Matrikulasi #6 Manajer Andalan Bernama Ibu

Dahulu, saya termasuk orang yang benar-benar menjadikan karir sebagai pencapaian hidup saya. Saya biasa aktif di organisasi kampus dan hal tersebut menjadikan saya yakin bahwa ketika berkeluarga nanti pun saya akan tetap berkarir di luar rumah. Saya tidak mungkin menyandang gelar “Ibu Rumah Tangga” saja. Mengenai anak, saya dengan mudah berpikir bahwa nanti ‘kan bisa dititipkan orang yang kita percayai.
Apalagi iklim “bekerja” yang sangat kental pada alumni lulusan jurusan saya menempuh pendidikan, sangat menggiurkan. Banyak sekali didengungkan bahwa alumni jurusan saya sangat mudah mencari kerja, orang kami dicari di mana-mana, gaji freshgraduate bisa dibilang cukup bahkan berlebih. Tidak sampai di situ, bahkan jenjang karirnya sangat menjanjikan. Sedikit sekali keinginan saya untuk terjuan atau belajar dalam dunia parenting. Jangankan terjuan, niat saja tidak ada.
Namun, suatu hari pemikiran saya terbuka pada perkataan seseorang bahwa bagaimanapun juga, karir terbaik di mata Allah adalah menjadi seorang ibu. Ibu yang dimaksudkan di sini bukan fungsi ibu itu sendiri, melainkan peran yang dibawa titel “Ibu”. Ibu sangat dimuliakan dalam Islam. Disebut tiga kali baru kemudian ayah. Perannya dalam membentuk generasi–ingat, pembentuk generasi, bukan hanya manusia yang melahirkan keturunan–menjadikan “ibu” sebagai suatu amanah yang luar biasa tidak main-main. Hal ini bukan berarti saya mendiskreditkan ibu-ibu yang bekerja, justru saya sangat salut bagaimana ibu bekerja sangat struggle memastikan peran “Ibu” yang dibawanya tidak hilang. Mungkin materi yang saya dapatkan kali ini bisa menjelaskan lebih baik 🙂

IBU MANAJER KELUARGA ANDAL

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Motivasi Bekerja Ibu

Ibu Rumah Tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja, yang wajib profesional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu kita harus selesai dengan management rumah tangga kita, kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas di manapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih profesional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.
Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja di rumah?

  • Apakah masih “ASAL KERJA”, menggugurkan kewajiban saja?
  • Apakah didasari sebuah “KOMPETISI ”, sehingga selalu ingin bersaing dengan keluarga lain?
  • Apakah karena “PANGGILAN HATI”, sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga.

  • Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
  • Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses.
  • Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa mengeluh.

Ibu Manajer Keluarga

Peran ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita “Saya Manager Keluarga”, kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manajer.

  • Hargai diri anda sebagai manajer keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.
  • Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik dan patuhi perencanaan itu.
  • Buatlah skala prioritas.
  • Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.

Menangani Kompleksitas Tantangan

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktikkan yaitu :
PUT FIRST THINGS FIRST
Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini. Aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.
ONE BITE AT A TIME
Apakah itu one bite at a time? Lakukan setahap demi setahap. Lakukan sekarang. Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan
DELEGATING
Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita. Ingat anda adalah manajer, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda. Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya. Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

Perkembangan Peran

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih “SEKEDAR MENJADI IBU”.
Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

  1. Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang. Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “manajer keuangan keluarga.
  2. Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.
    Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.
  3. Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.
    Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.
    Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.
  4. Cari peran apalagi, tingkatkan lagi.

Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.
Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Hanya ada satu kata, berubah atau kalah.

Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi IIP

Sumber Bacaan:
Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP, 2015
Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #1, 2016
Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom’s Story: Zainab Yusuf As’ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009.

NICE HOMEWORK #6

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap belajar menjadi manajer keluarga yang andal. Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.
Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu rutinitas. Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita merasa sibuk, sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.
Maka ikutilah tahapan-tahapan ini:

  1. Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting
    Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
  2. Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
  3. Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time (misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)
  4. Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
  5. Setelah tahap di atas selesai anda tentukan, buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.

Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? Kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Selamat mengerjakan.
Hoaaaah ingin rasanya saya berteriak kegirangan karena NHW kali ini tidak se-menguras-pikiran seperti NHW sebelumnya. Namun itu awalnya saja saat saya baru membaca sekilas apa yang diminta di NHW kali ini 🙂 Saya mah cuma bisa senyum aja setelah menelaah lebih dalam bahwa ternyata NHW yang ini juga susah karena menuntut komitmen dan banyak-banyak mengelus dada–atau mungkin menjitak kepala sendiri saat melanggar huhu. Tapi bismillaah, markicob, mari kita coba 😀

Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting!

Aktivitas paling penting :

  • Akademik, menjalankan peran sebagai murid karena saya masih kuliah dan sudah menjadi amanah serta tanggung jawab untuk merampungkannya.
  • Mengurus keluarga, saya rasa beban orang tua, Mama terutama, sangatlah berat apabila mengerjakan pekerjaan domestik sendirian. Maka saya sebagai putri pertama berusaha berbakti melalui jalan ini, Insyaa Allah.
  • Pengembangan diri, di dalamnya termasuk hal-hal yang saya senangi atau saya senangi tapi masih tidak ada niatan memulainya sehingga mulai saat ini harus dipaksa.

Aktivitas paling tidak penting :
Bukan merupakan aktivitas besar, tetapi menjadi kebiasaan (habit) yang menyita banyak perhatian yakni bermain ponsel, berbincang-bincang dengan teman, tidur di pagi hari (sehabis subuh saya mudah sekali mengantuk hiks).

Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?

Yang tidak penting, sebab saya mudah jenuh dan merasa terbebani oleh aktivitas yang penting. Yaaaa, seperti alamiahnya manusia~

Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan!

Capture3

Perbandingan waktu
Aktivitas penting : 1040”
Aktivitas tidak penting : 620”

Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?

Dalam menjalankan aktivitas yang sudah dibuat dalam bentuk kandang waktu, saya jadi teringat kembali dengan aturan yang sudah saya buat ketika melakukan hal-hal yang tidak penting. Namun, kebiasaan yang masih sulit saya ubah adalah bermain ponsel. Saya berusaha mencari cara dengan meletakkan ponsel saya di tempat yang sulit dijangkau yakni atas lemari bagian paling pojok. Hal ini saya lakukan agar tidak mudah terdistraksi ketika melakukan aktivitas pengembangan diri. Selain itu, dinamisnya waktu kuliah (setiap hari tidak sama) membuat saya beberapa kali mencuri waktu untuk gadget time. Untuk aktivitas mengurus keluarga sendiri, saya sudah berusaha untuk membantu orang tua mengurus keperluan keluarga di pagi hari sehingga saya mereduksi aktivitas tidur. Dengan kata lain, saya merasa diri saya berhasil namun belum sempurna. Tidak mengapa ya, di dunia ini tiada yang sempurna 🙁

