Ceracau #23 Good at Everything

Pagi ini aku melakukan kesalahan besar yang sudah aku putuskan untuk berhenti sejak beberapa bulan lalu. Sebuah perilaku yang membuatku pada akhirnya merasa bahwa kebodohan ini seperti tak henti-hentinya mengikutiku. Sebab ini sesuatu yang sangat tidak penting. Saking tidak pentingnya, aku suka merasa bahwa jangan-jangan ini penyakit. Penyakit memperhatikan orang-orang di masa lampau milik orang yang aku suka. Dan kutemukan bahwa they are really good at something. Lantas aku? Pertanyaan bodoh. Seratus ribu persen bodoh.
Tapi berita baiknya, kebodohan itu mengantarkanku pada tuts-tuts pada keyboard untuk menuliskan hal yang sudah lama aku ingin sampaikan. Selain karena aku ingin orang lain–terutama yang senasib–turut membacanya, juga karena aku ingin mencari pembenaran dan ketenangan atas apa yang selama ini membuatku resah. Jadi, mari kita mulai.

Life Quarter Crisis

Terlalu cepat bersekolah 1 tahun dan menghemat masa SMA 1 tahun menjadikanku 2 tahun lebih muda dibanding teman-teman yang saatt ini berada di lingkunganku. Bukan rahasia lagi kalau saat ini aku menginjak usia 21 tahun yang artinya, aku juga akan menuju 25 tahun. Artinya, teman-teman sudah banyak menginjak usia 23 tahun. Usia bekerja, usia berkarya. Beberapa dari mereka terlihat sangat ahli dalam beberapa hal. Misalnya, ada yang pencapaian akademiknya tak pernah tercoreng. Penerima beasiswa, universitas ternama, nilai IPK yang melangit, dan segudang prestasi lainnya. Beberapa dari adik kelasku bahkan juga ada yang ahli dalam konferensi ke luar negeri, melakukan pertukaran pelajar, dan hal-hal semacam lainnya. Ada seorang teman pula yang memutuskan untuk mengelilingi Indonesia–sebisa mungkin dengan gratis–bukan untuk jalan-jalan saja, tetapi juga menyebarkan ilmu, menyapa masyarakat di lain belahan bumi. Belum lagi yang sudah mantap mengabdikan diri menjadi dokter, menerbitkan jurnal-jurnal bergengsi, meningkatkan taraf hidup Indonesia di bidang kesehatan.
Atau bila kesemuanya tadi terlalu muluk, setidaknya beberapa juga ada yang sudah memiliki prinsip hidupnya. Hidup sehat dengan reusable straw, DIY toothpaste, reusable menstruation pads, dan produk-produk penyayang bumi lainnya. Bila bukan orang dekatpun, banyak orang-orang seusiaku yang sudah menjadi wakil kepala sekolah yang dirintisnya bersama ibunda. Melalui itu dia terlihat concern sekali di bidang pendidikan. Ada pula yang fokus mengejar hafalan agar sempat menjadi hafidz Alquran sebelum meninggal. Fokus berada di asrama dengan orang-orang sepenanggungan. Ada pula yang bekerja di bidang seni. Karena memang kuliah dan passion-nya ada di sana. Isi feed Instagram-nya dipenuhi karya seni baru setiap hari. Ada pula teman yang tidak kusangka akan menerjunkan diri secara sungguh-sungguh di bidang kuliner–meski sejak SMA memang sudah terlihat kecintaannya terhadap dunia masak-memasak. Sampai membuka jasa pembuatan kue dari yang gurih sampai yang manis.
Lalu kemudian, aku sampai mana?

