Berhenti Menangis, Almira

Aku berhutang banyak sekali. Cerita indah mengenai malam di Alun-alun Kota Batu, semilir angin nostalgia yang berhembus kala menonton film Kulari ke Pantai, satu malam yang lain (lagi) sebagai bukti bahwa problematika hidup bukan hanya milikku seorang. Aku berhutang banyak sekali. Kapan-kapan aku bayar. Lunas. Setelah aku selesai menuliskan kekecewaan. Dan perasaan dikhianati. Lagi. Aku … Continue reading Berhenti Menangis, Almira

Aamiin

Sampai tidak tahu Apa yang sebenarnya tidak kutahu Sampai tidak tega Membiarkan menunggu begitu lama Bila saja harus berakhir Biar saja senyumku getir Semoga kamu bahagia Semoga kita bahagia Apalagi bila bersama Berdoa saja

Kamu Mau Puisi?

Aku... ...sampai bingung mulai dari mana harus menuliskannya Sejak layarku menunjukkan pesan kedatanganmu Atau sejak kita berdiskusi untuk pergi bersama adik-adikku? Apa lebih baik sejak kamu bicara bahwa kamu takut bertemu ayah? Hihi, sama, pun pertama kali bertemu ibumu aku teramat payah Hari ini... ...sangat menyenangkan Sekaligus menegangkan Bapak atau om, ibu atau tante, salim … Continue reading Kamu Mau Puisi?

Dua Puluh Empat Mei

Arfa melangkahkan kakinya keluar. Badannya melenggang ringan sambil memegang popok milik adik Aira yang baru saja mereka beli. Sementara Aira di sampingnya berjalan tidak kalah sumringahnya. ... Di akhir perjalanan malam ini, tepat setelah Arfa usai memakaian Aira helm–seperti biasanya, keduanya tersenyum. Kali ini adalah jenis senyuman yang kau tak akan pernah melihat sudut bibirnya–sebab … Continue reading Dua Puluh Empat Mei

Kira-kira apa yang membuat seorang perempuan sepertimu pada akhirnya menjatuhkan hatinya? Entahlah. Mungkin perasaan bahwa ternyata rasa suka bisa begitu sederhana. –Almira, pada sebuah malam temaram.

Bahagia itu sederhana. Sesederhana dipakaikan helm di depan Ibu dan Adik-adiknya. Malu, tapi senang. ><

Ceracau #18 Membiarkan Waktu Menyembuhkanmu

Ah, begini rupanya. Akibat lama tak bersiteru, akhirnya hari ini aku merasakan kembali apa itu rindu. Bukan. Ini bukan rindu seperti ingin bertemu dan berdua melulu. Ini adalah jenis rindu yang berbeda. Rindu yang sekedar ingin menyapa setelah badai menghantam kita berdua. – Aira memejamkan matanya. Ia tahu, hari ini ia membuat kesalahan besar dan … Continue reading Ceracau #18 Membiarkan Waktu Menyembuhkanmu