Ayah, Aku Iri Pada Mereka

Mbak, kalau kita nggak bisa menyaingi seseorang dalam perkara dunia, jangan sampai kita juga sampai kalah dalam perkara akhirat. - Ayah, pada suatu malam penuh pertanyaan: mengapa aku lahir di keluarga ini? Tahan hasadmu, Almira. Tahan keinginanmu untuk mempertanyakan mengapa keluargamu yang harus diberi kondisi yang demikian. Tahan pikiranmu untuk tidak berpikir negatif pada apa … Continue reading Ayah, Aku Iri Pada Mereka

Keluarga Bahagia Keluarga Penuh Luka

Bapaknya sibuk menanggung malu Atau mungkin juga beberapa pilu Kini tak ada lagi nafkah untuk mereka Apabila tiada masjid yang memanggilnya Sementara lisannya kadang tak terjaga Terutama kalau sedang menonton bola Padahal si Tiga disampingnya Pergi tak bisa Mendengar tak kuasa Ah, Satu selalu ingin memindahkannya ke ruangan lain tiap situasi macam itu tiba Ibunya … Continue reading Keluarga Bahagia Keluarga Penuh Luka

Kemarin aku menangis karena hal yang tak kusangka akan kutangisi: aku merindukan rumah padahal kapanpun aku boleh saja kembali, aku merindukan keluarga padahal mereka selalu setia menanti kapan aku tak 'sibuk' lagi. Sementara saat menangisinya, aku sedang menyaksikan keluarga yang lain–berbahagia bersama dalam pandanganku yang belum menjadi bagian dari mereka.

Ceracau #19 Si Sulung yang Murung

Si sulung menangis. Tangannya yang gemetar memegang pensil itu dengan kuat, takut melakukan suatu kesalahan lagi yang berujung pada teriakan sang ayah apabila pensilnya jatuh barang sedetik saja. Sementara dadanya begitu sesak. Andai saja ia adalah tipikal anak yang mudah mengumpat, maka sudah ia lontarkan semua umpatan yang pernah ia tahu. Sayangnya ia bukan jenis … Continue reading Ceracau #19 Si Sulung yang Murung

Jangan, ibu. Jangan berteriak kepadaku. Bukannya malah aku mau. Diriku mendengus justru. Jangan, ibu. Jangan nodai kesabaranmu. Sekali-kali pujilah aku. Kalau aku sedang menurut padamu. Jangan, ibu. Aku tak mau melihatmu begitu. Lembutkan suaramu. Dan bubuhkan 'tolong' dalam perintahmu.

Ayah, hari ini aku bingung. Sebab aku tak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku. Tapi aku merasa hal ini terlalu tabu untuk kita perbincangkan. Ayah pernah bilang kalau ini memang sudah masanya. Tapi aku sendiri tidak sampai hati menyadari bahwa sebentar lagi laki-laki yang kutemui pagi hari bukan hanya Ayah. Ayah, tidak kah Ayah mengingat pertama kali … Continue reading

Satu-satunya Lelaki yang Harus Kamu Cemburui, Adalah Ayahku.

Sebab mana ada yang lebih romantis, "Yah, aku izin pulang malam, materiku dimajukan malam ini. Jadi aku minggu nggak jadi ngisi ntar, kosong seharian." "Ya, nanti kalau sudah mau pulang telpon ayah aja. Biar Ayah jemput." Padahal Aku Bawa Motor. Jadi selalu begitu, setiap aku izin pulang malam, Ayah pasti selalu memastikan putrinya aman. Caranya? … Continue reading Satu-satunya Lelaki yang Harus Kamu Cemburui, Adalah Ayahku.

Friday Thought

Melihat adik kecilku menangis, seperti melihat refleksi diri. Kecil. Ketakutan. I used to be in that position. Affraid of being the youngest. Never have a really close social circle. Yang akhirnya melahirkan sifat selalu ingin melayani orang lain-bahkan di atas keperluanku sendiri; sesulit apapun pengorbanannya. Dan itu... kadang menyakitkan. Tapi melihat seorang anak bahkan tidak … Continue reading Friday Thought

Ayah Ibu, Biarlah ananda istiqamah Agar mampu menjadi pengiring kelak menuju Jannah Agar semua ini nantinya bisa menjadi jalan dakwah Ayah Ibu, Tidak, ananda tidak ingin durhaka Hanya ingin menjadi sebaik-baik hambaNya Hanya ingin menjalankan sesuai perintahNya Ayah Ibu, Tidak, ananda tidak mengikuti aliran tertentu Ini hanya media meningkatkan iman melalui ilmu Ini hanya agar … Continue reading