Matrikulasi #8 Produktif + Kontributif

Ah, beneran lho. Kalau Allah sudah berkehendak, yang akan terjadi maka terjadilah~ Baru saja minggu ini dapat materi soal produktivitas hidup dari IIP, eh semua yang mampir di kehidupan saya (teman-teman, media sosial, pembicaraan, dan diskusi) tiba-tiba berisi tentang what will I be? Because just be yourself is not enough, darling. 
Setelah memikirkan akan jadi apa NHW #9 saya kali ini, tiba-tiba (banget!) saya melihat di Instagram Story seorang teman di SMA dulu bahwa dia berhasil menjadi penerima beasiswa LPDP (beasiswa bergengsi itu–yang dulu saya juga kepingin huhu) ke Manchester University di United Kingdom. Ya Rabb… Saya melihatnya sambil elus-elus dada. Mengapa? Karena teman saya yang satu ini jauh lebih muda dari saya, dia lahir bulan Juni, saya Februari, di tahun yang sama–1997. Masih muda sekali, usia 21 belum sampai. Dia lulusan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga. Salah satu peserta Harvard Model United Nation (semacam perlombaan debat dunia gitu seperti miniatur PBB istilahnya). Juga cantik sekali terbukti dengan teraihnya titel Finalis Guk Yuk Sidoarjo. Dan kebetulan penerima Beasiswa Djarum seperti saya. Sebelum menerima beasiswa LPDP, dia diterima di salah satu perusahaan akunting ternama di Jakarta. Tolong-tolong, itu orang atau apa sih? Kok sempurna pisan 🙁
Sementara di belahan bumi yang lain–nggak ding masih di Surabaya juga, dua orang teman sejawat saya pada akhirnya berhasil menjadi pengajar di Indonesia Mengajar. Saya antara bangga dan makin bertanya-tanya, “Duh Gusti saya teh lagi ngapain?”.
Yang satu laki-laki, sebelumnya setelah wisuda dia nggak lama diterima di salah satu perusahaan swasta yang terkenal baik ibu maupun anak perusahaannya. Posisinya juga menarik. Sesuai lah sama kelebihan orangnya, marketing~ Dan karir semacam itu bisa banget membuat dia memiliki jenjang karir yang menjanjikan di masa mendatang. Tapi akhirnya memutuskan melepaskan tiel “karyawan swasta” menjadi “pengajar”. Salut. Itu mengajar di pedalaman selama setahun lho. Bukan ala-ala bakti-sosial-penggugur-hukuman-di-masa-mahasiswa-baru yang cuma beberapa jam atau paling mentok seminggu. Waktu saya tanya mengapa Indonesia Mengajar, katanya bosan menjadi karyawan–padahal baru sebulan sembilan hari, gelo! “Karyawan itu masuk jam segini pulang jam segitu. Kalau pulang duluan sungkan. Kalau nggak pulang-pulang nggak tahu mau ngapain. Orang-orang kerjanya lelet, malah aku banyak istirahatnya. Gitu terus tiap hari paling hiburan cuma jalan-jalan.” Dan rencana setelah “mengajar” adalah mengerjakan proyek sosial, nggak ada niat jadi karyawan lagi. Keren. Sekaligus super idealis.
Sementara teman yang satu lagi adalah perempuan. Sebelum di Indonesia Mengajar, masih jadi beban negara–alias pengangguran–yang galau mau sekolah lagi–dengan mencari beasiswa ke luar negeri, bekerja–karena orang tua bertitah demikian, atau mengajar. Dan sampailah ia di titik ini, titik seorang pengajar. Tapi jauh sebelum dunia mengajar ini, dia sudah menginisiasi sebuah komunitas bernama Sahabat Belajar dan mengikuti ITS Mengajar. Jadi ya begitu, dunianya dipenuhi kemampuan belajar dan mengajar. Tapi hebatnya, waktu saya curhat soal kehidupan yang semakin terombang-ambing di dunia antah berantah ini, dia malah bilang, “…terkait nanti pas aku habis Indonesia Mengajar sebaiknya aku milih apa. Karena sepertinya habis ini aku ndak boleh egois mikirin tentang kepuasanku sendiri. Tapi juga orang tua, adek, dan lain-lain yang sejujurnya sampai sekarang masih kurang…”. Kalimat-kalimat itu refleks bikin saya tertohok. Karena duh baik banget sih jadi orang! Dia nggak mikirin dirinya sendiri beserta semua kepuasannya lho. Dipikirin juga setelah mengajar tentang tanggung jawab terhadap keluarga–dimana untuk urusan ini saya kok merasa masih kurang banget 🙁

