Berhenti Menangis, Almira

Aku berhutang banyak sekali. Cerita indah mengenai malam di Alun-alun Kota Batu, semilir angin nostalgia yang berhembus kala menonton film Kulari ke Pantai, satu malam yang lain (lagi) sebagai bukti bahwa problematika hidup bukan hanya milikku seorang. Aku berhutang banyak sekali. Kapan-kapan aku bayar. Lunas. Setelah aku selesai menuliskan kekecewaan. Dan perasaan dikhianati. Lagi.

Aku sangat berusaha untuk menjadi bahagia. Sendiri. Tidak menggantungkannya pada orang lain. Setidaknya yang kali ini aku jauh lebih serius dibanding sebelum-sebelumnya. Aku merasa tidak adil padamu. Padaku. Pada banyak orang. Sebab aku selalu memilihmu dibandingkan mereka. Atau bahkan dibandingkan diriku sendiri. Kebahagiaanku adalah nomor terakhir dalam daftar prioritas. Dan karenanya aku cukup terengah-engah berusaha kemudian menantikan balasan yang sama. Bila itu kian lama tidak terjadi, aku merasa tak adil. Merasa perjuangan dan pengorbananku tak dihargai. Merasa aku korban. Padahal bukan. Padahal pemikiranku keliru.

Aku banyak menganalisis keadaan dengan mengarahkan telunjuk kepada diriku sendiri sebagai orang yang selalu bersalah dalam setiap masalah. Kamu begini, salahku kah? Kamu begitu, salahku kah? Kemudian aku tenggelam dalam ketidakpastian mengenai apa yang sebenarnya aku minta. Apa yang sebenarnya sedang aku butuhkan. Linglung. Kemudian bingung. Keduanya mengantarkanku pada keputusan untuk bersedih-sedih. Mengatakan dengan naif bahwa aku menikmatinya. Padahal entah. Mungkin aku sedang menyiksa diriku saja. Mungkin aku sedang se-putus asa itu untuk memberi makan egoku dengan mengharapkan orang lain akan datang mendekap erat dan mengatakan, “Berhenti menyalahkan diri sendiri.” Kemudian dengan tipikal aku yang macam ini akan dengan mudah membalasnya dengan, “Ah, andaisaja aku bisa, sudah kulakukan sejak dulu.”

Aku melakukan observasi atas setiap kata demi kata ucapanmu. Aku harus bahagia? Tanpamu bahkan? Apa aku bisa? Aku melewati dua hari yang sangat signifikan dalam mempelajari sebenarnya mengapa aku se-dependen ini terhadapmu. Terhadap orang-orang dekatku. Terhadap siapapun yang sudah kupercayai sebongkah tanggung jawab bernama ‘kebahagiaanku’. Rupanya, aku dibilang tidak cukup mencintai diri sendiri bila aku terus menempel denganmu. Aku tidak berhak menyalahkan orang lain atas kekacauan yang kubuat dalam hidupku sendiri. Aku tidak boleh bilang aku bersedih karena kamu membuatku sedih. Sebab katanya akulah yang menentukan apakah aku harus sedih atau bahagia. Apakah aku harus bangkit atau terpuruk. Tidak ada satupun yang memiliki kendali kontrol terhadapnya selain aku. Aku dituntut banyak berkegiatan selain denganmu. Aku dituntut memiliki hobi dan menjalaninya agar mood-ku meningkat. Aku pikir lagi, aku tidak punya. Maka aku menuliskan daftar semua kegiatan yang bisa kulakukan tanpamu. Kulakukan semuanya. Bosan. Kuganti kegiatannya. Bosan lagi. Kuberalih ke kegiatan selanjutnya. Hampir lima kali dalam sehari aku menonton channel psikologi mengenai self compassion, self esteem, how to love myself, how to think that I am enough. Malamku kuakhiri dengan berdiri di depan cermin. Sambil memeluk diri sendiri aku mengatakan,

“Almira, kamu baik, kamu cantik, kamu sudah melakukan apa yang kamu bisa. Yang terbaik yang kamu bisa lakukan. Dan itu cukup. Jangan sedih. Aku nggak mau kamu sedih. Almira, kamu hebat. Aku sayang sama kamu.”

Dua hari itu menjadi pelajaran yang berharga bahwa aku harus cukup mencintai diriku sendiri. Bukan untuk siapa-siapa. Bukan agar aku tak menyusahkanmu. Tapi untukku. Karena aku berhak karenanya. Karena aku berhak bahagia. Atas pilihanku sendiri. Dan terbukti di hari-hari setelahnya aku tak lagi ingin selalu 24/7 bersamamu. Aku rindu. Aku tak pernah berbohong soal itu. Tapi harus pulang ke rumah dengan segera aku tak sedih. Biasa saja. Kamu bertemu temanmu dalam waktu yang lama aku tak sedih. Biasa saja. Kamu meninggalkanku bermain sendiripun aku tak sedih. Biasa saja. Apabila dalam satu hari kita tak bertemu juga aku rasa tak akan sedih. Biasa saja. Tapi melihatmu melakukan hal yang menyakitiku–karena kamu memang menyakitiku, bukan karena hanya aku yang merasa disakiti–dua kali, aku tak bisa biasa saja. Aku sedih. Dan aku merasa dikhianati.

Kalau kamu memang ingin menyerah, sekarang saja. Kalau kamu memang ingin pergi, jangan tunggu nanti. Kalau kamu memang sudah tidak 100% memberikan kesungguhanmu dalam memilihku, aku rasa aku akan tidak mengenalimu. Aku jatuh hati, karena kamu memberi sepenuhnya. Tanpa tapi. Kamu membatasi seutuhnya. Dan aku berusaha melakukan hal yang sama. Aku jatuh hati, karena kamu menginginkanku sebesar aku menginginkanmu. Aku jatuh hati bukan tanpa alasan. Dan jelas alasanku bukan karena kamu mudah memberikan hatimu pada lain orang. Bukan karena kamu mudah memutuskan untuk menengok yang lain sementara aku sedang tidak ada di sana melihatmu. Kamu bilang kita akan saling menjaga. Kalau kamu lepas dari penjagaanku, apakah yang lain ini salahku juga?

Ah, mungkin aku yang menampik fakta bahwa laki-laki impianku memang fana. Mungkin aku yang tak cukup mencintai diriku sendiri sehingga memutuskan untuk mengalirkan sungai di bawah mataku malam itu. Mungkin aku yang lemah dan belum sepenuhnya mencintai diriku sendiri sampai membawa urusan ini dalam mimpiku tiga kali. Aku tidak merasa ini tak adil. Karena aku tidak ada niatan untuk balas dendam dan melakukan hal yang sama. Aku tidak ada niatan membuatmu bersedih. Apalagi merasa dikhianati. Aku belajar bahwa aku tak akan menemukan kepuasan apapun setelah melakukannya. Kesedihanmu bukan tujuanku. Dan tak akan pernah menjadi tujuanku. Tapi aku tidak bisa bohong bahwa aku kecewa. Aku tak bisa bohong bahwa aku tak menyangka kamu akan melakukannya. Lagi.

Aku masih belajar mencintai diriku sendiri. Aku masih belajar berbahagia atas kehendakku sendiri. Aku tak menyalahkanmu atas keputusanku untuk bersedih. Tapi mari menghargai perasaan orang lain. Terutama bila ia menyayangimu. Teramat menyayangimu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.