Akhirnya, Kepada Mas (Lagi)

Kepada suamiku yang sedang terlelap di kamar sebelah,

Lelahkah Mas kemarin? Aku juga. Tapi dini hari yang belum banyak dibumbui aroma hiruk-pikuk kehidupan rumah tangga kita ini tiba-tiba membuatku ingin bercerita lagi tentangmu. Karena aku tidak tahu harus menuliskannya di mana, jadi biarlah laman yang Mas hidupkan kembali ini menjadi hadiah kalau sewaktu-waktu engkau mengunjunginya kembali.

Aku sadar bahwa kemampuanku merangkai kata-kata menurun drastis seiring dengan berkurangnya intensitas membaca dan menelusuri gaya-gaya baru dalam berbahasa. Ah tapi mungkin itu alasanku saja yang selalu kehabisan waktu karena selalu diburu rasa bahagia yang lagi-lagi terlambat untuk aku tuliskan. Malam baru saja ingin kudedikasikan untuk menulis tentang bahagia yang kau beri pagi tadi, tapi di malam itu pula kau memberiku kebahagiaan baru yang terus menerus menjadi lingkaran hutang menulis tentangmu yang berkepanjangan.

Pagi—yang belum terlalu pagi—ini Adiba tidur dengan nyenyak di atas dadaku. Alhamdulillaah, entah mengapa aku yakin ada andil doa-doa Mas dalam kemudahanku beristirahat tadi malam. Terima kasih banyak sudah turut bangun saat Adiba kita menangis. Terima kasih untuk tidak menyalahkan aku yang ikut menghujani pipiku sendiri. Terima kasih karena telah hadir sebagai sosok suami dan bapak terbaik yang pernah aku saksikan.

Mas, meskipun selalu sudah tahu, aku ingin Mas mendengarnya sekali lagi setiap hari bahwa aku sangat bersyukur memilikimu. Allah sudah begitu baik menghadirkanmu yang bersama-sama merasakan indahnya kehidupan baru bersama bayi kecil bernama Adiba. Terima kasih untuk selalu mengupayakan yang terbaik untuk kami. Terima kasih untuk kalutnya isi kepalamu dengan rentetan pekerjaan yang tidak lain akan bermuara pada terpenuhinya kebutuhanku dan si bayi. Terima kasih untuk tidak mengeluh meski bertambahnya jam tidurmu tidak menandakan semakin tenang istirahatmu; bahkan justru sebaliknya.

Hari ini tidak ada perayaan apa-apa. Aku dan Mas yang sepakat tidak merayakan secara khusus hari-hari berulang seperti kelahiran, pernikahan, dan hari-hari lainnya, aku yakin tidak akan membuat apa yang aku tulis menjadi tidak lebih bermakna dibandingkan kalau aku menulisnya di hari-hari tertentu; apalagi yang kali ini sifatnya tiba-tiba saja.

Karena memang begitu, Mas. Tiba-tiba saja aku rindu padamu yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat aku berpijak. Terkadang aku rindu mengobrol lama dan berdiskusi panjang. Terkadang aku rindu menemanimu bekerja dan melihat raut keseriusanmu terhadap keluarga ini. Terkadang aku rindu menyiapkan baju dan peralatan shalat jumatmu. Terkadang aku rindu menyelesaikan hal-hal yang Mas suka: tv series, game, anime. Terkadang aku rindu memijatmu sampai Mas tertidur. Terkadang aku rindu pujianmu meski makanan yang kusiapkan sangat amat sederhana. Terkadang aku rindu memelukmu lebih lama lagi setiap harinya. Terkadang aku rindu berdua.

Tapi Mas, setiap kali aku melihat sorot matamu ketika menatap Adiba, setiap harinya aku ternyata juga rindu melihatmu menjadi sosok bapak yang kuyakini akan sangat membuat Adiba bangga dan dipenuhi rasa cinta. Karena memang begitulah adanya, Mas. Kami bangga memilikimu. Kami mencintaimu, Mas.

Jadi berbahagialah. Berbahagialah untuk amanah yang telah engkau mulai dengan langkah yang benar. Karena, Mas, nanti kalau ditanya tentangmu di akhirat, aku pasti kehabisan waktu memikirkan di mana kurangnya; karena lebihnya selalu terlalu berlebih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.