Celoteh Sesukaku

Akhir-akhir ini rasanya kepalaku penuh. Belum lagi ditambah rutinitas baru yang berubah 180° dari ibu-ibu pemalas sepertiku menjadi istri-yang-ingin-menyenangkan-hati-dan-perut-suaminya.

Mari flashback dulu ke beberapa waktu ke belakang. Kalau orang lain (mungkin) melihat betapa produktifnya aku, maka biar saja aku mengatakan fakta yang lain. Sudah hampir satu tahun jumlah aku masak bisa dihitung dengan jari. Merasa bersalah? Tentu. Tapi menjaga “kewarasan”ku untuk tidak bersedih saat masakanku gosong, keasinan, atau bahkan sudah-dibuat-susah-tapi-tetap-fail rasanya lebih menjadi prioritas.

Ah, Masyaa Allah, beruntungnya aku karena Mas tidak pernah menuntut macam-macam. Bahkan melapangkan dada seluas-luasnya. Mas tidak pernah bilang makanan buatanku buruk. Bahkan lebih sering aku yang menodong beliau untuk memberikan kritik dan mengaku kalau memang ada kesalahan. Tapi nyatanya tidak. Mas selalu bilang masakanku enak.

Wabah kali ini, entah mengapa, secara ajaib atas kehendak Allah membuat masakanku tidak pernah segagal sebelumnya. Bahkan cenderung berhasil. Aku berhasil meraih tingkatan tidak peduli kalau toh akhirnya Mas merasa kenyang dan tidak ingin menghabiskan masakanku. Akan kumakan sendiri. Saking cintanya sama hasil kerja keras tanganku. Yaaa, meskipun tentu tidak sesedap masakan orang lain.

Memasak jadi hal yang cukup menyenangkan bagiku. Belum. Belum sampai pada taraf “sangat”, tapi kurasa “cukup” sudah sangat Alhamdulillaah. Yang tidak menyenangkan adalah cuci piring wkwk. Memang, rasanya pikiran masih penuh dan tidak akan damai sebelum semua piring dan peralatan masak mengkilat. Buat apa perut kenyang tapi pikiran melayang-layang?

Ya buat disyukuri lah, Almira.

Sejujurnya, menulis bisa menjadi salah satu media menyalurkan emosi yang baik untukku. Tapi, akhir-akhir ini aku sedang ingin mengalihkannya ke aktivitas lain. Menonton drama korea. Hahaha. Kalau orang lain bilang “runtuh pertahanan”, selama ini aku tidak pernah menahan. Aku simply tidak tertarik. Lalu kucoba menonton satu. Yang mana semua orang sudah memperingatkan bahwa drama korea kali ini akan menguras emosi, membuat parno akan pernikahan, dan butuh kedewasaan mental dalam melihatnya.

Wkwk. Jangan bohong. Kalau pernah lihat drama korea yang unyu-unyu, kita pasti pernah berharap pasangan kita se’unyu’ di drama. Begitu pula kalau kita melihat kecurangan antar pasangan (dalam hal ini perselingkuhan) di drama korea, sangat besar kemungkinan kita akan mencurigai pasangan. Tapi, Mas sudah super unyu. Dan aku sudah percaya sepenuhnya pada Mas.

Mengatur perasaanku, emosiku, perilakuku, agar kami bisa bersama membangun keluarga di surga adalah tujuan utama. Entah apa yang kami lakukan, selama yang lain sudah mengingatkan, maka akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing. Maka rasanya, kedewasaan mental sudah satu step lebih baik kujajaki. Karena apa? Karena aku hidup dan tumbuh dengan kemudahan untuk memaafkan. Dan somehow, aku bangga akan hal itu. Alhamdulillaah.

Hal lain yang kini menjadi perhatianku adalah tentang investasi emas. Wkwk. Aku yang tidak suka menabung, tidak sering-sering amat bersedekah, dan cenderung tidak pro dalam mengatur keuangan, mau belajar investasi dan memutuskan untuk membeli logam mulia. Bahkan aku update grafik kenaikan dan penurunan setiap harinya, bergabung ke grup Telegram yang isinya buyer dan seller emas, menambah pengetahuan soal tabungan emas, pre order emas, atau bahkan skema ponzi dalam dunia jual beli emas. Menarik. Yang bikin tambah menarik adalah kekagumanku terhadap hal-hal sesederhana apapun yang Islam telah atur. Termasuk emas.

Pasti ada alasan Allah buat ketentuan-ketentuan dalam hidup ini. Hawa nafsu ada untuk diatur. Godaan ada untuk ujian mengatur hawa nafsu. Konsep sederhana yang banyak manusia lupa.

Wow. Kadang aku terkejut dengan langkah-langkah (yang menurutku) besar yang kutempuh dalam hidup. Seperti hal-hal yang aku kira tidak akan aku jamah sebelumnya. Memasak, menonton drama korea, memutuskan investasi emas. Padahal, aku lebih tertarik belajar menjahit, atau menerbitkan buku, atau membuat komunitas.

Hihi, tak apa. Karena sudah terlalu ‘terlambat’ menemukan misi hidup, jadi mari lakukan yang terbaik. Semoga Allah bantu aku meneguhkan iman. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.