Bunda Sayang #6 Berharap Surga, Salahkah?

Aku waktu itu sedang berdiskusi dengan temanku tentang bolehkah kita berharap bisa masuk surga. Kalian tentu masih ingat bagaimana lagu besutan Chrisye sangat lekat diingatan kita dan justru membuat kita ikut bertanya, kira-kira apa jawaban kita?

Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau bersujud kepadaNya?

Pasalnya, aku adalah seorang yang meyakini bahwa segala punishment, reward, serta keinginan manusia untuk diapresiasi dan dihukum adalah fitrah yang Allah berikan. Maka, jika surga dan neraka tidak ada, bukan berarti aku tidak menyembah Allah, tapi aku yakin akan ada reward untuk setiap amal baik dan akan ada punishment untuk setiap amal buruk.

Sementara temanku, menjadikan ibadahnya sebagai bentuk perisai diri. Ia merasa cukup yakin saja dengan apa yang Allah akan berikan. Tidak meminta yang spesifik dalam doa-doanya karena Allah sudah Maha Spesifik terhadap segala tindak-tanduk yang terjadi pada makhlukNya.

Aku tidak menyalahkan pemikirannya. It is good for her. Malah, itu jenis tawakkal tingkat tinggi. Bukan sombong karena tidak meminta. Tapi tawakkal untuk apa yang ada di dalam hati meski tidak diucapkan. Tapi buatku, justru tidak bisa.

Aku tidak berubah pikiran. Aku rasa sah-sah saja ketika aku memberi minum nyamuk dengan sengaja, aku berharap dengan ini lah Allah akan ridho memberikan surga untukku. Hanya saja, syaratnya satu: aku cuma minta kepada Allah. Sah-sah saja bukan?

Begitu pula dengan ucapan apabila berdoa spesifik seakan-akan mendikte Allah. Hmm, bagiku, bukan begitu memposisikan diri di hadapan Allah. Aku minta spesifik kepadaNya karena aku tahu tidak ada yang lebih kuasa dibanding KuasaNya, tidak ada yang lebih bisa mengabulkan selain tangan-tanganNya. Maka tidak ada keraguan bagiku untuk meminta spesifik karena dengan itulah aku menyadari aku hambanya yang meminta, yang lemah, yang tidak memiliki apa-apa selain keinginan yang diungkapkan kepada Sang Khalik.

Sementara sisanya, kujadikan bagian dari tawakkal. Bila pun hasilnya tak sesuai yang kuinginkan, maka aku juga harus jadi berpasrah bahwa Allah juga Maha Mengetahui apa-apa yang baik buatku dan apa-apa yang tidak. Maka tak perlu aku gusar, tak perlu aku bersedih dan mengeluh: Ya Allah mengapa doaku tidak dikabulkan?! karena aku tahu, Allah sudah mengabulkannya, dengan apa yang lebih Ia ketahui.

Aku percaya, matematika Allah itu bekerja. Jauh melampaui batas kemampuan kalkulasi manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.