Passion

Kalau dipikir-pikir kembali, sebenarnya aku juga tidak terlalu mengerti apa passion-ku. Aku suka menggambar sejak kecil, tapi aku juga suka mengarang cerita. Lantas, haruskah aku menjadi pembuat komik? Padahal gambaranku tidak terlalu spesial dan cerita yang kubuat tidak pula jenis yang sangat istimewa. So-so.
Tapi aku juga suka bicara. Aku tidak sepenuhnya pemalu karena aku suka berbagi. Aku suka bisa menjadi jalan dakwah dan inspirasi bagi orang lain. Sebab aku rasa itu bisa kuhitung sebagai sedekah yang bisa menjadi investasiku bila seandainya aku meninggal dunia lebih cepat dari yang kukira.
Lantas apa passion-ku? Orang bilang, passion itu sesuatu yang kalau kita sudah melakukannya, kita akan bersemangat kembali. Kita akan merasa bahwa ingin sekali melakukannya terus-menerus. Tapi Ya Gusti Allah Ilahi Rabbi, sungguhan deh aku nggak punya yang seperti itu. Aku tidak punya sesuatu yang constantly bisa membuatku duduk lama untuk melakukannya. Tidak punya sesuatu yang kurasa I am very good at this so I will never do this for free.
Jadi kalau aku bilang aku manusia tanpa passion, memangnya salah?

Good at Everything

“Miw tulisanmu kok bagus?”
Aku daridulu suka menulis puisi. Suka membuat rimanya sama dan isinya mengena. Setiap maju untuk baca puisi, aku suka sampai menangis–tapi ini mah karena aku orangnya memang terlalu perasa aja belum tentu arti puisinya se’dalam’ itu.
Aku merasa tulisanku sekedar tulisan anak piyik yang baru belajar dan–yaaa meski aku merasa tulisan yang kubuat memang punya beberapa ciri khas ala Miw–tapi tetap saja menurutku itu adalah jenis tulisan yang masih butuh perbaikan di sana-sini untuk menjadi tulisan yang layak terbit.
“Miw kamu kok bisa lettering sih belajar di mana?”
Basically, I do lettering because I simply love drawing. Dulu juga aku mah apa cuma bisa memasang wajah terkagum-kagum dengan calligraphy artist di Instagram–sampai sekarang juga masih begitu. Tapi aku senang melihat tulisan-tulisan yang unyu itu dan melihat proses mereka menulisnya, then karena itulah aku coba menirunya.
Sudah ahli? Belum sama sekali. Bahkan beberapa bulan terakhir aku jarang sekali benar-benar menyisihkan waktu untuk belajar dan meningkatkan skill-ku. Dan akhirnya ya begitu, stagnan di situ-situ saja.
“Miw bisa dapet ilmu parenting dari mana?”
Dari mana-mana. Pertama tertarik karena ikut kajiannya Ibu Elly Risman dan kemudian punya kesadaran bahwa ilmu ini sangatlah penting dipelajari dan diterapkan. Kemudian kalau ada yang sudah sukses kulakukan, maka penting pula untuk segera dibagikan. Karena negara ini ada di tangan generasi, bukan penguasa. Dan generasi dilahirkan dan dididik seorang ibu. Yang bila ibunya cerdas dan berakhlak, maka begitu pulalah anaknya kelak.
Tapi dibilang jago ilmu parenting? Duh huhuhu masih jauh–fakta yang pahit. Aku masih berulang kali belum bisa menahan emosi bahkan ke adikku sendiri 🙁
“Miw kok bisa pede ngomog di depan banyak orang?”
Karena Mama begitu. Ayah juga. Mama udah nggak kehitung lagi berapa kali jadi Master of Ceremony suatu acara. Bahkan suara Mama kalu sudah menjalani profesi itu akan merdu sekali sampai aku merasa Mamaku cocok sekali menjadi penyiar radio. Ayah, penceramah. Jadi sudah biasa banget kalau Ayah jadi orang yang ditunggu setiap acara keluarga untuk membuka, berdoa, dan memberi nasihat-nasihat. Padahal yang lebih tua ada, tapi yang lebih bisa hmmm sepertinya nggak.
Akhirnya mau tak mau, menolak tiada berguna, jadilah aku dengan kepedean tampil di depan, membicarakan banyak hal, membagi banyak hal, karena role model hamba siapa lagi kalau bukan orang tua.
Tapi sering banget aku merasa nggak siap sama materi yang bakal aku bawa. Nggak pede dan takut audience lebih mengerti apa yang akan kusampaikan dibandingkan aku sendiri. Jadi grogi selalu menjadi temanku.
“Miw kok bisa S2 di ITS? Dapet beasiswa? Kok pinter.”
Karena mendaftar hahaha–maaf guys I am not good at humor 🙁
Huhu jadi sesungguhnya aku tidaklah pernah merasa pintar tapi berulang kali merasa beruntung karena doa Ayah Mama selalu di-ijabah Allah. Sejak dulu sampai sekkarang aku seringkali merasa meskipun sudah banyak melakukan dosa dan beragam jenis maksiat, Allah masih baik hati membuatku tetap pada track yang lurus dalam membahagiakan orang tua yakni lewat jalan akademik.
Jadi bukan pintar, beruntung.
Tapi aku sendiri merasa memang Allah ini baik hati memberiku otak yang lebih mudah menyerap banyak hal lebih cepat dibandingkan orang lain. Keputusan-keputusan seperti pengambilan strategi belajar, media belajar, juga sangat diberi kemudahan oleh-Nya.
Jadi good at learn? Maybe.
“Ternyata kalau terpaksa kamu bisa ya mbak beresin rumah dan ngurus adek-adekmu.”
Ini beneran ucapan Mama setelah beliau ke Lombok untuk beberapa hari dan akulah kini ‘Mama’ di rumah. Kalau Mama adalah orang yang kalau-sekeluarga-pergi-dan-rumah-ditinggal-sama-beliau-pas-balik-pasti-udah-rapi, aku nggak meniru yang ini sepertinya. Aku cenderung melakukan bila sudah terpaksa. Membersihkan bila sudah waktunya. Dan ya itu tadi, waktunya adalah bila aku sudah merasa terpaksa.
Dan kalau terpaksa pun, memasak makanan untuk adik-adik, menyiapkan baju sekolah, membantu meengerjakan pekerjaan rumah, menyeterika, menyapu, mencuci baju, dan segala keperluan lainnya bisa banget aku lakukan. Tapi lagi-lagi nggak sekinclong hasil pekerjaan Mama. Tapi tandanya I am good at this too, right?