Life quarter crisis, they said.

Seperti yang sudah tergambarkan sebelumnya, isi otak saya tiba-tiba penuh–tapi nggak tahu juga penuh sama apa. Apalagi beberapa waktu lalu saya menonton film Insterstellar yang membuat saya kecil banget. Berasa lebih debu daripada debu. Ternyata lagi-lagi saya harus sadar bahwa saya ini ikan besar di kolam yang kecil. Masih banyak banget orang keren nian hebat di dunia ini. Saya mah remah-remah rempeyek di kaleng Khong Guan waktu lebaran aja. Saat itulah saya sadar bahwa, saya harus hijrah ke samudera! Mengapa? Ini masih lajang saya sudah down dan iri kepada pencapaian teman-teman. Bagaimana kalau berkeluarga dan saya harus berbaju daster nanti?
Kok kerjaanku gini-gini aja ya?
Kok aku nggak cantik ya?
Hidupku kok seakan tidak berarti ya?
Keluargaku malu nggak ya punya aku?
Nanti aku meninggal udah nih ninggalin nama aja nih?
Hiks.

Karena saya nggak berminat jadi emak-emak yang isinya cuma mengeluh. Jadi ya, biarlah perlahan saya meniti apa yang sudah menjadi “masa” saya. Tenang Almira, ada waktunya 🙂

MISI SPESIFIK HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Bunda, perjalanan kita untuk menemukan misi hidup selaras dengan perjalanan produktivitas hidup kita. Maka materi menemukan misi hidup ini akan menjadi materi pokok di kelas bunda produktif.
Sebelumnya kita sudah memahami bahwa “Rezeki itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari”. Sehingga produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima, melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita di mata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi alam semesta.

Be professional. Rizq will follow.

Tagline Ibu Profesional di atas menjadi semakin mudah dipahami ketika kita masuk ranah produktif ini. “Be professional” diartikan sebagai bersungguh-sungguh menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.
Rizq will follow” bisa dimaknai bahwa rezeki setiap orang itu sudah pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan bersungguh-sungguh tidaknya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.

Uang akan mengikuti sebuah kesungguhan, bukan bersungguh-sungguh karena uang.

Pada dasarnya menemukan misi hidup itu tidak ada hubungannya dengan usia seseorang. Semakin awal seseorang merasa “galau” ke mana arah hidupnya, semakin “risau” untuk mencari sebuah jawaban “mengapa Allah menciptakan dirinya di muka bumi ini?” maka semakin cepat akan menemukan misi hidup.
Kalau di pendidikan berbasis fitrah, proses ini secara alamiah akan dialami oleh anak-anak pra-aqil baligh akhir (sekitar 10-13 tahun) dan memasuki taraf aqil baligh (usia 14 tahun ke atas). Maka kalau sampai hari ini ternyata kita masih galau dengan misi hidup kita, maka bersyukurlah, karena kita jadi tahu kesalahan proses pendidikan kita sebelumnya, dan tidak perlu lagi mengalami hal tersebut di saat usia paruh baya yang secara umum dialami oleh sebagian manusia yang disebut sebagai mid-life crisis.
Maka sekarang, jalankan saja yang Anda BISA dan SUKA tanpa pikir panjang, karena Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup kita.
Seseorang yang sudah menemukan misi hidup tersebut apabila menjalankan aktivitas produktif akan lebih bermakna, karena produktivitasnya digunakan untuk mewujudkan misi-misi hidupnya. Sehingga selalu memiliki ciri-ciri:

  1. Selalu bersemangat dengan mata berbinar-binar.
  2. Energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek.
  3. Rasa ingin tahunya tinggi, membuat semangat belajar tinggi.
  4. Imunitas tubuh naik, sehingga jarang sakit, karena bahagia itu imunitas tubuh yang paling tinggi.

