bingung, tidak buru-buru memberikan arah jalan, hanya memberikan clue saja.
  • Fasilitator banyak diam andaikata tidak ada yang bertanya, karena memberikan ruang berpikir dan kesempatan saling berinteraksi antar peserta.
  • Itulah salah satu tugas kita sebagai pendidik anak-anak. Tidak buru-buru memberikan jawaban, karena justru hal tersebut mematikan rasa ingin tahu anak.

Membaca sekilas hasil NHW #5 kali ini ada beberapa kategori sebagai berikut.

  1. Memberikan teori tentang desain pembelajaran
  2. Membuat desain pembelajaran untuk diri kita sendiri
  3. Menghubungkannya dengan NHW-NHW berikutnya, sehingga tersusunlah road map pembelajaran kita di jurusan ilmu yang kita inginkan.
  4. Ada yang menggunakan ketiga hal tersebut di atas untuk membuat desain pembelajaran masing-masing anaknya.

Tidak ada benar atau salah dalam mengerjakan NHW #5 kali ini, yang ada seberapa besar hal tersebut memicu rasa ingin tahu teman-teman terhadap proses belajar yang sedang anda amati di keluarga.
Semangat belajar ini tidak boleh putus selama misi hidup kita di dunia ini belum selesai. Karena sejatinya belajar adalah proses untuk membaca alam beserta tanda-tanda-Nya sebagai amunisi kita menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi ini.
Setelah bunda menemukan pola belajar masing-masing, segera fokus dan praktikkan kemampuan tersebut. Setelah itu jangan lupa buka kembali materi awal tentang adab mencari ilmu. Karena sejatinya,

ADAB itu sebelum ILMU

Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:
1. Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong
Yaitu mereka yang katanya telah mengetahui segala sesuatu, merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki. Tak mau menerima nasehat orang lain karena dia telah merasa lebih tinggi. Bahkan dia juga menganggap pendapat orang yang memberikan nasehat kepadanya, disalahkannya. Selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah. Terkadang mengatakan sudah berpengalaman karena usianya yang lebih lama namun sikapnya masih seperti kekanak-kanakan. Terkadang ada yang berpendidikan tinggi, namun tak mengerti akan ilmu yang dia miliki. Dia malah semakin menyombongkan diri, congkak di hadapan orang banyak. Merasa dia yang paling pintar dan ingin diakui kepintarannya oleh manusia. Hanya nafsu yang diutamakan sehingga emosi tak dapat dikendalikan maka ucapannyapun mengandung kekejian.
2. Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu’
Tingkatan yang membuat semua orang mencintanya karena pribadinya yang mulia meski telah banyak ilmu yang tersimpan di dalam dadanya, ia tetap merendah hati tiada meninggi. Semakin dia rendah hati, semakin tinggi derajat kemuliaan yang dia peroleh. Sesungguhnya karena ilmu yang banyak itulah yang mampu menjadikannya faham akan hakikat dirinya. Dia tak mudah merendahkan orang lain. Senantiasa santun dan ramah, bijaksana dalam menentukan keputusan suatu perkara. Dia dengan semuanya itu membuatnya semakin dicinta manusia dan insya Allah, Allah pun mencintainya.
3. Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahwa dia tidak tahu apa-apa (stay foolish, stay hungry)
Tingkatan terakhir adalah yang teristimewa. Selalu merasa dirinya haus ilmu tetap tidak mengetahui apa-apa (stay foolish, stay hungry) meskipun ilmu yang dimilikinya telah memenuhi tiap ruang di dalam dadanya. Karena dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya. Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Justru, dia bukan hanya tawadhu’, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu.
Sampai dimanakah posisi kita? Hanya anda yang tahu.
Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi Ibu Profesional

Sumber Bacaan :
Hasil Nice Homework #5, Peserta Matrikulasi IIP Batch #5, 2018
Materi Matrikulasi IIP Batch #5, Belajar cara Belajar, 2018
Materi Matrikulasi IIP Batch #5, Adab Menuntut Ilmu, 2018