Matrikulasi #9 Bukan Bunda Biasa


Sejak usia delapan atau sembila tahun, saya sudah bercita-cita dipanggil “bunda” oleh buah hati saya ketika kelak saya menjadi seorang ibu. Aneh mungkin terdengarnya. Bagaimana bisa seorang anak berusia 8 tahun memikirkan tentang “buah hati”? Apa tidak terlalu dini?
Saya menjawabnya sambil tersenyum saja ya 🙂 Pada saat itu saya bukan sedang memikirkan bagaimana konsep pernikahan atau apa itu keluarga. Saya cuma anak kecil yang merasa bahwa teman-teman saya yang memanggil ibunya dengan sebutan “bunda” akan terasa lebih intim dengan ibunya. Tapi Alhamdulillaah saya kini sudah tahu bahwa “hubungan” itu bukan dari sebutan apa yang kita pilih, tapi dari akhlak dan perilaku kita sendiri.
Saya beberapa kali mengalami fase galau. Karena ketika membaca novel tertentu ketika kedekatan dengan ibu digambarkan lewat tokoh yang dipanggi “ibu”, saya jadi ingin ubah haluan. Terkadang “mama” juga terdengar penuh kasih sayang–seperti mama menyayangi saya. Kadang-kadang “ummi” sepertinya juga tenteram mendengarnya. Namun keputusan saya sudah bulat. Saya tetap ingin dipanggil “bunda” 😀
Belajar di IIP, sejak NHW #1 sampai NHW #9 ini banyak sekali perubahan dan energi positif yang saya dapatkan. Kalau teman-teman mengikuti dari awal, saya ini orangnya mudah terombang-ambing sekali. di NHW #2 saya bilang bahwa saya ingin menjadi pribadi yang istiqamah. Sudah itu saja. Ilmunya belum tahu apa, yang penting istiqamah. Tetapi di NHW #4 saya bilang bahwa misi hidup saya berdakwah kreatif dan bidangnya adalah agama dan bisnis. Tetapi di NHW #9 ini, saya sudah bertekad untuk menetapkan hati saya terhadap satu tujuan–ceilah~ Saya ingin menjadi inisiator komunitas pembelajar ilmu parenting untuk remaja. InsyaaAllah 🙂
Ceritanya panjang. Sepanjang kelas matrikulasi yang tidak terasa sudah memasuki minggu ke sembilan ini huhu 🙁 Yang jelas, setelah “bersemedi” dan melakukan banyak self talk, saya akhirnya menyadari bahwa mungkin untuk inilah Allah menciptakan saya. Tidakkah hari itu adalah hari terindah dalam hidup saya karena akhirnya saya menemukan alasan mengapa saya hidup. Alhamdulillaah

BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu, untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri, dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, di mana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.
Keberadaan ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.
Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena

Mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi.

Maka apabila ada 1 ibu membuat perubahan maka akan terbentuk perubahan 1 generasi yaitu generasi anak-anak kita. Luar biasa kan, impact-nya.
Dari manakah mulainya? Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah aktivitas yang mungkin menjadi misi spesifik hidup kita. Kita harus paham jalan hidup kita ada di mana. Setelah itu baru menggunakan berbagai cara menuju sukses. Setelah menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran 1 Anda, yaitu keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi CHANGEMAKER FAMILY.
Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan. Maka gunakan pola kaizen (Kai = perubahan, Zen = baik). Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus-menerus dan berkesinambungan.
Setelah terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk lingkaran 2 yaitu masyarakat/komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di kecamatan ini, di kota ini, atau di negara ini. Lihatlah kemampuan Anda, mampu di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal kecil yang kita bisa.

Start form the emphaty

Empathy, Inilah kuncinya.
Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga. Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.
Setelah emphaty maka tambahkan passion, hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali solusi di masayarakat.
Keluarga tetap nomor 1, ketika Bunda aktif di masyarakat dan suami protes, maka itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, lampu merah. Artinya Anda harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarakat.
Inilah indikator Bunda Shaleha, yaitu bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan lingkungan sekitarnya. Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan rasa tenteram.
Salam,
Tim Matrikulasi IIP

Sumber Bacaan:
Masaaki Ima, Kaizen Method, Jakarta, 2012.
Ashoka Foundation, Be a Changemaker: Start from the Empathy, 2010.
Materi-materi hasil diskusi keluarga bersama Bapak Dodik Mariyanto, Padepokan Margosari, 2016.

NICE HOMEWORK #9


Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.
Rumus yang kita pakai adalah

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan. Sedangkan social enterpreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.
Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.
Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.
Mulailah dari yang sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yg kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yg dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yang memiliki permasalahan yang sama dengan kita.
Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita. Caranya dengan mengisi bagan-bagan di bawah ini.

Ya Allah, ridhai niat baik saya…

Saya bermaksud untuk mendirikan komunitas pembelajar ilmu parenting untuk remaja. Sebab saya melihat ada beberapa isu sosial yang menjadi pemikiran saya beberapa waktu terakhir. Saya sudah beberapa kali bertanya kepada “pakar” mengenai langkah apa yang harus saya lakukan. Jawabannya selalu sama, terus belajar dan jalani saja dulu. Praktikkan dan bagikan ilmunya. Saya diam-diam sepakat. Sebab saya rasa, langkah awalnya memang harus menimbulkan awareness terhadap urgensitas belajar ilmu parenting. Dengan begitu, mbak mas yang belum menikah ini bisa sadar bahwa merekalah pembentuk generasi ke depan, dan setiap orang memiliki andil untuk berperan. Lebih lengkapnya bisa teman-teman baca pada tabel di bawah ini.
miw
Teman-teman juga bisa melihatnya pada tautan ini.
Semoga teman-teman yang baik hati membaca tulisan saya bisa turut mengaamiinkannya ya 🙂

REVIEW

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional