Ayah, Aku Iri Pada Mereka

Mbak, kalau kita nggak bisa menyaingi seseorang dalam perkara dunia, jangan sampai kita juga sampai kalah dalam perkara akhirat. - Ayah, pada suatu malam penuh pertanyaan: mengapa aku lahir di keluarga ini? Tahan hasadmu, Almira. Tahan keinginanmu untuk mempertanyakan mengapa keluargamu yang harus diberi kondisi yang demikian. Tahan pikiranmu untuk tidak berpikir negatif pada apa … Continue reading Ayah, Aku Iri Pada Mereka

Tolong Ingatkan

Allah, kalau aku sedang mengira masalahku adalah yang paling: berat; menyengsarakan; membuang banyak energi, materi, perasaan, pikiran, dan waktu; tolong ingatkan aku bahwa masalah bukan milikku saja. Tolong ingatkan aku bahwa di luar sana masih banyak hati yang lebih berduka. Tolong ingatkan aku bahwa aku perlu banyak mendengar dibanding bicara. Tolong ingatkan aku bahwa itu … Continue reading Tolong Ingatkan

Keluarga Bahagia Keluarga Penuh Luka

Bapaknya sibuk menanggung malu Atau mungkin juga beberapa pilu Kini tak ada lagi nafkah untuk mereka Apabila tiada masjid yang memanggilnya Sementara lisannya kadang tak terjaga Terutama kalau sedang menonton bola Padahal si Tiga disampingnya Pergi tak bisa Mendengar tak kuasa Ah, Satu selalu ingin memindahkannya ke ruangan lain tiap situasi macam itu tiba Ibunya … Continue reading Keluarga Bahagia Keluarga Penuh Luka

Berhenti Menangis, Almira

Aku berhutang banyak sekali. Cerita indah mengenai malam di Alun-alun Kota Batu, semilir angin nostalgia yang berhembus kala menonton film Kulari ke Pantai, satu malam yang lain (lagi) sebagai bukti bahwa problematika hidup bukan hanya milikku seorang. Aku berhutang banyak sekali. Kapan-kapan aku bayar. Lunas. Setelah aku selesai menuliskan kekecewaan. Dan perasaan dikhianati. Lagi. Aku … Continue reading Berhenti Menangis, Almira

Aamiin

Sampai tidak tahu Apa yang sebenarnya tidak kutahu Sampai tidak tega Membiarkan menunggu begitu lama Bila saja harus berakhir Biar saja senyumku getir Semoga kamu bahagia Semoga kita bahagia Apalagi bila bersama Berdoa saja

Kamu Mau Puisi?

Aku... ...sampai bingung mulai dari mana harus menuliskannya Sejak layarku menunjukkan pesan kedatanganmu Atau sejak kita berdiskusi untuk pergi bersama adik-adikku? Apa lebih baik sejak kamu bicara bahwa kamu takut bertemu ayah? Hihi, sama, pun pertama kali bertemu ibumu aku teramat payah Hari ini... ...sangat menyenangkan Sekaligus menegangkan Bapak atau om, ibu atau tante, salim … Continue reading Kamu Mau Puisi?

Ia adalah yang bingung setiap pukul sebelas datang Raganya ketakutan bila malam ini tidurnya tak lagi petang Biasanya diikuti jiwanya yang lelah tepat pada pukul satu Seakan menunggu sampai semua jemarinya menjelma kaku Mungkin memang perempuan ini ada untuk memastikan Bahwa hari sudah berganti seraya lelap manusia kelelahan Tapi mengapa ia tak dicipta Untuk menjaga … Continue reading

Bagaimana

Bagaimana bila akhirnya kemarin justru membangkitkan kebiasaan lama yang sudah lama dikubur dalam-dalam? Bagaimana bila pada akhirnya perempuan ini memang hobi menenggelamkan dirinya dalam euforia berlebihan tentang kesedihan? Bagaimana bila ia ketakutan? Dan bagaimana ia mengatasinya sendirian?