Not Literally Everything

Namun, meski begitu. Ada lho beberapa hal yang aku merasa benar-benar nggak bisa melakukannya. Jadi tidak bisa benar-benar dibilang everything. Dan semua ketidak bisaan itu mengarah pada satu pola yang sama. Kontinuitas.
“Mengapa ya aku sulit sekali berteman dalam waktu yang lama?”
Ini adalah hal yang baru kusadari sangat menginjak SMA. Aku bukanlah manusia serba bahagia. Bahkan sering menangis untuk urusan yang satu ini. Aku mudah berteman. Tapi menjadikannya abadi adalah persoalan lain. Aku merasa sulit bersilaturahim dengan mereka. Bingung akan membicarakan apa, boleh tidak ya menceritakan yang ini, akankah mereka merasa aku annoying? Adalah beberapa masalah yang timbul saat ingin menghubungi teman lama.
Jadi ya, aku susah percaya bahwa sahabat sejati itu ada 🙂
“Mengapa ya aku cepat bosan pas belajar merajut?”
Aku ingin belajar merajut karena merasa bahwa ini jenis kegiatan yang bisa dilakukan sembari melakukan kegiatan lain. Menonton tv sambil merajut, berbincang sambil merajut, murajaah sambil merajut. Menyenangkan sekali memiliki aktivitas yang tidak selalu membutuhkan 100% konsentrasi kita untuk melakukannya.
Tapi saat mempelajarinya, ya Allah kok susah banget 🙁
Susah karena kusadari aku tidak sabaran, cepat bosan dan sulit menerima bahwa memang untuk menjadi jago, kamu perlu waktu yang lama, Almira.
“Mengapa ya aku benci menulis karya ilmiah?”
Dahulu saat masih menyandang status mahasiswa baru, aku tidak pernah sedikitpun tertarik untuk menulis PKM alias karya ilmiah. Sebab aku tahu, pasti membutuhkan waktu yang cukup lama dalam menyusunnya. Dan aku tidak suka semua yang berbau terlalu lama.
Akibatnya hasil penelitian di luar skripsi milikku sama dengan nol. Dan untuk menyelesaikan skripsi demi menyandang gelar sarja saja, aku harus setengah mati melakukannya. Bagaimana lagi, aku harus lulus.

