Ceracau #21 Kendalikan Dirimu, Almira.

Kadang aku tahu bahwa dengan ‘merasa’ berilmu terkadang akan memberiku pembenaran bahwa justru aku tidak benar-benar mengerti tentang ilmu itu. Dengan menunjukkan pada khalayak ramai akan menjadi salah satu cara untuk membohongi diri sendiri agar terus-menerus ada tuntutan menimba ilmu. Mungkin bagi sebagian orang aneh. Mungkin kamupun ingin mencibirku bahwa niatku tak tulus. Tapi aku kehabisan metode. Aku tak mudah suka membaca. Aku tak mudah mendatangi kajian. Aku tak mudah mengeluarkan fitrah belajarku. Dan kenyataan itu membuatku harus mencari cara agar aku terus-menerus kehausan. Dan biarlah Allah sebagai hakimku saat ini. Biarlah Allah yang membimbingku meluruskan niat.

Saat ini Ya Allah, bila dengan mencari pujian dunia membuatku mengejar ilmu, maka mohon ampunilah aku. Sembari pelan-pelan bantu aku membuka hati ini pada setiap majelis yang aku datangi. Agar pelan-pelan aku mengerti, bahwa tiada yang indah selain mencari ridha-Mu.


Arus informasi yang tiada henti mengalir membuatku ingin menjadi manusia serba bisa. Aku ingin menguasai teknik hand-lettering. Ingin menjadi wanita yang bisa berbisnis. Ingin sukses mengurus anak dan mempelajari parenting. Ingin belajar merajut sembari menjadi penghafal Alquran. Aku ingin menulis buku. Ingin membuat komunitas dan mengikuti proyek sosial. Terkadang ada keinginan belajar coding dan dunianya. Ingin pula bisa memasak. Yang enak. Bukan yang ala kadarnya. Pernah pula ingin seperti Mama, rumah bersih seketika bila ada beliau di dalamnya. Belum lagi keinginan lain yang akhir-akhir ini membuat otakku ingin meledak.
Aku ingin menjadi manusia serba bisa. Tapi aku perlu sadar bahwa dengan begitu justru aku akan menjadi tak menguasai apa-apa.
Aku tak pernah lagi memegang kuas. Karena merasa tak ada waktu. Tak segera pula membuka toko daring. Karena tak cukup persiapan. Aku belajar parenting. Tapi merasa masih cacat di sana-sini. Masih sering tak sabaran dengan adik sendiri. Kadang memarahi. Kadang baik hati. Tergantung kondisi. Aku belajar merajut. Tapi simpul pertama sudah membuatku kelelahan. Bahkan membuatku sungkan pada teman yang mengajari. Aku takut ia merasa dikhianati. Katanya mau belajar, gimana sih?! Sementara Alquran mulai jarang kubaca. Bagaimana mau menhafalkannya? Target menerbitkan buku sudah tertunda satu bulan. Selalu karena distraksi program lain. Proyek sosial mandek di mencari teman sevisi. Dan beberapa hari teakhir justru merasa ragu adakah mereka di dunia ini. Belajar coding baru di level awal. Lagi-lagi berhenti karena bosan. Lebih suka main game. Memasak… Tak bisa. Masak air jago. Masak telur lumayan. Nasi goreng so-so. Sisanya paling merebus sayur untuk pecel, menggoreng sosis dan nugget. Kalau sedang niat membantu Mama memasak sayur manisa. Niatan ke pasar pagi-pagi dihalangi kasur setiap hari. Membersihkan rumah bisa. Tapi kalau keadaannya terpaksa. Mama jarang memberi rasa percaya. Misal baju sudah disetrika, diulang oleh beliaunya. Alasan: kurang rapi Mama lihatnya.
Kendalikan dirimu, Almira. Kamu tak harus menjadi sempurna.
Kadang aku merasa aku harus banyak melakukan komunikasi pada diri sendiri. Sekaligus kepada Sang Pemilik ‘Arsy.