Ada 3 elemen yang harus kita ketahui berkaitan dengan misi hidup dan produktivitas:

  1. Kita ingin menjadi apa (be)
  2. Kita ingin melakukan apa (do)
  3. Kita ingin memiliki apa (have)

Dari aspek dimensi waktu ada 3 periode yang perlu kita perhatikan:

  1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
  2. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)
  3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)

Setelah mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, maka mulailah berkomitmen untuk “BERUBAH” dari kebiasaan-kebiasaan yang Anda pikir memang harus diubah.
Berikutnya mulai susun langkah-langkah usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjang sebuah produktivitas hidup kita. Mulailah dengan menetapkan target waktu dan jadwal kegiatan selama satu tahun, serta menentukan ukuran atau indikator keberhasilan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan. Buatlah prioritas dan pilih hal-hal yang memang kita perlukan. Hindari membuat daftar yang terlalu panjang, karena hal tersebut membuat kita “gagal fokus”.
Demikian sekilas tentang pentingnya misi hidup dengan produktivitas, nanti akan kita lanjutkan dengan diskusi dan kami akan lebih detilkan materi ini secara real di NHW #8 berbasis dari kekuatan diri teman-teman yang sudah dituliskan di NHW #7.
Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi IIP.

Sumber bacaan:
Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014
Materi Matrikulasi IIP, Bunda Produktif, 2016
Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas Bunda Produktif, Salatiga, 2015

NICE HOMEWORK #8


Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sebagai berikut.

  • 1. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)
  • 2. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE DO HAVE” di bawah ini
    • Kita ingin menjadi apa? (BE)
    • Kita ingin melakukan apa? (DO)
    • Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
  • 3. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:
    • Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
    • Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)
    • Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)

Mulailah dengan perubahan, karena pilihannya hanya satu berubah atau kalah.

1. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)

Saya memutuskan untuk mengambil aktivitas berbagi ilmu dan bercerita. Sekaligus ingin menjadikan aktivitas menulis sebagai jembatan saya menuju misi spesifik kehidupan. Hal ini dilatar belakangi oleh hal yang sama seperti yang saya tuliskan di NHW #1 bahwa saya orang yang tidak mudah menetap pada satu bidang ilmu atau kesukaan. Namun saya tahu bahwa hal ini perlu. Sebab bila tidak saya akan terus-menerus berputar pada lingkaran informasi tanpa mendalami satu fokusan yang–mungkin–merupakan jalan mewujudkan misi spesifik hidup saya.

2. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE DO HAVE” di bawah ini

Kita ingin menjadi apa? (BE)
Saya ingin menjadi pegiat komunitas parenting yang sasarannya khusus untuk remaja. Sebab saya rasa ilmu parenting sangatlah penting untuk dipelajari. Namun sedikit sekali orang-orang pada usia remaja (aqil baligh) memahami urgensinya. Bila belum menikah, maka dirasa belum butuh belajar.
Kita ingin melakukan apa? (DO)
Pertama-tama tentu saya perlu banyak melakukan pendekatan setidaknya kepada teman-teman terdekat dan menunjukkan kepada mereka bahwa belajar parenting itu sama pentingnya dengan mengejar gelar akademik. Saya perlu menumbuhkan kesadaran mereka sehingga ketika awareness mulai muncul, saya akan dengan mudah sedikit demi sedikit menjalankan komunitas tersebut. Hal ini sama dengan menumbuhkan fitrah belajar seorang anak kepada orang yang lebih dewasa. Saya hanya perlu memantik dan terus menyebarkan isu urgensitas pembelajaran parenting. Proses ini akan saya optimalkan pada media sosial yang merupakan tempat banyak sasaran “proyek” saya berkumpul.
Pendekatan yang sama juga ingin saya lakukan melalui aktivitas menulis. Saya ingin melakukan aksi pengisuan secara masif dan saya rasa salah satunya lewat buku.
Sembari memunculkan kesadaran ini, saya sendiri juga harus banyak belajar ilmu parenting. Saya harus rajin membaca buku, mengikuti event, serta belajar dari pakarnya.
Kemudian saya tentu harus menyusun milestone. Dan saat menuliskan ini saya menyadari bahwa saya masih punya banyak PR 🙁
Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
Saya ingin memiliki arti dalam kehidupan. Itu saja. Saya ingin ketika saya meninggal nanti, saya bisa tersenyum dan berkata “Setidaknya amanahku sebagai khalifah di bumi ini sudah aku perjuangkan.” Titel hamba sukses dunia akhirat adalah suatu hal yang amat saya dambakan.
Saya pribadi sangat ingin menghilangkan rasa iri kepada orang lain sehingga tidak mudah melihat apa-yang-orang-lain-punya-dan-saya-tak-punya, tapi fokus kepada -apa-yang-saya-punya-dan-harus-dimanfaatkan-dengan-cara-yang-bagaimana.
Saya harus banyak belajar soal rasa syukur. Sehingga saya mampu menjadi orang yang fokus pada apa yang menjadi tujuan.

3. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
Menjadi hamba sukses dunia akhirat tentu menjadi goal terbesar saya. Oleh karena itu memaksimalkan peran sebagai individu, anak, ibu, istri, kakak, sepupu, menantu, saudara ipar, tetangga, relasi, kerabat, dan salah satu anggota masyarakat harus dengan sungguh-sungguh saya wujudkan.
Memastikan hari ke hari saya adalah pribadi yang lebih baik, umroh bersama orang tua, menciptakan rumah yang damai dan disenangi anak, melayani suami dengan sepenuh hati, mengayomi adik, menjalin silaturahim, menghormati orang tua kedua, menjadi ikon masyarakat yang baik dan bermanfaat, serta menjadi hamba yang senantiasa taat kepada-Nya, tentu menjadi tujuan hidup yang tidak akan ada habisnya.
Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)
Lima sampai sepuluh tahun kedepan, komunitas belajar parenting saya harus sudah didirikan. Semoga fondasinya kokoh dan dinaungi orang-orang yang memaksimalkan perannya untuk bermanfaat di bidang ini. Komunitas saya juga harus sudah bergerak dan terus-menerus melakukan perbaikan. Karena sasarannya remaja–dan tantangan mengenali remaja di masa mendatang tentu lebih sulit–maka saya harus membaca kondisi itu dari sekarang dan menyusun strategi guna mencari metode pembelajaran yang menarik bagi mereka.
Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)
Satu tahun kedepan, saya berharap saya sudah memiliki banyak teman–dengan concern yang sama–di bidang parenting sehingga hal tersebut memudahkan saya mendirikan komunitas belajar parenting untuk remaja. Selain itu, saya juga berharap sudah memiliki pembina yang merupakan pakar atau orang-orang yang banyak berkecimpung di bidang parenting.
Dari segi ilmu saya berharap akan selalu ada peningkatan terutama setidaknya saya sudah menerbitkan satu buah buku yang mampu memantik kesadaran teman-teman remaja saya untuk segera melek terhadap ilmu parenting.

REVIEW

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengerjakan NHW #7 dengan bersungguh-sungguh. Perbedaan dari orang yang sama-sama belajar itu adalah dari kesungguhannya. Ada yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban yang penting sudah mengumpulkan NHW dan ada yang memang bersungguh-sungguh mengerjakan untuk menjadikannya road map dalam kuliah kehidupannya. Maka di NHW #8 ini kita akan melihat bagaimana produktivitas seorang bunda bisa erat berkaitan dengan misi spesifik hidupnya.
Pola BE-DO-HAVE yang kita gunakan ini akan membuka mindset kita terlebih dahulu akan sebuah makna produktif, kemudian mengerjakan sesuai dengan jalan hidupnya, dan akhirnya mendapatkan hasil dan pencapaian yang cocok antara kehendak kita dan kehendak Allah. Hal ini akan membuat bunda lebih mantap melangkah, apalagi kalau dihubungkan dengan pertanyaan NHW #8.
Pertanyaan di NHW #8 itu saling berkaitan, mari kita simulasikan bersama, kemudian aplikasikan sesuai dengan diri bunda masing-masing.

  1. Ambil satu saja dari aktivitaa yang anda SUKA dan BISA
    Misal : Memasak
  2. Mental seperti apa yang harus anda miliki untuk menjadi seperti yang anda inginkan? (BE)
    Misal : Sebagai seorang individu, anda sudah memiliki prinsip, baik saja tidak cukup, kita mesti beda. Kemudian memiliki prinsip “tidak mau sekedar memasak”.
  3. Apa yang harus anda lakukan untuk menjadi seperti yang anda harapkan? (DO)
    Misal : Saya mulai mencoba hal baru, termasuk resep baru setiap bulan. Sehingga muncul karya-karya unik. Saya sangat menyukai produk-produk gluten free, karena berkaitan dengan diri saya sendiri. Sehingga saya melakukan penelitian tentang prosuk makanan gluten free.
  4. Apa yang akan anda lakukan apabila anda sudah memiliki yang anda harapkan? (HAVE)
    Misal : Saya akan memiliki rumah “healthy food” , saya akan memiliki legacy dalam hidup saya tentang makanan “gluten free” ini sehingga anak Indonesia akan tumbuh dengan sehat tanpa bergantung dengan gandum.

Setelah itu kita susun langkah-langkahnya :

  1. Life Time Purpose
    Saya ingin memperjuangkan Indonesia Bebas Gandum, dengan mulai menghilangkan ketergantungan masyarakat terhadap gandum
  2. Strategic Planning
    Dalam waktu 5 tahun ke depan saya ingin dikenal sebagai ahli gluten free, sehingga saya konsisten mempelajari hal tersebut mulai dari sekarang.
  3. New Year Resolution
    Dalam kurun waktu 2017 – 2018 ini saya ingin menerapkan program “One Month One Recipe” sehingga akan muncul 12 resep baru gluten free dalam 1 tahun ini, dan mengajarkannya kepada anak-anak dan keluarga di sekitar saya.

Apabila sampai sekarang Anda masih galau belum menemukan apa sebenarnya yang akan anda lakukan, jangan khawatir.
Mari kita kuatkan proses. Karena,

Proses itu hak kita dan hasil itu hak Allah.

Nah untuk lebih menguatkan proses, silakan buat list dan tempel di rumah, ada banyak contoh, salah satunya saya berikan sample di bawah ini.
WhatsApp Image 2018-03-19 at 12.00.17 PMIni contoh menguatkan BE-DO-HAVE mingguan sampai ketemu ranah produktivitas bunda.
Tahapannya :

  • Ambil ranah yang anda SUKA dan BISA dulu,
  • Simulasikan di form BE-DO-HAVE,
  • Susun lifetime purpose, strategic plan, dan new year resolution,
  • Turunkan secara mingguan aktivitas-aktivitas yang harus anda capai untuk bisa menjadi bunda produktif.

Demikian review NHW #8 silakan dicermati sekali lagi, karena ini akan menjadi pijakan untuk tahap berikutnya.
Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi Ibu Profesional

Sumber Bacaan :
David Y, The “Be Do Have” Paradigm, Avenue South, 2013
Tim Matrikulasi IIP, Misi dan Produktivitas, 2018
Hasil Nice Homework #8, peserta matrikulasi IIP batch #5