Ceracau #22: Tidak Sabaran

Ketika menulis ini jariku seperti sedang mengikuti lomba lari. Belum lagi degup jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Kalau saat ini aku sedang bicara, pasti struktur kalimatku sudah tak karuan. Pilihan katanya amburadul. Disertai dengan tiga kata di akhir cerita khas milikku: ya nggak sih? Menunjukkan kehausan agar orang selalu sependapat denganku. Sebab sekali … Continue reading Ceracau #22: Tidak Sabaran

Kemarin aku menangis karena hal yang tak kusangka akan kutangisi: aku merindukan rumah padahal kapanpun aku boleh saja kembali, aku merindukan keluarga padahal mereka selalu setia menanti kapan aku tak 'sibuk' lagi. Sementara saat menangisinya, aku sedang menyaksikan keluarga yang lain–berbahagia bersama dalam pandanganku yang belum menjadi bagian dari mereka.

Ceracau #21 Kendalikan Dirimu, Almira.

Kadang aku tahu bahwa dengan 'merasa' berilmu terkadang akan memberiku pembenaran bahwa justru aku tidak benar-benar mengerti tentang ilmu itu. Dengan menunjukkan pada khalayak ramai akan menjadi salah satu cara untuk membohongi diri sendiri agar terus-menerus ada tuntutan menimba ilmu. Mungkin bagi sebagian orang aneh. Mungkin kamupun ingin mencibirku bahwa niatku tak tulus. Tapi aku … Continue reading Ceracau #21 Kendalikan Dirimu, Almira.