REVIEW

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Bunda, terima kasih sudah membuat beberapa kategori tentang 3 hal aktivitas anda anggap penting dan tidak penting dalam hidup anda. Dalam menjalankan peran sebagai manejer keluarga, “manajemen waktu” menjadi hal yang paling krusial. Karena waktu bisa berperan ganda, memperkuat jam terbang kita, atau justru sebaliknya merampasnya. Tergantung bagaimana kita memperlakukannya.
Masih ingat istilah DEEP WORK dan SHALLOW WORK? Dulu kita pernah membahas hal ini di awal-awal kelas. Tahapan-tahapan yang kita kerjakan kali ini adalah dalam rangka melihat lebih jelas bagaimana caranya shallow work kita ubah menjadi deep work. Kita akan paham mana saja aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita.
1. Refleksikan aktivitas dan kemampuan manajemen waktu kita selama ini
Menurut Covey, Merrill and Merrill (1994) cara yang paling baik dalam menentukan kegiatan prioritas adalah dengan membagi kegiatanmu menjadi penting-mendesak, penting-tidak mendesak, tidak penting-mendesak dan tidak penting-tidak mendesak seperti gambar di bawah.Menurutnya, segala hal yang kita kerjakan dapat digolongkan kedalam salah satu dari empat kuadran dibawah ini. Silakan diisikan aktivitas-aktivitas yang selama ini kita lakukan dan masuk kategori kuadaran yang mana.
Fokuskan pada hal-hal yang penting (baik mendesak atau tak mendesak) karena pada kegiatan yang penting inilah seharusnya kita mengalokasi paling banyak waktu yang kita miliki. Kita akan kehabisan waktu, tenaga dan sering gelisah jika kita sering melakukan kegiatan yang sifatnya mendesak.
Contoh : Mengumpulkan NHW matrikulasi itu aktivitas penting, karena kalau tidak mengumpulkan kita akan mendapatkan peluang tidak lulus. Sudah ada deadline yang diberikan oleh fasilitator. Andaikata kita memasukkannya ke kuadran 2, artinya kita akan masukkan NHW dalam perencanaan mingguan kita, membuat hati lebih tenang. Tetapi kalau tidak kita rencanakan, NHW itu akan masuk ke aktivitas kuadran 1, dimana penting bertemu dengan genting (mendesak) paling sering membuat kita gelisah di saat detik-detik terakhir deadline pengumpulan.
Kalau ini berlangsung terus menerus, maka kita akan cepat capek dan stress yang berlebihan karena terlalu sering dibombardir oleh masalah dan krisis yang datang bertubi-tubi. Jika ini terjadi, secara naluriah, kita akan lari ke kuadran 4. yang sering kali tidak memberikan manfaat bagi kita.
Idealnya, semakin banyak waktu yang kita luangkan di kuadran 2, secara otomatis akan mengurangi waktu kita di kuadran 1 dan 3, apalagi kuadran 4, karena dengan perencanaan dan persiapan yang matang, banyak masalah dan krisis yang akan timbul dikemudian hari dapat dihindari.
2. Membuat kandang waktu (time blocking) untuk setiap aktivitas yang harus anda kerjakan
Membuat agenda mingguan dan harian dengan mengaplikasikan teori time blocking dan timer. KIta bisa membagi secara rinci aktivitas harian dalam hitungan jam atau menit agar waktu tidak terbuang sia-sia
3. Unduh aplikasi atau buku catatan untuk membantu kita mengorganisasikan semua jadwal kita
Mengapa sih harus repot-repot dan sangat detail dengan manajemen waktunya?
Karena kami sangat setuju dengan teori Cal Newport,

Semakin detail manajemen waktu anda, semakin bagus pula kualitasnya. Semakin bagus kontrolnya, semakin bagus pula efeknya.

Sekarang tinggal dipilih anda mau tipe yang TIME BASED ORGANIZATION atau RESULT BASED ORGANIZATION. Kalau time based artinya kita akan patuh dengan jadwal waktu yang sudah kita tulis. Dan menerima segala konsekuensi apabila melanggarnya.
Apabila RESULT BASED ORGANIZATION anda perlu membuat pengelompokan kegiatan saja. Boleh dikerjakan kapanpun, selama target/hasil yang sudah dicanangkan, bisa terpenuhi dengan baik.
Di Ibu Profesional, manajemen waktu ini wajib dikuasai dan diamalkan oleh para ibu sebelum masuk ke tahap bunda produktif. Kita perlu menekankan pentingnya membuat rencana kerja untuk setiap minggu dan setiap hari, dengan memprioritaskan aktifitas yang penting. Dengan demikian diharapkan kita dapat menjadi lebih produktif tanpa lelah dan stress yang berlebihan.
Demi masa,semoga kita semua tidak termasuk golongan orang yang menyia-nyiakan waktu.
Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi Ibu Profesional

Sumber Bacaan:
Materi Matrikulasi IIP Sesi #6, Mendidik dengan Kekuatan Fitrah, 2016
Hasil NHW#6, Peserta Matrikulasi IIP, 2018
Malcolm Galdwell, Outliers, Jakarta, 2008
Steven Covey, the seven habits

One thought on “Matrikulasi #6 Manajer Andalan Bernama Ibu

Comments are closed.