Never Reach Expert Level

Tapi, meskipun mengaku bahwa I am good at everything, seperti yang kalian lihat tetap saja I am not good at all at the same time. Jago semua tapi nggak jago-jago banget.
Salahkah? Entahlah. Hal ini juga yang justru sedang kucari jawabannya. Harusnya nggak, ya ‘kan? Harusnya good at everything is good. Masa jadi baik salah?
Tapi justru kenyataan pahit inilah yang membuatku juga agak sulit untuk menemukan misi hidupku. Mengapa sih aku harus lahir di dunia ini? Untuk jadi manusia yang berperan di bagian apa? Apa sih yang Allah mau aku lakukan semasa menjadi khalifah di bumi?
Jawabannya, belum tahu. Hu hu hu. Tapi tenanglah, aku pribadi merasa menjadi orang yang at least appear to be good at everything tidaklah sepenuhnya buruk. Meski orang-orang macam aku ini tidak pernah mencapai expert level tapi setidaknya kemampuan bunglon ini membuatku mudah dan banyak mempelajari hal-hal di dunia ini dengan mudah.
Jadi kalau merasa tidak spesial, jangan bersedih hati. Merasa ingin mempelajari cara menjadi orang seperti aku, juga ada kok.
Transfer Kekuatan
Aku seringkali merasa benar-benar tidak tahu jawaban suatu pertanyaan dalam ujian. Tapi aku tidak gentar. Kalau soal itu menanyakan A dan aku tidak benar-benar tahu tentang A, maka akan kucari kaitannya dengan B dimana B adalah topik yang lebih banyak kupelajari semalam.
Aku seringkali melakukan ini. Mengarahkan energi dan kekuatanku pada hal lain. Memecahkan masalah dengan pola yang sama. Meniru sepersis-persisnya sampai aku bisa, baru melakukan modifikasi. Dan aku rasa itu namanya transfer kekuatan. Dengan begitu aku bisa belajar lebih banyak dari hasil observasi dan coba-cobaku sendiri.
Ingin Tahu dan Ingin Belajar
Namun, lagi-lagi sebelum memilih untuk menekuni sesuatu, hal paling penting yang harus kita punya adalah niat. Itu mengapa Innama ‘a’malu binniyyat. Semua itu tergantung niatnya. Jadi kalau ingin belajar, kita harus merasa ingin tahu terus-menerus terhadap semua hal. Tidak takut mencoba dan tetap berusaha adalah salah satu kuncinya.
Aku juga masih susah kok. Bersama-sama saja ya 🙂
Putuskan
Nah, tapi skill di dunia ini yang bisa kita pelajari kan seabrek. Kalau aku lebih suka memikirkan bahwa is this skill worth the time and effort it takes to become really good at it?
Kalian juga harus bisa menemukan pertanyaan yang menjadi penentu apakah kalian benar-benar ingin belajar sesuatu dan tidak ingin mempelajari sesuatu. Aku sulit bersabar merajut dan menulis karya ilmiah mungkin karena deep inside my heart aku tidak merasa benar-benar ingin mempelajarinya. Akhirnya bagaimanapun juga aku akan melakukannya setengah-setengah.

There Must Be Reasons

Tenanglah, Almira. Meskipun aku tidak memiliki sesuatu yang membuatku merasa ahli di bidang tertentu, tapi aku tetap percaya bahwa pasti ada alasan aku terlahir ke dunia ini.
Mungkin saja agar orang-orang jauh lebih mudah belajar banyak hal dalam waktu singkat. Mungkin saja agar aku bisa bermanfaat di berbagai aspek. Entahlah, belum ketemu juga. Tapi jangan berhenti peka terhadap diri sendiri dan lingkungan. Mengapa kita yang ada di sini, saat ini berdiri di titik ini. Apa sebenarnya pesan yang ingin Allah sampaikan.
Yang penting selama memikirkan, tetap belajar dan belajar. Jangan berhenti dan pastikan niatnya benar–susah sekali lho berharap tidak dipuji itu.
Jadi, semangat mencari jawaban! *doakan punyaku juga cepat ketemu, ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.