Dua Puluh Empat Mei

Arfa melangkahkan kakinya keluar. Badannya melenggang ringan sambil memegang popok milik adik Aira yang baru saja mereka beli. Sementara Aira di sampingnya berjalan tidak kalah sumringahnya. ... Di akhir perjalanan malam ini, tepat setelah Arfa usai memakaian Aira helm–seperti biasanya, keduanya tersenyum. Kali ini adalah jenis senyuman yang kau tak akan pernah melihat sudut bibirnya–sebab … Continue reading Dua Puluh Empat Mei

Ceracau #23 Good at Everything

Pagi ini aku melakukan kesalahan besar yang sudah aku putuskan untuk berhenti sejak beberapa bulan lalu. Sebuah perilaku yang membuatku pada akhirnya merasa bahwa kebodohan ini seperti tak henti-hentinya mengikutiku. Sebab ini sesuatu yang sangat tidak penting. Saking tidak pentingnya, aku suka merasa bahwa jangan-jangan ini penyakit. Penyakit memperhatikan orang-orang di masa lampau milik orang … Continue reading Ceracau #23 Good at Everything